Rabu, 27 Juli 2016

TAUBAT LAGI



ONE DAY ONE HADITH

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al-Anshari, pembatu Rasulullah SAW, Rasul SAW bersabda :
اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِى أَرْضِ فَلاَةٍ
“Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan taubat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas.” [HR. Bukhari]

Catatan Alvers

Melakukan kesalahan adalah manusiawi karena kesalahan merupakan sifat yang pasti menyertai manusia layaknya lapar dan dahaga. Manusia pastilah berbuat kesalahan bagaimanapun ia berusaha menghindarkan diri darinya karena salah itu adalah sifat dasar manusia. Rasul SAW bersabda :

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

"Setiap manusia melakukan banyak kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah (dosa) adalah yang bertaubat" [HR Ibnu Majah]

Bahkan Rasul SAW menegaskan bahwa diantara tujuan penciptaan manusia adalah Allah menjadikan mereka makhluk yang berbuat dosa agar mereka bertaubat, beliau berkata:

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, kalau kalian tidak berdosa maka Allah akan menjadikan kalian sirna, lalu Allah akan mendatangkan suatu kaum yang mereka berdosa lalu mereka bertaubat kepada Allah lalu Allah mengampuni mereka" [HR Muslim]

Maka dari itulah kewajiban selanjutnya bagi orang yang telah berbuat kesalahan dan dosa ia bertaubat kepada Allah dan memohon ampunanNya. Dalam hadits qudsi, Allah SWT berfirman :

يا عبادي! إنَّكم تُخطئون بالليل والنهار، وأنا أغفرُ الذنوبَ جميعاً، فاستغفروني أغفرْ لكم

"Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian berbuat dosa di siang hari dan malam hari, dan Aku maha mengampuni semua dosa, maka mintalah ampunan kepadaKu niscaya Aku akan mengampuni kalian" (HR Muslim)

Allah menciptakan seorang hamba dengan sifat berdosa agar ia bertaubat dan dan kembali kepada Allah dan saat itulah Allah mecurahkan kasih sayang dan rahmat kepadanya dengan
Menerima taubatnya. Sungguh Allah sangat gembira dengan bertaubatnya seorang hamba, Rasulullah SAW memberikan illustrasi seperti dalam hadits utama di atas dan dijabarkan oleh sabda beliau:
لله أشد فرحا بتوبة عبده حين يتوب إليه من أحدكم كان على راحلته بأرض فلاة فانفلتت منه وعليها طعامه وشرابه فأيس منها فأتى شجرة فاضطجع في ظلها قد أيس من راحلته فبينا هو كذلك إذا هو بها قائمة عنده فأخذ بخطامها ثم قال من شدة الفرح اللهم أنت عبدي وأنا ربك أخطأ من شدة الفرح
"Sungguh Allah lebih bergembira dengan taubat hambaNya tatkala bertaubat kepadaNya, melebihi daripada gembiranya salah seorang dari kalian yang bersama tunggangannya di padang pasir tiba-tiba tunggangannya tersebut hilang, padahal makanan dan minuman (perbekalan safarnya) berada di tunggangannya tersebut. Ia pun telah putus asa mencari tunggangannya tersebut, lalu iapun mendatangi sebuah pohon lalu berbaring di bawah pohon tersebut. Tatkala ia sedang demikian tiba-tiba tunggangannya muncul kembali dan masih ada perbekalannya, maka iapun segera memegang tali kekang tunggangannya, lalu ia berkata karena sangat gembiranya, "Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhanmu" Ia salah berucap karena sangat gembiranya" [HR Muslim]

Optimislah taubat pasti diterima. Imam Ghazali berkata :
فالتوبة بشروطها مقبولة ماحية لا محالة، قال: فمن توهم أن التوبة لا تصح ولا تُقبل كمن توهم أن الشمس تطلع والظلام لايزول.
Taubat yang telah memenuhi syaratnya pastilah diterima dan menghapuskan dosanya. Barang siapa yang menyangka bahwa taubatnya tidak sah dan tidak diterima maka sama halnya ia menyangka bahwa matahari terbit sedangkan kegelapan tetaplah ada. [Faidlul Qadir]

Lalu bagaimana jika setelah bertaubat ia melakukan dosa lagi? Apakah ia harus menunda taubatnya ataukah dia tetap bertaubat?. Menjawab pertanyaan ini ada sebuah illustrasi. Suatu hari seorang Kyai diundang ceramah di rumah seorang pengusaha. Sang kyai dijemput oleh Sopir dari pengusaha dengan mengendarai mobil mewahnya. Ditengah perjalanan, si sopir bertanya kepada kyai : "Maaf pak kyai, mengapa kita harus bertaubat, nanti kan kita berbuat dosa lagi pak kyai?" Kyai tersebut diam, tidak menjawab, ia hanya tersenyum seolah-olah menikmati perjalanan dengan mobil mewah yang menjemputnya. Ketika sampai di rumah pengusaha, Sang sopir tersebut bergegas mencuci mobilnya, lalu kyai  menghampirinya dan bertanya : " Pak, kenapa anda mencuci mobil ini? Bukankah habis ini mobilnya dipakai lagi dan kotor lagi". Sopir menjawab : "ya harus dicuci pak kyai, supaya bersih, agar si bos senang." "Tapi kan nanti kotor lagi ?" kata Kyai. Lalu sopir menjawab dengan senangnya "Ah gak papa pak kyai, nanti ya dicuci lagi, kotor lagi ya nanti dicuci lagi namanya juga mobil dipakai pak kyai." lalu sang kyai menjawab pertanyaan sopir yang belum sempat terjawab sebelumnya : "Pak, manusia itu ibarat  mobil, terus berjalan, pasti yang namanya kesalahan, dosa, kekhilafan itu selalu ada, maka sering-seringlah mencuci dosa tersebut dengan taubat dan istighfar”.

Illustrasi tersebut sejalan dengan hadits Nabi SAW:
أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَبْدِى أَذْنَبَ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ فَقَالَ أَىْ رَبِّ اغْفِرْ لِى ذَنْبِى. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَذْنَبَ عَبْدِى ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ
Ada seorang hamba yang berbuat dosa lalu dia mengatakan “Ya Allah, ampunilah dosaku”. Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia  berkata “Wahai Rabb, ampunilah dosaku”. Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa. kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia  berkata “Wahai Rabb, ampunilah dosaku”. Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa. Beramallah sesukamu, sungguh engkau telah diampuni.”[HR. Muslim]

Selanjutnya apakah hal itu tidak membuat Allah murka? Ya Allah murka namun ingatlah, rahmat Allah mengalahkan Murka-Nya. Rasul SAW bersabda: “Setelah Allah menciptakan seluruh makhluk, Dia menulis dalam Kitab-Nya, Dia menuliskan (ketetapan) atas diri-Nya dan Kitab itu diletakkan di sisi-Nya di atas ‘Arsy (yaitu): ‘Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku.” [HR Bukhari]. Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk senantiasa bertaubat dan memohon ampunan-Nya sehingga kita mendapatkan Rahmat-Nya.

Persembahan Terbaik
DR.H.Fathul Bari, Malang Ind
081-2521-4321

0 komentar:

Posting Komentar