Jumat, 29 Juli 2016

FIKIH MEONG



ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Abi Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
دَخَلَتْ امْرَأَةٌ النَّارَ فِي هِرَّةٍ رَبَطَتْهَا فَلَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلَا هِيَ أَرْسَلَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ حَتَّى مَاتَتْ هَزْلًا
“Seorang wanita masuk Neraka karena seekor kucing yang diikatnya. Dia tidak memberinya makan dan tidak melepaskannya sehingga ia makan serangga bumi, sehingga kucing itu mati kelaparan.” [HR Muslim]

Catatan Alvers

Berbicara tentang kuicng maka banyak mitos yang dikenal masyarakat. Ada yang beranggapan bahwa kucing memiliki 9 nyawa, ada yang mengatakan pula bahwa kuicng adalah binatang yang mendatangkan petaka jika ditabrak sehingga harus dimandikan dengan bunga tujuh rupa dan dikuburkan bahkan pada masa Fir’aun, kucing dianggap sebagai titisan dewa. Sebaliknya di Eropa, kucing dianggap sebagai sihir setan atau pembawa bencana dan awabah kutukan sehingga kucing banyak dibunuh dan musnahkan secara besar-besaran. Padahal, wabah yang oleh masyarakat saat itu dianggap sebagai kutukan adalah jenis penyakit pes yang diakibatkan oleh meledaknya populasi tikus dan penurunan populasi kucing sebagai predator.


Dalam islam, kucing diposisikan seperti binatang yang lainnya yang tidak boleh disakiti dan disiksa. Kisah dalam hadits di atas bukan menunjukkan keistimewaan kucing dari binatang lainnya. Akan tetapi kisah tersebut menunjukkan betapa kerasnya dan kejamnya tabiat wanita di atas, ia tidak punya belas kasih di hatinya. Dia mengurung kucingnya sepanjang siang dan malam hingga kucing itu haus dan lapar.  suara kucing yang memelas meminta bantuan dan pertolongan tidak melunakkan hati wanita itu karena hatinya telah membatu. Hingga suara kucing itu melemah, lalu seterusnya menghilang dan kucing itupun mati kelaparan.

Dalam fathul bari, Ibnu hajar mengemukakan riwayat lainnya yaitu Nabi SAW bersabda :
وَعُرِضَتْ عَلَيَّ النَّار فَرَأَيْت فِيهَا اِمْرَأَة مِنْ بَنِي إِسْرَائِيل تُعَذَّب فِي هِرَّة لَهَا
Ditampakkan kepadaku neraka, aku melihat di dalamnya ada seorang wanita dari bani israil yang di siksa karena kucing yang dipeliharanya. [HR Muslim]

Dari sini muncul beberapa pendapat, apakah seorang wanita dalam hadits utama di atas adalah muslimah atau bukan. Terlepas dari perbedaan tersebut maka kesimpulannya adalah jika perempuan tadi muslimah maka ia disiksa di neraka dan jika wanita itu non muslimah maka disiksa dengan lebih berat siksaannya di neraka. [Fathul Bari]

Sebaliknya orang yang berbuat baik kepada binatang, seperti kucing maka akan menjadi sebab ia mendapatkan rahmat Allah SWT. Syekh Nawawi al-Bantani menceritakan bahwa seorang sufi besar bernama Abu Bakar al-Syibli setelah wafatnya hadir dalam mimpi temannya, berdialog dengan Allah SWT. “Apa yang menyebabkan dosamu diampuni?” Tanya Allah SWT pada Syibli. “Sebab Amal Shalehku” jawab Syibli.  “Bukan,” Allah SWT menimpali. “Karena keikhlasan ibadahku” jawab Syibli.  “Bukan,” Allah SWT menimpali. “Haji, puasa, dan shalatku” jawab Syibli.  “Bukan,” Allah SWT menimpali.  “Hijrahku menuju orang-orang sholeh dan mencari ilmu” jawab Syibli.  “Bukan,” Allah SWT menimpali.  Lantas karena apakah wahai tuhanku? Tanya Syibli. Kemudian Allah memberitahukannya :
أتذكر حين كنت تمشي في درب بغداد فوجدت هرة صغيرة وقد أضعفها البرد وهي تنزوى من شدته فأخذتها رحمة لها وأدخلتها فى فرو كان عليك وقاية لها. برحمتك لتلك الهرة رحمتك
Ingatkah kau ketika berjalan di jalanan baghdad, kau menemukan anak kucing yang kedinginan dan lemah maka kau mengambilnya karena rasa sayangmu kepadanya dan kau memasukkannya ke jubah bulu untuk menghangatkannya. Maka karena kasih sayangmu kepada kucing itu, aku memberikan kasih sayangku kepadamu! [Nasha’ih al- Ibad]

