Minggu, 13 Oktober 2019

BAHAGIA DENGAN TAWADLU’



ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasul SAW bersabda,
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ
Tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah hati) karena Allah melainkan Allah akan meninggikan (derajat)nya.” [HR Muslim]

Catatan Alvers

Setiap orang ingin hidup bahagia namun dalam mewujudkannya banyak orang yang salah dalam menempuh jalan menuju kebahagiaan tersebut. Diantara mereka memandang bahwa kebahagiaan itu berada pandangan orang lain bahwa mereka bahagia karena memiliki harta dan kedudukan.


 
Mereka tertipu, Mereka berusaha terlihat hidup bahagia menurut pandangan orang lain namun pada hakikatnya mereka tidak merasakan kebahagiaan sama sekali dalam kehidupan mereka sendiri. Bagaimana tidak, mereka mengalami tekanan batin dan tersiksa dengan bergaya hidup bahagia dengan harta yang tidak dimilikinya. Orang bijak mengatakan “Hukum Fisika mengatakan bahwa tekanan itu berbanding lurus dengan gaya. Maka kalau hidupmu penuh tekanan, berarti kamu kebanyakan gaya!. Ada juga yang mengatakan “Biaya hidup itu murah, Yang mahal adalah gaya hidup."

Di samping kebehagiaan semu, Orang-orang seperti mereka boleh jadi akan mendapatkan kehinaan yang sesungguhnya. Amr bin syaibah berkisah,ketika aku berada di makkah antara bukit shafa dan marwa aku melihat seorang lelaki mengendarai baghlah dan di depannya para pemuda (pengawalnya). Mereka berbuat kasar kepada orang lain (menyuruh untuk minggir). Setelah sekian lama, aku masuk kota baghdad dan saat itu aku berada di atas sebuah jembatan, aku berpapasan dengan seorang laki-laki tanpa penutup kepala, tanpa alas kaki dan berambut panjang yang sepertinya aku pernah melihatnya. Aku mengamati dengan pandangan yang mendalam. Lelaki itu bertanya : Mengapa engkau melihatku demikian? Amr menjawab: Dulu Aku pernah melihat orang yang mirip denganmu diantara shafa dan marwa. Lalu Akupun menceritakan kejadian di atas. Lalu Ia menjawab : Iya, Itu adalah aku. Amr bertanya: Apa yang terjadi? Lelaki menjawab:
إِنِّي تَرَفَّعْتُ فِي مَوْضِعٍ يَتَوَاضَعُ فِيْهِ النَّاسُ فَوَضَعَنِيَ اللهُ حَيْثُ يَتَرَفَّعُ النَّاسُ
Aku merasa mulia (sombong) di tempat di mana manusia sama-sama merendahkan dirinya maka Allah menghinakan diriku ditempat dimana orang-orang menjadi mulia.[Ihya Ulumuddin]

Di akhiratpun mereka akan celaka. Qatadah berkata :
مَنْ أُعْطِيَ مَالًا أَوْ جَمَالًا أَوْ ثِيَابًا أَوْ عِلْمًا ثُمَّ لَمْ يَتَوَاضَعْ فِيْهِ كَانَ عَلَيْهِ وَبَالًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
Barang siapa yang dianugerahi harta, ketampanan, pakaian atau ilmu namun ia tidak tawadlu’ maka semua itu akan menjadi kerusakan (siksa) di hari kiamat.[Ihya Ulumuddin]

Maka raihlah kebahagiaan hidup ini dengan tawadlu (rendah hati). Orang yang tawadlu akan ditinggikan derajatnya oleh Allah swt. Abu sulaiman berkata : 
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ اطَّلَعَ عَىَت قُلُوْبِ الْآدَمِيِّيْنَ فَلَمْ يَجِدْ قَلْبًا أَشَدَّ تَوَاضُعًا مِنْ قَلْبِ مُوْسَى عليه السلام فَخَصَّهُ مِنْ بَيْنِهِمْ بِالْكَاَىمِ
Allah Azza wa jalla memeriksa hati anak adam dan tidak menemukan hati yang lebih tawadlu daripada Nabi musa AS. Maka Allah memberikannya keistimewaan berupa kalam (bisa berkomunikasi dengan Allah swt) [Ihya Ulumuddin]

