Senin, 08 Oktober 2018

BOHONG ITU DOSA (REV)

ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Abi Wa’il dari Abdillah RA , Rasul saw bersabda : “Sesungguhnya kejujuran akan menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan menghantarkan kepada surga. Seseorang yang berbuat jujur oleh Allah akan dicatat sebagai orang yang jujur”. Selanjutnya beliau bersabda :
وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا
Dan sesungguhnya bohong itu akan menunjukkan kepada kelaliman, dan kelaliman itu akan menghantarkan ke arah neraka. Seseorang yang terus menerus berbuat bohong akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong.” [HR Bukhari – Muslim]

Catatan Alvers

Bohong adalah penyakit mental yang menghinggapi kebanyakan manusia di segala zaman. Bohong itu ditimbulkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah lemah jiwa dan mental, senang pujian, gengsi, bercanda yang berlebihan, rasa iri - dengki, dan lingkungan yang buruk. Disebutkan dalam Fathul Bari, kebohongan itu berlaku dalam perkataan, baik itu pada perkara yang telah lampau, akan datang, atau berupa sebuah janji. Dinamakan bohong karena ucapannya menyelisihi apa yang ada di dalam hatinya. Bohong adalah penyebab utama bagi timbulnya segala macam bentuk kejelekan dan kerendahan betapa tidak, Seseorang apabila berbohong maka dia akan membuat kebohongan baru untuk menutupi kebohongan yang pertama. Begitulah seterusnya. Namun demikian pepatah mengatakan “sepandai-pandai orang menyimpan mayat akhirnya tercium juga baunya”. Dalam sebuah ungkapan arab disebutkan bahwa “tali” kebohongan itu pendek meskipun panjang. Artinya kebohongan itu suatu saat pastilah terbongkar. Inilah yang harus disadari oleh setiap kita sehingga kita terhindar dari kebohongan.


Bohong itu mendatangkan kerugian yang lebih besar jika terjadi dalam suatu sengketa atau kasus maka berbohong di ruang sidang akan mendapat ancaman pidana. Pasal 242 ayat (1) KUHP mengancam hukuman tujuh tahun bagi siapapun dengan sengaja memberi keterangan palsu di atas sumpah, baik lisan maupun tertulis, secara pribadi maupun oleh kuasanya yang ditunjuk untuk itu.

Dalam ajaran Islam, Larangan untuk berbohong berlaku tidak kenal tanggal dan bulan dan berlaku dimanapun. Hal ini berbeda dengan tradisi orang barat, mereka membuat perkecualian yang dikenal dengan April Mop, atau disebut juga dengan April Fools' Day. Setiap tanggal 1 April setiap tahunnya, orang boleh berbohong atau memberi lelucon kepada orang lain tanpa dianggap bersalah. April mop ini mendatangkan bencana sebut misalnya di hawai pada tanggal 1 April 1946, gempa bumi disertai tsunami menewaskan 165 orang. Masyarakat tidak mempercayai berita dan peringatan akan terjadinya tsunami saat itu karena dianggap sebagai bagian dari april mop (kebohongan di bulan april). Begitu pula saat peluncuran Gmail pada April 2004 oleh Google juga awalnya dianggap lelucon April Mop. Seorang penulis yang di deadline mengirim artikelnya ternyata tak mendapat balasan apa pun dari bosnya karena tulisan tersebut dikira bohong (april mop). Ada juga seseorang yang sedang menunggu hasil wawancara dengan sebuah perusahaan dan ia gagal diterima karena isi curiculum vitaenya dikira bohong alias palsu.

Dalam ajaran islam, terdapat dispensasi atas kebohongan dalam tiga perkara. Hal ini dikarenakan tidak merugikan bahkan menguntungkan orang lain. Ibnu Shihab berkata :
وَلَمْ أَسْمَعْ يُرَخَّصُ فِي شَيْءٍ مِمَّا يَقُولُ النَّاسُ كَذِبٌ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ الْحَرْبُ وَالْإِصْلَاحُ بَيْنَ النَّاسِ وَحَدِيثُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَحَدِيثُ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا
 “Belum pernah aku dengar, kalimat (bohong) yang diberi keringanan untuk diucapkan manusia selain dalam 3 hal: Ketika perang, dalam rangka mendamaikan pertikaian antar-sesama, dan suami berbohong kepada istrinya atau istri berbohong pada suaminya ” [HR. Muslim]

Diperbolehkan bohong ketika perang maksudnya seperti pura-pura menampakkan kekuatan atau menipu musuh dengan strategi perang dst. bukan dengan mengkhianati perjanjian. Adapun berbohong antar-suami istri adalah berbohong dalam rangka menampakkan rasa cinta, menggombal, dengan tujuan kasih sayang dan ketenangan keluarga bukan untuk mengambil hak pasangannya atau lari dari tanggung jawab. Al-Hafidz ibnu hajar mengatakan:
واتفقوا على أن المراد بالكذب في حق المرأة والرجل إنما هو فيما لا يسقط حقا عليه أو عليها أو أخذ ما ليس له أو لها
“Ulama sepakat bahwa yang dimaksud bohong antar-suami istri adalah bohong yang tidak menggugurkan kewajiban atau mengambil sesuatu yang bukan haknya.” [Fathul Bari]

Diketahui dari perkecualian tersebut, bahwa bercanca tidak masuk perkara yang dikecualikan sehingga berbohong tetap tidak diperbolehkan walaupun untuk bercanda dan sekedar membuat orang tertawa. Rasul SAW bersabda :
ويل للذي يحدث فيكذب ليضحك به القوم، ويل له ثم ويل له
“Celakalah orang yang berbicara yang mana ia berbohong untuk membuat orang-orang tertawa, celakalah dia, celakalah dia.” [HR. Abu Dawud]

Lantas bagaimana dengan mereka yang berprofesi sebagai pelawak? Menjawab hal ini ibnu hajar menuqil perkataan imam Ghazali :
من الغلط أن يتخذ المزاح حرفة ويتمسك بأنه صلى الله عليه وسلّم مزح فهو كمن يدور مع الريح حيث دار
Termasuk kesalahan adalah menjadikan lawakan sebagai pekerjaan dengan berpedoman bawasanya Rasulullah juga bergurau, maka ia seperti berputar beseta angin dipusarannya. [Fathul Bari]

Mengapa demikian? karena Rasul tidak pernah berbohong walau ketika bercanda sekalipun mengingat hal itu akan mengikis keimanan seseorang. Beliau bersabda :
لا يؤمن العبد الإيمان كله حتى يترك الكذب في المزاح، والمراء وإن كان صادقا.
 “Seorang hamba tidaklah beriman dengan sempurna sehingga ia bisa meninggalkan berkata bohong saat bercanda dan meninggalkan debat walau ia benar.” [HR. Ahmad]

Sabda Nabi ini menegaskan bahwa bohong itu sama sekali tidak patut dilakukan oleh orang yang beriman karena Allah swt berfirman:
إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللّهِ وَأُوْلـئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ
“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta” [QS An-Nahl : 105] Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari melindungi kita dari berbohong dan menjadi korban kebohongan orang lain dan semoga kita semua dijadikan-Nya sebagai orang-orang yang jujur lagi mujur.

Salam Satu Hadits,
DR.H.Fathul Bari M.Ag

0 komentar:

Posting Komentar