Minggu, 28 Oktober 2018

KEBENARAN SUBJEKTIF



ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Amr Bin Auf RA, Rasulullah SAW bersabda:
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. [HR Malik]

Catatan Alvers

Hujat menghujat menjadi budaya baru yang tak terelakkan utamanya di dunia medsos belakangan ini. Seakan akan seseorang tidak bisa masuk surga kalau belum menghujat kubu-kubu yang berseberangan dengan kelompoknya bahkan ketika presiden melarang rakyatnya saling menghujat, pidatonyapun dibuat olok-olokan mereka .


Mungkin banyaknya perselisihan inilah yang dimaksud oleh Nabi SAW dalam sabda beliau :
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا
Aku wasiatkan kepada kamu untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada pemimpin), walaupun (pemimpin tersebut) seorang budak Habasyi. Karena sesungguhnya, barangsiapa hidup setelahku, ia akan melihat perselisihan yang banyak. [HR Abu Dawud]

Bahkan ketika mereka diingatkan dengan ayat dan hadits yang melarang untuk menghujat kelompok lain, mereka dengan pongahnya memperolok orang yang mengingatkannya bahkan tak jarang ayat dan haditsnya juga menjadi sasaran hujatannya.

Ini semua akibat kebenaran subjektif, kebenaran yang berlandaskan perspektif masing-masing pemilik akun. Kebenaran subjektif ini pula yang menyebabkan orang yahudi dan nasrani sama-sama bersikeras merasa paling benar. Orang yahudi mengatakan bahwa Nabi Ibrahim beragama yahudi dan sebaliknya orang nasrani mengatakan bahwa Nabi ibrahim beragama nasrani.
يَاأَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تُحَاجُّونَ فِي إِبْرَاهِيمَ وَمَا أُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ إِلَّا مِنْ بَعْدِهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim (dengan jarak yang lama). Apakah kamu tidak berpikir (akan kesalahan pendapatmu) ? [QS Ali Imran : 65]

Dalam Ayat selanjutnya Allah menegur keduanya : “Beginilah kamu, kamu ini (semestinya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui (yaitu tentang Nabi Musa, Isa dan Muhammad SAW) maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui (yaitu tentang Nabi Ibrahim AS)? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”. [QS Ali Imran : 65]

Orang Yahudi dan Nasrani juga menuduh bahwa orang Islam itu fanatik yang keterlaluan. Bagaimana tidak, orang islam membolehkan diri mereka untuk menikahi wanita ahli al-kitab  (Yahudi Nasrani) tapi tidak membolehkan Orang Yahudi dan Nasrani menikahi putri-putri orang islam.

Menjawab tuduhan ini, Imam Abu Bakar Al-Baqilani berkata: “Kami menikahi wanita Yahudi karena kami beriman pada Nabi Musa. Kami menikahi wanita Nasrani karena kami beriman pada Nabi Isa. Dan kalian jika suatu saat beriman pada Nabi Muhammad; kami pun akan menikahkan kalian dengan putri-putri kami”.

Yahudi dan nasrani memperolok golongan lain di antara mereka dan agama islam bahkan Nabi Muhammad SAW menjadi sasaran olok-olokan mereka. Menurut mereka bagaimana bisa seorang Nabi yang berperang bisa mengalami kekalahan? Padahal menurut Imam Al-Baqilani sebenarnya mereka sendiri telah memperolok-olok tuhannya. “Adakah juga seorang Tuhan tapi disalib ?!. Imam Al-Baqilani berusaha menyadarkan mereka : “Allahu akbar! Kalian menyucikan para pendeta kalian dari menikah dan berketurunan, kemudian menuduh tuhan kalian telah menikah dengan Maryam dan berkuturunan Isa?!” [Tarikh Baghdad]

Seperti itulah kiranya gambaran orang yang memperolok-olok orang lain, ternyata pada hakikatnya ia sedang memperolok-olok dirinya sendiri dengan perilaku tidak terpujinya. Supaya tidak menambah carut marut suatu urusan hendaklah kita tahan nafsu untuk komen. Sayyidina Ali KW berkata :
لو سكت الجاهل ما اختلف الناس
Seandainya orang bodoh (tidak mengerti masalah yang sesungguhnya) itu diam niscaya tidak ada perselisihan di antara manusia [Kasyful Ghummah]

Dan selanjutnya waspadailah kebenaran subjektif yang menjadi sumber saling menghujat dengan kembali kepada dua perkara yang ditinggalkan oleh Nabi SAW sebagaimana hadits utama di atas. Jika ada saja yang masih ngeyel dan mendebat, Maka ketahuilah Allah swt pada ayat sebelumnya telah mengingatkan : “Kemudian jika mereka berpaling (dari kebenaran), maka sesunguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan”. [QS Ali Imran : 63] Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati kita dan saudara-saudara kita sesama kaum muslimin agar saling menghormati perbedaan dan segera menghentikan hujatannya.

Salam Satu Hadits,
Dr. H. Fathul Bari Alvers

NB.
Hak Cipta berupa Karya Ilmiyah ini dilindungi oleh Allah SWT. Mengubah dan menjiplaknya akan terkena hisab di akhirat kelak. *Silahkan Share tanpa mengedit artikel ini*. Sesungguhnya orang yang copas perkataan orang  lain tanpa menisbatkan kepadanya maka ia adalah seorang pencuri atau peng-ghosob dan keduanya adalah tercela [Imam Abdullah Alhaddad]

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Sarana Santri ber-Wisata Rohani Wisata Jasmani
Ayo Mondok! Nggak Mondok Nggak Keren!

0 komentar:

Posting Komentar