Maka dari itu, Marilah kita bersikap tawadlu. Rasul SAW bersabda :
إنَّ اللّهَ أَوْحَىٰ إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّىٰ لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ علىٰ أَحَدٍ، وَلاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَىٰ أَحَدٍ
Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku untuk menyuruh kalian bersikap rendah hati, sehingga tidak ada seorang pun yang membanggakan dirinya di hadapan orang lain, dan tidak seorang pun yang berbuat aniaya terhadap orang lain. [HR Muslim]

Umar bin khattab RA ketika berceramah di atas mimbar “Wahai manusia, tawadlu’lah kalian karena aku mendengar Rasul SAW bersabda :
مَنْ تَوَاضَعَ للهِ رَفَعَهُ اللهُ فَهُوَ فِي نَفْسِهِ صَغِيْرٌ وَفِي أَعْيُنِ النَّاسِ عَظِيْمٌ ، وَمَنْ تَكَبَّرَ وَضَعَهُ اللهُ عز وجل فَهُوَ فِي أَعْيُنِ النَّاسِ صَغِيْرٌ وَفِي نَفْسِهِ كَبِيْرٌ ، وَحَتَّى لَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِمْ مِنْ كَلْبٍ أَوْ خِنْزِيْرٍ
Barang siapa tawadlu karena Allah maka Allah akan mengangkat derajatnya. Sehingga ia merasa kecil di dalam dirinya namun ia besar pada pandangan manusia. Barang siapa sombong maka Allah Azza wa jalla akan menghinakannya sehingga ia kecil (hina) pada pandangan manusia namun merasa besar di dalam dirinya sendiri sampai-sampai menurut padangan manusia ia lebih hina daripada anjing atau babi [Musnad As-Syihab Al-Qudla’i]

Lantas apakah tawadlu itu? Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Tahukah kalian apa itu tawadlu’? Tawadlu’ adalah
أَنْ تَخْرُجَ مِنْ مَنْزِلِكَ فَلاَ تَلْقَى مُسْلِماً إِلاَّ رَأَيْتَ لَهُ عَلَيْكَ فَضْلاً
engkau keluar dari kediamanmu lantas engkau bertemu seorang muslim. Kemudian engkau merasa bahwa ia lebih mulia darimu.” [Ihya Ulumuddin]

Imam Asy Syafi’i berkata,
أَرْفَعُ النَّاسِ قَدْرًا : مَنْ لاَ يَرَى قَدْرَهُ ، وَأَكْبَرُ النَّاسِ فَضْلاً : مَنْ لَا يَرَى فَضْلَهُ
 “Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah melihat kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah melihat kemuliannya (merasa mulia).” [Syu’abul Iman]


Sayyid Abdullah Al-Haddad menjelaskan tanda-tanda orang tawadlu’, beliau berkata :
فَمِنْ أَمَارَاتِ التَّوَاضُعِ حُبُّ الْخُمُوْلِ وَكَرَاهِيَةُ الشُّهْرَةِ وَقَبُوْلُ الْحَقِّ مِمَّنْ جَاءَ بِهِ مِنْ شَرِيْفٍ أَوْ وَضِيْعٍ. وَمِنْهَا مَحَبَّةُ الْفُقَرَاءِ وَمُخَالَطَتِهِمْ وَمُجَالَسَتِهِمْ. وَمِنْهَا كَمَالُ الْقِيَامِ بِحُقُوْقِ الْإِخْوَانِ حَسَبَ الْإِمْكَانِ مَعَ شُكْرِ مَنْ قَامَ مِنْهُمْ بِحَقِّهِ وَعُذْرُمَنْ قَصَّرَ
Di antara tanda-tanda tawadlu’ adalah lebih senang khumul (tidak terkenal) dan benci ketenaran, menerima kebenaran dari siapa pun baik dari orang terpandang maupun dari orang yang rendah kedudukannya, mencintai fakir miskin dan bergaul bersama mereka; bersedia mengurusi kepentingan orang lain dengan sebaik mungkin; berterima kasih kepada orang-orang yang telah membantunya dan memaafkan mereka yang melalaikannya.” [Risalatul Mu‘awanah]

