Rabu, 01 Agustus 2018

GEMUK ITU DOSA?



ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Imran bin Hushain RA, Rasulullah SAW bersabda :
خَيْرُكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ  إِنَّ بَعْدَكُمْ قَوْمًا يَخُونُونَ وَلاَ يُؤْتَمَنُونَ وَيَشْهَدُونَ وَلاَ يُسْتَشْهَدُونَ وَيَنْذِرُونَ وَلاَ يَفُونَ وَيَظْهَرُ فِيهِمُ السِّمَنُ
Generasi terbaik adalah generasi di zamanku, kemudian masa setelahnya, kemudian generasi setelahnya. Sesungguhnya pada masa yang akan datang ada kaum yang suka berkhianat dan tidak bisa dipercaya, mereka bersaksi sebelum diminta kesaksiaannya, bernazar tapi tidak melaksanakannya, dan nampak pada mereka kegemukan”. [HR Bukhari]

CATATAN ALVERS

Memiliki kelebihan adalah keinginan setiap orang namun tidak kelebihan pada yang satu ini karena terkadang justru merepotkan. Kelebihan apakah itu? Ya, kelebihan berat badan karena itulah banyak diantara mereka menjadi stress kalau terlihat gemuk. Ada seorang lelaki menikah lagi karena melihat istrinya sudah tidak terlihat seperti dahulu karena ia gemuk dan ada seorang wanita selingkuh karena suaminya kelebihan berat badan.


Terus apakah ada yang salah dari gemuk? Apakah gemuk itu aib atau dosa sehingga membuat seseorang berpaling darinya? Naifnya lagi orang yang salah paham berkata bahwa orang gemuk itu tidak bisa dipercaya dengan berdalih hadits shahih di atas. Ditambah lagi dengan kisah dimana Nabi SAW melihat orang yang besar perutnya (adzimal bathn) kemudian sambil menunjuk perut orang tersebut beliau bersabda :
لَوْ كَانَ هَذَا فِي غَيْرِ هَذَا لَكَانَ خَيْرًا لَكَ
Andai ini tidak di sini, niscaya itu lebih baik bagimu. [HR Thabrani]

Menjawab hal ini maka perlu diketahui terlebih dahulu faktor yang menjadi sebab dan akibat dari kelebihan badan (gemuk). Dan perlu juga diketahui apakah semua orang yang gemuk itu tidak berkelakuan baik?. Coba lihat kesaksian Imam Syafi’i yang berkata :
ما رأيت سميناً أخف روحاً من محمد بن الحسن  وما رأيت أفصح منه. كنت إذا رأيته يقرأ كأن القرآن نزل بلغته
Tidak pernah aku temukan orang yang gemuk namun lebih ringan ruhnya dari Muhammad bin Hasan (As-Syaibany, Gurunya as-Syafi’i). Tidak ada yang lebih fasih darinya. Ketika aku melihatnya membaca al-Qur’an seakan-akan al-qur’an itu turun dengan lughat-nya. [Imam Nawawi, Tahdzibul Asma’]

Ternyata tidak semua orang gemuk itu jelek, namun orang yang gemuk jangan gembira dahulu karena imam syafi’i memberi alasan dari statementnya:
لأنه لا يعدو العاقل من إحدى حالتين. إما أن يهتم لآخرته ومعاده. أو لدنياه ومعاشه. والشحم مع الهم لا ينعقد. فإذا خلا من المعنيين صار في حد البهائم فينعقد الشحم
Karena seorang yang berakal itu tidak lepas dari dua hal; (1) sibuk memikirkan urusan akhiratnya atau (2) sibuk memikirkan urusan dunianya. Dan kegemukan akan tidak terjadi jika banyak pikiran. Jika seseorang tidak memikirkan akhiratnya atau dunianya berarti dia sama saja dengan hewan, jadilah gemuk. [Maqashid Hasanah]

Nah loh, Alasan ini seakan akan menjadi pembenaran bahwa gemuk itu “dosa”. Namun anda yang gemuk jangan berkecil hati dulu. Sebab ada alasan lain ketika orang menjadi gemuk. Ketika
syeikh waki’ bin jarrah ulama kufah yang paling fakih dan alim hadits, mengunjungi Makkah dan kala itu beliau gemuk, Fudhail bin Iyadh bertanya,”Bagaimana anda bisa gemuk, sedangkan anda adalah “rahib” Irak?”. Waki’ pun memberikan jawaban yang menjadikan penanya terdiam seribu bahasa :

هذا من فرحي بالاسلام
”Ini semua karena saya sangat bahagia dengan Islam. [Siyar A’lamin Nubala]

Jadi dari alasan ini diketahui bahwa gemuk atau kurus bukan memlulu faktor makanan tapi juga pikiran. Imam Syafi’i mengisahkan : dahulu terdapat seorang raja yang sangat gemuk dan ia berkeinginan untuk mengurangi berat badannya namun ia tidak bisa menurunkan berat badan walau sudah banyak dokter dikumpulkan.  Akhirnya sang raja meminta bantuan orang pintar. Orang pintar berkata : “Aku melihat bahwa umur raja tersisa satu bulan. Tahanlah aku dan jika perkataanku salah maka hukumlah aku dan jika benar maka bebaskanlah aku”.  Mendengar hal ini, raja menutup diri termenung dan susah hingga membuatnya kurus seiring berlalunya waktu. Setelah 28 hari berlalu raja memanggilnya dan bertanya mengenai apa yang ia lihat pada diri raja. Orang pintar itu berkata : “Aku sebenarnya tidaklah mengetahui umurku sendiri apalagi umur raja.
إنه لم يكن عندي دواء إلا الغم، فلم أقدر أن أجلب إليك الغم إلا بهذه الحيلة
Aku tidak menemukan obat (untuk menjadikan berat badan raja berkurang) melainkan faktor pikiran (susah) dan tiada hal yang bisa menyusahkan raja kecuali rekasaya yang saya lakukan”. Mendengar hal ini sang rajapun memberinya hadiah. [Al-Maqashid Al-Hasanah]

Maka Al-Qurtubi menjelaskan hadits utama di atas bahwa sebab tercelanya gemuk yang bukan bawaan yang penyebabnya adalah banyak makan, minum, santai, foya-foya, selalu tenang, dan melampiaskan hawa nafsu. Ia adalah hamba nafsunya sendiri dan bukan hamba bagi Tuhannya, orang yang hidupnya seperti ini pasti akan terjerumus kepada perkara yang haram. Hal ini seperti gaya hidup orang kafir. [Al-Jami Li Ahkamil Qur’an] Allah SWT berfirman,
وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ
“Orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.” [QS Muhammad:12]

Maka tidak semua gemuk itu “dosa” dan tercela. Aisyah RA menceritakan :
أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُوتِرُ بِتِسْعِ رَكَعَاتٍ فَلَمَّا بَدَّنَ وَلَحُمَ صَلَّى سَبْعَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ
Bahwa Nabi SAW melakukan witir 9 rakaat, setelah beliau mulai gemuk dan berdaging, beliau shalat 7 rakaat. Kemudian shalat 2 rakaat sambil duduk. [HR. Ahmad] Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari menjadikan kita sebagai orang yang bertaqwa nan ahli beribadah baik dalam keadaan badan kurus maupun gemuk.

SAlam SAtu HAdith,
DR H Fathul Bari SS M.Ag

0 komentar:

Posting Komentar