Selasa, 30 Januari 2018

DILAN, AGAMA ITU RINGAN TIDAK BERAT




ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Aisyah RA, Rasul SAW bersabda :
مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ
Tidaklah Rasul disuruh memilih di antara dua perkara, kecuali beliau memilih yang lebih mudah di antara keduanya, selama itu bukan dosa. Adapun jika itu adalah dosa, maka beliau adalah orang yang paling jauh darinya.” [HR Bukhari]

Catatan Alvers

“Rindu itu berat, kamu takkan kuat, biar aku saja!”. Itulah sepatah kata dari dilan, tokoh dalam novel dilan 1990 yang lagi booming di jagat maya yang diangkat ke layar lebar. Saya (Penulis) tidak melihat filmnya, tidak pula membaca novelnya, hanya saja penasaran dengan banyaknya meme yang banyak beredar di jagad media sosial. Penulis juga tidak menyarankan alvers untuk menontonnya karena novel itu adalah mengenai percintaan yang tidak ada manfaatnya.

Kata “berat” dari kutipan ucapan tersebut menjadi populer. Saya pikir ada baiknya saya jadikan judul odoh kali ini. Setiap membaca atau mendengar perkataan yang baru booming, insting ilmiah saya menuntut untuk mengaitkannya dengan pengetahuan yang saya miliki, utamanya hadits Nabi SAW. Akhirnya saya menulis edisi kali ini dengan judul di atas tanpa ada kaitannya sama dilan, Mohon dimaklumi.


Begitu mendengar kata “berat” maka apa yang ada dibenak kita?. Susah, sulit, repot, ogah mungkin itu adalah kata yang mewakili pikiran sebagian besar kita. Memang, Secara Naluri setiap orang menyukai yang mudah meskipun dalam tataran praktisnya banyak orang mempersulit hal yang sebenarnya mudah dengan berbagai alasan.

Allah swt yang menciptakan manusia menghendaki kemudahan. Allah swt berfirman :
يُريدُ الله بكُمُ اليُسْرَ وَلا يُريدُ بِكُمُ العُسْر
"Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian." [QS. Al-Baqarah :185]

Di dalam ayat yang lain, Allah swt menegaskan :
وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُم في الدِّين مِنْ حَرَجٍ
"Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan." [QS Al-Hajj: 78]

Allah swt juga berfirman :
مَا يُريدُ الله لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلكن يُريدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَةُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
"Allah tidak menghendaki kesulitan atas kalian, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur." [QS Al-Maidah: 6]

Kemudahan dan keringanan yang diberikan Allah swt ini tercermin dalam keringanan shalat ketika safar (bepergian). Rasul Saw bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلاَةِ
“Allah ‘azza wa jalla membebaskan dari musafir separuh shalatnya (Qashar).” [1]

Shalat seorang musafir yang dilakukan separohnya tidaklah mengurangi pahalanya sebab ini adalah kemurahan dan sedekah dari Allah swt. Rasul SAW bersabda :
صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللَّهُ بِهَا عَلَيْكُمْ فَاقْبَلُوا صَدَقَتَهُ
“Qashar shalat itu sedekah yang Allah berikan kepada kalian. Maka terimalah sedekah tersebut.” [2]

Maka tidak selayaknya seorang musafir memaksakan diri untuk shalat empat rekaat (sempurna). Allahpun senang jika hamba-Nya menerima keringanan tersebut. Rasul Saw bersabda:  
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ
Sesungguhnya Allah senang agar keringanan (Rukhshah) dilakukan sebagaimana Allah benci jika maksiat dilakukan [4]

Al-Munawi berkata : Mengambil keringanan tersebut justru akan menghindarkan seseorang dari sifat sombong tidak mau melakukan sesuatu yang diperbolehkan secara syariat. Barang siapa yang menyombongkan dirinya dari keringanan tersebut maka rusaklah agamanya. [5]

Rasul SAW sebagai utusan-Nya, menegaskan hal ini dengan sabdanya :
يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا
“Mudahkanlah dan jangan kalian mempersulit. Sampaikanlah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari.” [6]

Perintah beliau ini diikuti dengan perilaku beliau sebagaimana diriwayatkan dalam hadits utama di atas yaitu : Tidaklah Rasul disuruh memilih di antara dua perkara, kecuali beliau memilih yang lebih mudah di antara keduanya, selama itu bukan dosa. Adapun jika itu adalah dosa, maka beliau adalah orang yang paling jauh darinya.” [7]

