Sabtu, 14 Juli 2018

THE POWER OF QANA’AH



ONE DAY ONE HADITH

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash RA, Rasulullah SAW bersabda:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
“Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah mengaruniakannya sifat qana’ah (merasa puas) dengan apa yang Allah berikan kepadanya.” [HR. Muslim]

Catatan Alvers

Memiliki sebuah mobil mewah, Mercedes benz New Eyes  Kompresor E200 tidaklah membuat seorang tukang bubur merasa bahagia karena obsesi dalam hidupnya adalah menghajikan orangtuanya. Mobil itu ia dapatkan dari hadiah tabungan haji sebesar 5 juta rupiah dengan pajak yang dibantu oleh seorang dermawan dari unissula semarang. Namun tatkala tukang bubur mengetahui bahwa nilai sebuah mobil -yang saat itu seharga 720 Juta Rupiah- itu bisa menghajikan orang tuanya bahkan menghajikan belasan orang saudaranya maka barulah dia sangat bahagia. [Syafaat R Selamet, Sudah Benarkah Ibadahmu?, Mizania]


Kisah nyata di atas kemudian diangkat ke layar televisi dalam bentuk sinetron dengan judul tukang bubur naik haji. Kisah ini menegaskan bahwa kebahagiaan tidak melulu karena faktor materi. Tukang bubur tadi tidak merasa nyaman naik mobil mercy dengan hembusan dingin ac karena ia sama sekali tidak bermimpi menaikinya dan iapun lebih merasa nyaman dengan terpaan angin sepoi-sepoi disepanjang jalan yang ia lalui untuk menjajakan buburnya.


Maka keberuntungan bukanlah monopoli kaum “the have” orang kaya karena kaya yang mendatangkan kebahagiaan dan keberuntungan bukanlah kaya materi akan tetapi kaya hati. Kaya hati itulah qanaah, sikap menerima apa yang dimiliki dan merasa puas dengan apa yang Allah berikan kepadanya sebagaimana keterangan hadits utama di atas. Hal ini didasari pendapat ulama mengenai firman Allah SWT :
وَوَجَدَكَ عَائِلًا فأغنى
“Dan Dia menjumpaimu dalam keadaan tidak memiliki sesuatu apapun, kemudian Dia memberi kekayaan (kecukupan) kepadamu” [Adh-Dhuha: 8].
Pada ayat tersebut, ada ulama yang menafsirkan bahwa kekayaan yang dimaksud adalah kekayaan hati, karena ayat ini termasuk ayat Makkiyah (diturunkan sebelum nabi hijrah ke Madinah). Dan sudah dimaklumi bahwa sebelum perang khaibar, nabi tidak memiliki harta yang banyak. [Fathul Bari]

Rasulullah SAW pernah bertanya: “Wahai Abu Dzar apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itu adalah kekakayaan sebenarnya?” Abu Dzar RA menjawab, “Iya, wahai rasulullah.” Beliau kembali bertanya, “Dan apakah engkau beranggapan bahwa kefakiran itu adalah dengan sedikitnya harta?” Abu Dzar RA menjawab, “Benar, wahai rasulullah.” Beliau pun menyatakan,
ليس كذلك إنما الغنى غنى القلب والفقر فقر القلب
Bukanlah demikian, sesungguhnya kekayaan itu adalah kaya hati dan kefakiran itu adalah fakir hati” [HR. An-Nasa’i]
Dengan kata lain, kekayaan sejati itu ditentukan oleh kualitas hati bukan kuantitas materi. Dalam hadits yang lain Nabi SAW bersabda :
لَيْسَ الغِنَى عَنْ كَثْرَةِ العَرَضِ وَلَكِنَّ الغِنَى غِنَى النَّفْسِ
Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan dalam hati [HR. Bukhari]
Pada tataran praktis memanglah demikian, orang tidaklah merasa kaya (cukup) dengan apa yang dimilikinya. Lihatlah para koruptor yang tertangkap tangan oleh KPK! Apakah mereka orang melarat? Apakah mereka orang yang kelaparan? Bukankah mereka sudah memiliki aset milyaran? Namun mengapa masih korupsi, mengambil harta negara? Ya, itu semua karena mereka merasa miskin dalam hati meskipun memiliki materi yang melimpah dan harta yang melimpah yang dimilikinya tidaklah memenuhi keinginan hatinya.

Orang bijak mengatakan : Jutaan daun yang jatuh di atas tanah tidaklah dapat menutupi dunia namun selebar daun yang menutupi mata akan membuat seluruh dunia ini tertutup dari pandangan seseorang. Apa yang ada di bumi ini bisa memenuhi kebutuhan semua orang namun Apa yang ada di bumi ini tidak bisa memenuhi keinginan satu orang. Baginda Nabi Saw bersabda :
لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى ثَالِثًا وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
Jika seseorang memiliki dua lembah harta niscaya dia akan mencari lembah yang ketiga dan tidak akan bisa memenuhi perut seseorang melainkan tanah dan Allah akan menerima orang yang bertaubat [HR Bukhari]

Orang yang qana’ah bisa menerima dengan senang hati dan merasa bahagia dengan harta yang sedikit karena ia menjadikan dunia hanya sebagai perantara saja bukan tujuan dalam hidupnya. Maka nilai harta dunia itu amatlah kecil dalam hatinya, dan memanglah demikian adanya karena Nabi SAW bersabda :
مَا الدُّنْيَا فِيْ اْلاَخِرَةِ إلاَّ كَمِثْلِ مَا يَجْعَلُ أحَدُكُمْ إصْبَعَهُ فِيْ الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ
“Dunia ini dibanding akhirat tiada lain hanyalah seperti jika seseorang di antara kalian mencelupkan jarinya ke lautan, maka hendaklah dia melihat air yang menempel di jarinya setelah dia menariknya kembali. [HR Muslim]
Orang yang qana’ah akan hidup bahagia tidak menunggu dia menjadi pejabat atau milioner, cukup dia merasa aman dan memiliki makanan serta kesehatan maka ia hidup layaknya seorang raja pada pandangan manusia. Nabi SAW bersabda :
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di lingkungannya (pada diri dan keluarganya) diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” [HR. Tirmidzi]

Dan tips supaya kita bisa qana’ah adalah dengan selalu “menundukkan kepala”. Rasulullah SAW bersabda :
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ
Pandanglah orang yang (strata sosila dan ekonominya) berada di bawahmu dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu. [HR Muslim]. Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati kita semua untuk menerima apa yang ada pada diri kita dan apa yang kita miliki sehingga kita menjadi orang yang bahagia lagi beruntung di dunia dan akhirat.

Salam Satu Hadits
DR.H.Fathul Bari Alvers

Pesantren Wisata
AN-NUR AL-MURTADLO
Bululawang Malang Jatim


0 komentar:

Posting Komentar