Minggu, 24 Juli 2016

TWO IN ONE




ONE DAY ONE HADITH

Dari Anas bin Malik, beliau berkata bahwa Nabi SAW bersabda :
اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah [HR Ibnu Hibban]

Catatan Alvers

Allah swt menciptakan makhluknya berpasang-pasangan. Ada malam ada siang, ada gelap ada terang, ada susah ada bahagia dan ada kesulitan ada kemudahan. Semuanya silih berganti sebagai ujian bagi kita. Allah swt berfirman : Patutkah manusia menyangka bahawa mereka akan dibiarkan dengan hanya berkata: “Kami beriman”, sedang mereka tidak diuji (dengan sesuatu cubaan)? [QS Al-Ankabut: 2]

Ketika kita sedang diuji maka mantapkanlah dalam hati bahwa setelah lapar ada kenyang, setelah haus ada rasa segar, setelah begadang ada rasa tidur, setelah sakit ada sehat, kesulitan akan hilang, dan kegelapan akan sirna. Maka berikan kabar gembira kepada malam bahwa fajar akan tiba, berikan kabar gembira kepada orang yang sedang risau bahwa jalan keluar akan segera datang, sampaikan kabar gembira kepada orang yang sedang kesusahan bahwa kasih sayang-Nya sebentar lagi datang. Jika kamu melihat padang pasir yang luas membentang, ketahuilah bahwa sesudah itu terdapat taman hijau yang rimbun.


Yakinkan hati bahwa bersama air mata yang berlinang akan ada senyuman, bersama rasa takut akan ada rasa aman, bersama kekhawatiran akan ada ketenangan. Bukankah Api tidak membakar Nabi Ibrahim justru  menjadi hawa dingin dan memberikan keselamatan [lihat QS Anbiya 69]. Laut yang dalam tidak menenggelamkan Nabi Musa yang berkata, “Tidak. Bersamaku ada Tuhan yang akan memberikan petunjuk.”[QS Syuara : 62]. Dan Keadaan genting yang mencekam kepada Nabi saw yang berkata kepada sahabatnya “Innalaha Ma’ana” (Allah bersama kita) tidak menjadikan gentar dan menyerah justru mereka diliputi rasa aman dalam ketenangan.

Maka janganlah putus asa ketika menghadapi kesulitan atau cobaan. Yakinlah kepada Allah yang telah menjanjikan bahwa di balik kesulitan, pasti ada kemudahan. Allah SWT berfirman :
سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا
“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” [QS. Ath-Tholaq: 7]
Bahkan dalam 1 Kesulitan akan terdapat 2 kemudahan atau two ini one (Dua kemudahan dalam 1 kesulitan) seperti tertulis dalam judul. Allah SWT berfirman :
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا, إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. [QS Al-Insyirah : 5-6]
Dalam ayat tersebut dipahami bahwa dalam 1 Kesulitan akan terdapat 2 kemudahan, Maka Ibnu Abbas RA berkata
لن يغلب عُسْر يسرين
Satu Kesulitan tidak bisa mnegalahkan dua kemudahan [Kitab : Zadul Masir]
Dalam 1 Kesulitan akan terdapat 2 kemudahan? Wahat?? Bagaimana bisa dipahami demikian dari ayat tersebut?
Perhatikan Kata “al-‘usr (kesulitan)” yang diulang dalam surat tersebut pada hakikatnya adalah satu. Sebab Al-‘usr dalam ayat pertama sebenarnya sama dengan al ‘usr dalam ayat berikutnya karena keduanya menggunakan isim ma’rifah. Al-Farra’ mengatakan :
العرب إذا ذَكَرَتْ نَكِرَةً ثم أعادتها بنكرة صارت اثنتين ، كقولك : إذا كسبت درهماً فأنفق درهماً ، فالثاني غير الأول ، وإذا أعادتها معرفة ، فهي كقولك : إذا كسبت درهماً فأنفق الدرهم ، فالثاني هو الأول .
Orang arab jika menyebut isim nakirah kemudian mereka mengulangi (menyebutkan isim tersebut) dengan bentuk nakirah maka artinya dua. Seperti contoh perkataan “Jika engkau mendapat uang satu dirham maka infaqkanlah 1 dirham. Itu artinya kata 1 dirham yang kedua bukanlah 1 dirham yang pertama. Namun jika mereka  mengulanginya dengan bentuk ma’rifat seperti perkataan  “Jika engkau mendapat uang satu dirham (nakirah) maka infaqkanlah 1 dirham itu (ma’rifat)” maka yang dimaksud kata “1 dirham” yang kedua adalah “1 dirham” yang pertama. [Kitab : Zadul Masir]