Lantas bagaimanakah dengan statement populer “Al-Ajru Biqadrit ta’ab” (Besarnya Pahala itu sesuai dengan kepayahannya)?. Bukankah dengan statement tersebut orang dimotivasi untuk memilih yang lebih berat? Atau sabda Nabi kepada siti Aisyah mengenai umrahnya:
إن لك من الأجر على قدر نصبك ونفقتك
Sesungguhnya (besarnya) pahalamu sesuai kadar kepayahanmu dan biayamu. [8]
Atau hadits keutamaan berjalan kaki menuju masjid, yaitu perkataan Ubay bin Ka'ab : Ada seseorang yang menurut pengetahuan saya, tidak ada seorang pun yang rumahnya lebih jauh dari masjid, daripada orang itu. Dia tidak pernah ketinggalan satu shalat pun di masjid. Saya berkata; Sebaiknya kamu membeli seekor keledai untuk kamu tunggangi menuju masjid ketika gelap dan matahari terik. Maka orang itu berkata:
مَا يَسُرُّنِي أَنَّ مَنْزِلِي إِلَى جَنْبِ الْمَسْجِدِ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ يُكْتَبَ لِي مَمْشَايَ إِلَى الْمَسْجِدِ وَرُجُوعِي إِذَا رَجَعْتُ إِلَى أَهْلِي
Aku tidak ingin memiliki rumah di dekat masjid karena aku ingin supaya perjalanan kakiku menuju masjid dan kepulanganku kepada keluarga dicatat sebagai pahala.
Mendengar hal ini, Rasulullah SAW bersabda:
قَدْ جَمَعَ اللَّهُ لَكَ ذَلِكَ كُلَّهُ
"Sungguh Allah memberikan semua itu kepadamu." [9]

Begitu pula hadits mengenai berjalan kaki menuju shalat jum’at berikut:
مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا
Barangsiapa yang mandi dan berangkat pagi-pagi (awal waktu) lalu dia berjalan dan tidak naik kendaraan, lalu dia duduk mendekati imam dan mendengarkannya, dia tidak mengucapkan kalimat yang tidak ada manfaatnya maka setiap langkahnya (dicatat) sebagaimana pahala satu tahun baik puasanya maupun shalat malamnya. [10]

Begitu pula dengan hadits berjalan kaki ketika menuju shalat id [Lihat HR Turmudzi] dan ketika mengiringi jenazah Rasul melihat sekelompok orang yang naik kendaraan, maka Rasul SAW bersabda :
أَلَا تَسْتَحْيُونَ إِنَّ مَلَائِكَةَ اللَّهِ يمشون عَلَى أَقْدَامِهِمْ وَأَنْتُمْ ركبان
Tidakkah mereka merasa malu, Sesungguhnya para malaikat berjalan kaki sementara kalian menaiki kendaraan. [HR Ibnu Majah]
Meskipun menurut as-sanadi, hal ini berlaku hanya untuk jenazah orang yang shalih. [11]

Bukankah hadits keutamaan berjalan kaki dan tidak berkendara ini dan semisalnya bertentangan dengan prinsip kemudahan? Ya, tampaknya memang demikian namun menurut hemat penulis hal ini hanya berlaku untuk kasus-kasus tertentu yang memang ada anjurannya dari Rasul SAW. Jika tidak ada, maka tetap berlaku prinsip kemudahan di atas terlebih jika hal itu dapat memberatkan. Hal ini seperti kasus yang dialami oleh saudari Uqbah bin Amir. Ia bernadzar pergi haji dengan berjalan kaki. Mendengar hal ini maka beliau bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنْ نَذْرِهَا مُرْهَا فَلْتَرْكَبْ
Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan nadzarnya, perintahkan kepadanya untuk (berhaji dengan) naik kendaraan. [12]

Keutamaan berjalan sebagaimana di atas itupun masih ada pengecualiannya yaitu jika ada udzur. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar Al-Haitami :
ويشبه أن يكون الركوب أفضل لمن يجهده المشي لهرم أو ضعف أو بعد منزله بحيث يمنعه ما يناله من التعب الخشوع والحضور في الصلاة عاجلاً.
Sepertinya naik kendaraan itu lebih afdhal bagi orang yang kesulitan berjalan kaki karena semisal tua, lemah atau rumah jauh sehingga berjalan kaki membuatnya capek dan akan mengganggu kekhusu’annya ketika shalat. [13] Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari menjadikan kita sebagai orang yang dianugeri kemudahan dalam setiap urusan dan memudahkan urusan orang lain.

Salam Satu Hadits,
DR.H.Fathul Bari. SS., M.Ag
Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jawa Timur Indonesia

Artikel di atas bisa anda dapatkan versi bukunya dalam
BUKU ONE DAY ONE HADITH
sistem SPA (Singkat, Padat, Akurat). SINGKAT karena  Didesain sekali duduk bisa selesai baca satu judul ::PADAT karena  Tidak bertele-tele dan  AKURAT karena disertai referensinya

ONE DAY#1 *INDAHNYA HIDUP BERSAMA RASUL SAW* ISBN : 9786027404434
ONE DAY#2 *MOTIVASI BAHAGIA DARI RASUL SAW* ISBN : 9786026037909
ONE DAY#3 *TAMAN INDAH MUSTHAFA SAW* ISBN : 9786026037923
(Pre Order) ONE DAY#4 *TAFAKKUR ZAMAN NOW*, ISBN: 978-602-60379-5-4
Bisa dapat harga promo dan kirim via tiki/JNE silahkan hub. Ust. Muadz 08121674-2626

0 komentar:

Posting Komentar