Rabu, 24 Oktober 2018

HAKIKAT SANTRI


ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Mas’ud RA, Shafwan bin Assal Al-Muradi berkata: aku mendatangi Rasulullah SAW waktu itu beliau sedang bersandar kepada mantelnya di masjid. Saya berkata kepadanya: Ya Rasulullah! Saya datang untuk menuntut ilmu. Beliau bersabda:
مَرْحَبًا بطالبِ الْعِلْمِ، طَالِبُ الْعِلْمِ لَتَحُفُّهُ الْمَلائِكَةُ وَتُظِلُّهُ بِأَجْنِحَتِهَا، ثُمَّ يَرْكَبُ بَعْضُهُ بَعْضًا حَتَّى يَبْلُغُوا السَّمَاءَ الدُّنْيَا مِنْ حُبِّهِمْ لِمَا يَطْلُبُ
Selamat datang penuntut ilmu. Penuntut ilmu dihargai dan disanjung oleh malaikat dan dilindunginya dengan sayapnya. Kemudian mereka belomba-lomba untuk mencapai langit dunia karena senang kepada apa yang ia tuntut. [HR Thabrani]

Catatan Alvers

Dalam bahasa arab, tidak ditemukan istilah santri karena memang bukan berasal dari bahasa arab. Kata Santri dalam artian penuntut ilmu dalam bahasa arab disebut “thalibul ilmi”. Maka semua sahabat Nabi, mereka itu adalah penuntut ilmu dari nabi SAW. Rasul SAW memberi ucapan selamat datang kepada penuntut ilmu dan memberi kabar gembira bahwa malaikat memuliakannya sebagaimana dalam hadits utama di atas.


Dalam penelusuran kami, ada beberapa arti etimologi dari kata santri sebagai berikut :

(1) “sattiri” (bahasa tamil) berarti orang yang tinggal di sebuah rumah miskin (Zuhud) atau bangunan keagamaan secara umum (pondok) [Kapita Selekta PAI]

Di Zaman Rasul SAW, ada sebuah bangunan  yang dikenal dengan nama shuffah. Pada awalnya shuffah ini menjadi tempat tinggal bagi orang yang datang berhijrah dari mekkah dan tidak memiliki harta. Dikisahkan oleh Abu Hurairah :
قَدْ رَأَيْتُ سَبْعِينَ مِنْ أَصْحَابِ الصُّفَّةِ مَا مِنْهُمْ رَجُلٌ عَلَيْهِ رِدَاءٌ إِمَّا إِزَارٌ وَإِمَّا كِسَاءٌ قَدْ رَبَطُوا فِي أَعْنَاقِهِمْ فَمِنْهَا مَا يَبْلُغُ نِصْفَ السَّاقَيْنِ وَمِنْهَا مَا يَبْلُغُ الْكَعْبَيْنِ فَيَجْمَعُهُ بِيَدِهِ كَرَاهِيَةَ أَنْ تُرَى عَوْرَتُهُ
Sungguh, aku melihat sekitar tujuh puluh orang dari Ashabush Shuffah, tidak ada seorangpun dari mereka yang memiliki rida' (selendang), atau kain, atau baju panjang kecuali mereka ikatkan dari leher mereka. Di antara mereka ada yang kainnya sampai ke tengah betisnya dan ada yang sampai ke mata kaki. Kemudian dia lipatkan dengan tangannya karena khawatir auratnya terlihat. [HR Bukhari]
Namun dalam perkembangannya, sahabat dari kalangan Anshar juga ada yang tinggal di sana kendati mereka memiliki rumah di Madinah dan memiliki harta yang cukup. Diantaranya adalah Ka’ab bin Malik al-Anshari RA, Hanzhalah bin Abi ‘Amir RA, dan Haritsah bin Nu’man RA.

Begitu pula keadaan santri di pondok pesantren, mereka diajari untuk hidup sederhana dan qana’ah, mulai dari makan setiap hari dengan menu yang sederhana. Pakaian sederhana, kasur dan alat tidur yang sederhana pula. Santri ketika pulang ia akan merasakan bahagia dengan apapun kondisinya karena sudah terbiasa hidup sederhana.