Saya teringat dengan sayyidil Walid KH Badruddin Anwar. Beliau suka khumul dan menghindari ketenaran serta tidak pernah bercerita dengan menonjolkan dirinya. Meskipun beliau menjadi orang terpandang namun beliau lebih suka bergaul dengan orang-orang miskin. Suatu saat ada yang bertanya “kyai, kenapa anda suka bergaul dengan orang-orang (rendahan) seperti saya?. Beliau menjawab dengan nada bercanda : “Aku bisa bergaul dengan orang-orang papan atas, namun jika aku lakukan hal itu lantas siapa yang akan mau bergaul denganmu?”.

Al-Ghazali menukil maqalah :
اَلتَّوَاضُعُ فِي الْخَلْقِ كُلِّهِمْ حَسَنٌ وَفِي الْأَغْنِيَاءِ أَحْسَنُ وَالتَّكَبُّرُ فِي الْخَلْقِ كُلِّهِمْ قَبِيْحٌ وَفِي الْفُقَرَاءِ أَقْبَحُ
Tawadlu itu baik untuk semua kalangan manusia. Namun orang kaya yang Tawadlu akan lebih baik. Takabbur itu jelek untuk semua kalangan manusia namun orang miskin yang takabbur akan lebih jelek. [Ihya Ulumuddin]

Bagaimana kiat kita supaya bisa menjadi pribadi yang tawadlu’? Syaikh Muhammad Nawawi Al-bantani menukil pesan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani kepada muridnya :
اِذَا لَقِيْتَ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ رَأَيْتَ الْفَضْلَ لَهُ عَلَيْكَ وَتَقُوْلُ عَسَى أَنْ يَكُوْنَ عِنْدَ اللهِ خَيْرًا مِنِّي وَأَرْفَعَ دَرَجَةً
Jikalau kamu berjumpa dengan seseorang maka hendaklah engkau melihat keunggulannya atas dirimu. Dan kamu mengucapkan (dalam hati) boleh jadi orang ini lebih baik dari aku dan lebih tinggi derajatnya di sisi Allah swt"

Beliau memberikan alasannya :
“Apabila ia adalah anak kecil, hendaklah berkata (dalam hati) dia ini belum (banyak) bermaksiat (karena umurnya lebih muda) sementara aku telah (banyak) bermaksiat. Jika ia adalah orang yang tua, hendaklah berkata orang ini telah beribadah kepada Allah sebelum aku. Apabila ia adalah orang 'alim, hendaklah berkata (dalam hati) dia telah diberi sesuatu (pengetahuan) yang aku belum aku capai, dan dia telah memperoleh sesuatu yang aku belum peroleh dan dia juga telah mengerti apa yang aku tidak mengetahuinya serta dia telah mengamalkan ilmunya. Apabila ia adalah orang yang bodoh, hendaklah berkata orang ini bermaksiat karena ketidak tahuannya, sedangkan aku bermaksiat padahal aku mengetahui (larangannya). Sungguh aku tidak tahu apakah beban (siksa) yang diberikan kepadaku dan tidak diberikan kepadanya? [Nashaihul Ibad] Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati kita untuk senantiasa bersifat tawadlu (rendah hati) dan tidak suka merendahkan orang lain.

Salam Satu Hadits,
Dr. H. Fathul Bari Alvers

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Sarana Santri ber-Wisata Rohani Wisata Jasmani
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren Lho!

NB.
Hak Cipta berupa Karya Ilmiyah ini dilindungi oleh Allah SWT. Mengubah dan menjiplaknya akan terkena hisab di akhirat kelak. *Silahkan Share tanpa mengedit artikel ini*. Sesungguhnya orang yang copas perkataan orang  lain tanpa menisbatkan kepadanya maka ia adalah seorang pencuri atau peng-ghosob dan keduanya adalah tercela [Imam Alhaddad]

0 komentar:

Posting Komentar