Kisah menarik lainnya adalah yang terjadi pada Imamul Arifin, syeikh ahmad abul-abbas ar-rifa’i. Diceritakan :
إِنَّ هرَّة نَامت عَلَى كُمِّ الشَّيْخ أَحْمَد، وَقَامَت الصَّلاَة، فَقص كُمَّه وَمَا أَزعجهَا، ثُمَّ قَعَدَ، فَوَصَلَهُ
Terdapat seekor kucing yang tertidur di atas lengan baju syeikh ahmad. Ketika tiba waktu shalat, beliau menggunting lengan bajunya supaya kucing tidak terganggu tidurnya. Selesai shalat ia duduk dan menyambung kembali bagian lengan baju yang terpotong tadi. [Siar A’lamin Nubala] Dalam sumber yang sama, Beliau juga dikisahkan ketika berwudlu, ada seekor nyamuk yang hinggap di tanggannya maka beliau diam hingga nyamuk itu terbang.

Ibnu hajar memberikan kesimpulan atas hadits utama di atas. Ia berkata :
وَفِيهِ جَوَاز اِتِّخَاذ الْهِرَّة وَرِبَاطهَا إِذَا لَمْ يُهْمِل إِطْعَامهَا وَسَقْيهَا ، وَيَلْتَحِق بِذَلِكَ غَيْر الْهِرَّة مِمَّا فِي مَعْنَاهَا ، وَأَنَّ الْهِرّ لَا يُمْلَك ، وَإِنَّمَا يَجِب إِطْعَامه عَلَى مَنْ حَبَسَهُ
Hadits ini mengisayahkan bolehnya memelihara kucing dan mengikatnya asal tidak mengabaikan makan dan minumnya. Begitu pula hewan lainnya, satusnya disamakan dengan kucing. Sesungguhnya kucing tidak boleh dimiliki hanya saja bagi yang memeliharanya wajib memberinya makan. [Fathul bari]

Ulama berbeda pendapat mengenai sah dan tidaknya menjual dan membeli kucing. Menurut ulama Syafi’iyah tidak boleh karena tidak ada manfaat secara syar’i namun menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah boleh saja. Yang penting (dlabith) manfaat tersebut dihalalkan secara syar’i. [Lihat Al-fiqh ala Madzahib al-Arba’ah]

Selanjutnya, kucing termasuk hewan berbulu halus dan bulunya tersebut sering rontok dan tak jarang melekat pada pakaian sehari-hari pemeliharanya. Perlu diketahui bahwa Bulu kucing termasuk dalam kategori najis, karena secara teori “semua anggota hewan yang berpisah ketika hidup dihukumi sama seperti bangkainya”. Maka bulunya dihukumi najis. Namun jangan khawatir karena najisnya bulu kucing itu termasuk kategori  yang dimaafkan bila sedikit dan demikian juga bila banyak untuk orang yang sering bersinggungan dengannya (manibtuliya bih) atau merawatanya. [Hasyiah Al-Bajuri] Wallahu A’lam. Semoga Allah al-bari membuka hati dan fikiran kita untuk mengasihi sesama bahkan kepada binatang sekalipun.

0 komentar:

Posting Komentar