(2) "cantrik" (bahasa jawa) yang berarti orang yang selalu mengikuti guru kemanapun ia pergi dengan tujuan belajar dari gurunya mengenai suatu keahlian. Dikalangan sahabat Nabi, Abu hurairah adalah orang yang sering bersama Nabi dan banyak belajar dari beliau.   Abu Hurairah berkata; "Sesungguhnya kalian telah mengatakan bahwa Abu Hurairah adalah orang yang paling banyak menyampaikan hadits dari Rasulullah SAW dan kalian juga mengatakan tentang sahabat Muhajirin dan Anshar yang menyampaikan hadits dari Rasulullah SAW dengan tidak sebanyak yang disampaikan oleh Abu Hurairah”. Beliau melanjutkan :
وَإِنَّ إِخْوَتِي مِنْ الْمُهَاجِرِينَ كَانَ يَشْغَلُهُمْ صَفْقٌ بِالْأَسْوَاقِ وَكُنْتُ أَلْزَمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مِلْءِ بَطْنِي فَأَشْهَدُ إِذَا غَابُوا وَأَحْفَظُ إِذَا نَسُوا
Sungguh saudara-saudaraku dari kalangan Muhajirin mereka disibukkan dengan berdagang di pasar-pasar sedangkan aku selalu mendampingi (mulazamah) Rasulullah SAW dalam keadaan perutku hanya terisi makanan pokok sehingga aku hadir saat mereka tidak hadir dan aku dapat menghafal hadits ketika mereka lupa. [HR Bukhari]

Di lain riwayat, Abu Hurairah RA berkata :
صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ثَلاَثَ سِنِينَ ، لَمْ أَكُنْ فِى سِنِىَّ أَحْرَصَ عَلَى أَنْ أَعِىَ الْحَدِيثَ مِنِّى فِيهِنَّ
“Saya (Abu Hurairah) menemani Rasulullah SAW selama 3 tahun, tidaklah ada dari usiaku yang lebih gigih untuk memahami hadits kecuali pada kurun waktu 3 tahun tersebut. [HR Bukhari]

Seperti itu pula keadaan santri, mereka memiliki lebih banyak waktu untuk belajar karena ia tidak disibukkan bermain seperti game online, menonton sepakbola atau kegiatan keluarga sehingga mereka memiliki lebih banyak waktu untuk menuntut ilmu dan juga mereka tidak dipalingkan niatnya oleh TV, Radio dan medsos

 (4) "shastri" (bahasa sansekerta) yang berarti melek huruf sebagai lawan kata buta huruf. Kata shastri merupakan derivasi dari kata shastra yang berarti kitab suci. Sehingga dikhususkan untuk orang yang melek huruf-huruf dalam kitab suci. [Indonesia: whiter islam]

Pada zaman Nabi, Shuffah di atas juga difungsikan sebagai tempat untuk aktifitas pendidikan membaca dan menghafal al-Qur’an secara benar dan hukum Islam di bawah bimbingan nabi secara langsung. Maka seperti itu pula pesantren digunakan untuk mempelajari Al-Qur’an hadits serta kitab kuning.

(4) “santri” (bahasa tamil) berarti guru mengaji [Tradisi Pesantren]
Di antara sahabat Nabi, ada sahabat yang ditugaskan mengajar. Ubadah bin Shamit RA berkata : Saya dulu mengajarkan Ahli Shuffah cara menulis, dan membaca Al-Quran [HR Ahmad]
Di pesantrenpun demikian, para santri senior diberi tugas mengajar baik di dalam pondok maupun di luar pondok (masyarakat).

(5) “Sant-Tra” (gabungan dua kata) yaitu "sant" yang berarti manusia baik dan "tra" berarti suka menolong [Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia]

Para sahabat nabi mereka memiliki jiwa sosial yang tinggi hingga mendapat pujian dari Allah swt :
وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
mereka (kaum Anshar) mengutamakan (Kaum Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)...[QS. Al-Hasyr: 9]
Di Dalam pesantren, seorang santri akan berada dengan puluhan santri lain dalam satu ruangan kamar. Kebersamaan inilah yang akan menumbuhkan jiwa sosial, saling membantu satu sama lain. Sering kali ditemukan, orang tua yang mengirim makannan untuk anaknya akan tetapi yang ikut senang adalah teman-temannya.

Dengan demikian, Saya bisa katakan bahwa secara terminologi, santri itu adalah orang yang tinggal di pondok pesantren, bisa baca kitab suci atau bahasa arab, meneladani kyai (guru) dalam akhlaqul karimah serta memiliki jiwa sosial yang tinggi. Maka jamak saya temukan motivasi orang tua memondokkan anaknya karena melihat anak tetangga yang mondok memiliki tatakrama kepada orang tua dan berakhlakul karimah. Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati para orang tua berikut putra putrinya agar mau memondokkan dan mondok di pesantren. Ayo Mondok, Nggak Mondok Nggak keren!

Salam Satu Hadits,
Dr. H. Fathul Bari Alvers

NB.
Hak Cipta berupa Karya Ilmiyah ini dilindungi oleh Allah SWT. Mengubah dan menjiplaknya akan terkena hisab di akhirat kelak. *Silahkan Share tanpa mengedit artikel ini*. Sesungguhnya orang yang copas perkataan orang  lain tanpa menisbatkan kepadanya maka ia adalah seorang pencuri atau peng-ghosob dan keduanya adalah tercela [Imam Abdullah Alhaddad]

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Sarana Santri ber-Wisata Rohani Wisata Jasmani
Ayo Mondok! Nggak Mondok Nggak Keren!


0 komentar:

Posting Komentar