Maka Kata “al-‘usr (kesulitan)” yang pertama sebenarnya sama dengan al ‘usr yang kedua karena keduanya menggunakan isim ma’rifah. Sedangkan kata “yusr (kemudahan)” pertama adalah berbeda dengan yusr (kemudahan) kedua karena keduanya menggunakan isim nakirah  sebagaimana kaidah di atas.

Makna selanjutnya “Kata al ‘usr (kesulitan) menggunakan alif-lam dan menunjukkan umum (istigraq) artinya segala macam kesulitan. Hal ini menunjukkan bahwa bagaimana pun sulitnya, apapun bentuk kesulitan maka akhir dari setiap kesulitan adalah kemudahan.” Maka seperti kata pepatah
“after a storm comes a calm”(Badai pastilah berlalu).

Kalau dicermati lagi bahwa, Dalam ayat  di atas, digunakan kata “ma’a”, yang artinya “bersama”. Artinya, “kemudahan akan selalu menyertai kesulitan”. Oleh karena itu, Ibnu Mas’ud RA berkata :
لو كان العسر في حُجر ، جاء اليسر حتى يدخل عليه ، لأنه قال تعالى إِنَّ مَعَ العسر يُسْراً ويقال : إن مع العسر وهو إخراج أهل مكة النبي صلى الله عليه وسلم  يُسْراً ، وهو دخوله يوم فتح مكة ، مع عشرة آلاف رجل في عز وشرف .
Seandainya kesulitan itu memasuki sebuah lubang binatang  (yang sempit dan berlika-liku) niscaya kemudahan akan turut serta memasuki lubang tersebut (dan akan mengeluarkan kesulitan tersebut) karena Allah Ta’ala berfirman “sesungguhnya kesulitan itu bersama kemudahan. Dan dikatakan bahwa kesulitan (dalam ayat itu) berupa pengusiran penduduk mekkah kepada Nabi SAW, dan Kemudahannya berupa Masuknya kembali Rasul SAW bersama ribuan orang ke mekkah dalam keadaan perkasa dan mulia. [Kitab Bahrul Ulum LI Samarqandi]

So, masihkah ada keraguan dengan janji Allah ini? “sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. Ibnu Rajab dalam Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam berkata, “Jika kesempitan itu semakin terasa sulit dan semakin berat, maka seorang hamba akan menjadi putus asa dan demikianlah keadaan makhluk yang tidak bisa keluar dari kesulitan. Akhirnya, ia pun menggantungkan hatinya pada Allah semata. Inilah hakekat tawakkal pada-Nya. Tawakkal inilah yang menjadi sebab terbesar keluar dari kesempitan yang ada. Karena Allah sendiri telah berjanji akan mencukupi orang yang bertawakkal pada-Nya. Sebagaimana Allah SWT berfirman :
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” [QS Ath-Thalaq: 3]

Terlepas dari itu semua bahwa kesempitan sering kali menjadi cambuk yang medatangkan semangat dan sebaliknya kemudahan mendatangkan kemalasan. Lihatlah kondisi sumber daya alam yang dimiliki oleh Indonesia yang dijuluki zamrud khatulistiwa, dengan kekayaan alamnya sampai dikatakan oleh koesplus “Orang bilang tanah kita tanah surga, Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. "  Namun, Hal ini justru menjadikan bangsa ini menjadi pemalas bahkan di sisi lain menjadi penarik bagi kaum penjajah. Lihat pula kondisi Jepang, negeri yang sangat minim sumber daya alamnya namun justru menjadi pemicu agar mereka tetap survive, bahkan akhirnya mereka berkembang dan menjadi negara maju. Maka sikapilah masalah dengan menjadikannya sebagai maslahah. Kalau rakyat jepang yang tidak kenal Islam saja bisa, mengapa kita yang memiliki Allah swt yang menjanjikan dua kemudahan dalam satu masalah harus berkeluh kesah dan putus asa. Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk menyadari hakikat masalah adalah maslahah untuk kita dan menjadikan demikian sesuai keyakinan kita.

DR.H.Fathul Bari

0 komentar:

Posting Komentar