Sabtu, 30 Juli 2016

LENYAPNYA ILMU



ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Abdullah Bin Amr Bin Ash RA, Ia Mendengar Rasul SAW bersabda :
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari para hamba-Nya dengan sekali pencabutan, namun Dia mencabut ilmu dengan mencabut nyawa (mewafatkan) para ulama. Sehingga, jika tidak tersisa seorang ulama, manusia mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Tatkala mereka ditanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka tersesat dan menyesatkan. [HR Bukhari]

Catatan Alvers

Saat haji wada', Rasulullah SAW berdiri, saat itu beliau memboncengi Al-Fadhl bin 'Abbas di atas unta, beliau bersabda; "Wahai sekalian manusia! Ambillah ilmu sebelum dicabut dan dilenyapkan. Allah AzzaWaJalla telah menurunkan;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ
'Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu bertanya suatu hal, bila diperlihatkan bagimu akan menyusahkanmu, dan bila kamu menanyakannya saat Al Quran turun akan diperlihatkan padamu, Allah memaafkannya dan Allah Maha Pengampun lagi Penyantun.


Abu Umamah AL-Bahili, Perawi hadits ini berkata : Kami tidak suka banyak tanya pada beliau dan kami menjaga diri untuk tidak menanyakan banyak hal hingga Allah SWT menurunkan wahyu kepada nabiNya. Kemudian kami mendatangi seorang badui, kami memakaikan selendang padanya. Selendang pun ia kenakan hingga aku melihat tepi selendang keluar dari alis sebelah kanannya. Kami lalu berkata padanya; Bertanyalah pada Nabi SAW. si badui bertanya;
يَا نَبِيَّ اللَّهِ كَيْفَ يُرْفَعُ الْعِلْمُ مِنَّا وَبَيْنَ أَظْهُرِنَا الْمَصَاحِفُ وَقَدْ تَعَلَّمْنَا مَا فِيهَا وَعَلَّمْنَا نِسَاءَنَا وَذَرَارِيَّنَا وَخَدَمَنَا
Wahai Nabi Allah! Bagaimanakah ilmu dilenyapkan dari kami sementara ditengah-tengah kami ada mushaf, kami mempelejarinya dan mengajarkannya pada istri-istri, anak cucu dan para pembantu kami.
Nabi SAW mengangkat kepala dan muka beliau memerah karena marah kemudian bersabda;
أَيْ ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ هَذِهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى بَيْنَ أَظْهُرِهِمْ الْمَصَاحِفُ لَمْ يُصْبِحُوا يَتَعَلَّقُوا بِحَرْفٍ مِمَّا جَاءَتْهُمْ بِهِ أَنْبِيَاؤُهُمْ أَلَا وَإِنَّ مِنْ ذَهَابِ الْعِلْمِ أَنْ يَذْهَبَ حَمَلَتُهُ ثَلَاثَ مِرَارٍ
”Betapa naifnya dirimu, orang-orang Yahudi dan Nashrani masih ada lembaran-lembaran kitab suci di sisi mereka, namun mereka tidak mempelajari satu hurufpun dari apa yang disampaikan para nabi mereka. Dan sesungguhnya diantara salah satu tanda hilangnya ilmu adalah meninggalnya orang-orang yang berilmu." Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. [HR Ahmad]

Ulama memiliki peran yang sangat penting dalam Islam. Mereka adalah pewaris para nabi untuk mengemban misi dakwah Islam kepada segenap manusia. Baik dan buruknya suatu generasi, suatu kaum, suatu bangsa, suatu negeri, atau suatu lapisan masyarakat tergantung para ulama’nya. Rasulullah SAW bersabda :
إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidaklah mewariskan uang dinar dan tidak pula uang dirham. Hanya saja mereka mewariskan ilmu. Maka barang siapa yang mewarisinya, berarti dia telah mendapatkan keuntungan yang sempurna. “ [HR Ibnu Majah]

­­Keberadaan ulama pewaris para nabi di muka bumi merupakan rahmat bagi seluruh manusia. Tanpa mereka niscaya kehidupan manusia di seluruh alam ini tak jauh beda dengan kehidupan binatang. Bukankah kehidupan binatang hanya bertumpu pada pemuasan syahwat perut dan kemaluan tanpa pernah kenal syariat ? Maka seperti itulah kehidupan anak cucu Adam. Al-Hasan Al-Bashri berkata:
لولا العلماء لصار الناس مثل البهائم
Kalau tidak ada ulama niscaya manusia itu seperti binatang.[Ihya Ulumuddin]
Sisi kesamaan ini lebih jelas terdapat dalam firman Allah SWT :
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai."[QS Al-A’raaf: 179]

Innalillah wa inna ilayhi Raji’un, Wafatnya ulama adalah musibah besar karena seiring dengan kepergian mereka, saat itu pula berangsur-angsur ilmu lenyap dari muka bumi. Dan akhirnya manusia saat itu berperangai seperti binatang. Saat itu setumpuk buku dan seabrek kitab tidak lagi membawa manfaat apa-apa karena posisi kitab dan buku tidak bisa mneggantikan peran para ulama. Al-Munawi menjelaskan :
فأفاد أن بقاء الكتب بعد رفع العلم بموت العلماء لا يغني من ليس بعالم شيئا
Hadits utama di atas menunjukkan bahwa adanya buku-buku setelah ilmu diangkat dengan meninggalnya para ulama, buku-buku itu tidak akan berguna apapun bagi orang yang bodoh. [Faidh Al-Qadir]

Yang dimaksud ilmu di sini adalah ilmu untuk makrifatullah dan iman kepada-Nya serta ilmu mengenai hukum-hukum Allah, karena ilmu hakiki adalah ilmu yang berkenaan dengan hal ini. Dengan wafatnya para ulama maka proses mengajar akan berhenti, sehingga tidak ada yang menggantikan ulama-ulama sebelumnya.

Kalau pada masa keemasan Islam, umat Islam tidak terlalu sulit menemukan sosok ulama sejati. Sebut saja empat imam yang pendapatnya menjadi rujukan bagi ulama-ulama selanjutnya yang tidak hanya pada bidang keilmuan belaka, namun juga menjadi garda terdepan dalam melakukan aktivitas dakwah dan mengoreksi para penguasa.  Imam Ahmad bin Hanbal, misalnya,  pernah disiksa dan diasingkan pada masa Khalifah al-Ma’mun, al-Mu’tashim, dan al-Watsiq karena penentangan beliau terhadap gagasan kemakhlukan al-Quran.  Begitu pula Hujjatul Islam Imam al-Ghazali, seorang ulama besar yang mampu menangkis pemikiran filsafat Yunani dan ulama besar lainnya.

Namun satu persatu dari mereka telah tiada, telah meninggalkan kita dan menyisakan sejumlah ulama yang sedikit jumlahnya. Lantas apakah masa itu telah tiba? Masa yang disebutkan oleh Rasul dimana Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama sampai tidak tersisa seorang ulamapun, sehingga manusia mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Tatkala mereka ditanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka tersesat dan menyesatkan. Wal Iyadu Billah. Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari senantiasa merahmati kita dengan memberikan panjang umur kepada para ulama dan terus memberikan penggantinya tatkala diantara mereka ada yang telah meninggal. :: One Day One Hadith, DR H Fathul Bari Dan segenap keluarga besar PP AN-NUR 2 Malang Jatim turut berduka cita atas wafatnya KH Mas Subadar, Besuk Pasuruan. Mudah-mudahan Allah menerima semua amal kebaikan dan mengampuni semua kekhilafan. Lahul Fatihah...

0 komentar:

Posting Komentar