إنَّ اللّهَ أَوْحَىٰ إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّىٰ لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ علىٰ أَحَدٍ، وَلاَ يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَىٰ أَحَدٍ

"Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku untuk menyuruh kalian bersikap rendah hati, sehingga tidak ada seorang pun yang membanggakan dirinya di hadapan orang lain, dan tidak seorang pun yang berbuat aniaya terhadap orang lain." [HR Muslim]

أَرْفَعُ النَّاسِ قَدْرًا : مَنْ لاَ يَرَى قَدْرَهُ ، وَأَكْبَرُ النَّاسِ فَضْلاً : مَنْ لَا يَرَى فَضْلَهُ

“Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah melihat kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah melihat kemuliannya (merasa mulia).” [Syu’abul Iman]

الإخلاص فقد رؤية الإخلاص، فإن من شاهد في إخلاصه الإخلاص فقد احتاج إخلاصه إلى إخلاص

"Ikhlas itu tidak merasa ikhlas. Orang yang menetapkan keikhlasan dalam amal perbuatannya maka keihklasannya tersebut masih butuh keikhlasan (karena kurang ikhlas)." [Ihya’ Ulumuddin]

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

"Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur." [HR Muslim]

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.

“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agamaMu.”[HR Ahmad]

Saturday, December 6, 2025

NB Catatan Alvers

Sufyan Ats-sauri berkata :

مَنْ بَخِلَ بِالْعِلْمِ ابْتُلِيَ بِإِحْدَى ثَلَاثٍ: أَنْ يَنْسَاهُ، أَوْ يَمُوتَ وَلَا يَنْتَفِعَ بِهِ، أَوْ تَذْهَبَ كُتُبُهُ.

“Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa ilmunya, (2) wafat sementara ia tidak mengambil manfaat dari ilmunya dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]


Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata : _Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama)._ [At-Tadzkirah Wal Wa’dh].

Sesungguhnya orang yang copas perkataan orang lain tanpa menisbatkan kepadanya maka ia adalah seorang pencuri atau peng-ghosob dan keduanya adalah tercela [Imam Alhaddad]

Friday, December 5, 2025

SI ANAK BATU

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” [HR Muslim]

 

Catatan Alvers

 

Ketika ia masih muda, ia mencoba menghafal hadis. Ia mencoba, mencoba, dan mencoba lagi, tetapi ia gagal menjadi seperti anak-anak lain yang telah menghafal banyak hadis. Hampir saja rasa putus asa, dan kegagalan seakan akan membayangi seluruh hidupnya. Suatu hari ia memutuskan berjalan di antara kebun-kebun desa. Ia mendekati sebuah sumur di tengah kebun, lalu duduk di dekatnya dan mulai merenung. Saat duduk di dekat sumur itu, ia memperhatikan tali yang menggantung pada ember sumur telah mengikis batu di sekeliling bibir sumur, hingga batu itu retak karena gesekan yang terus-menerus naik dan turun. Ia pun menyadari: kuncinya adalah pengulangan dan waktu. Maka ia bertekad mencoba lagi menghafal hadis, dan berjanji pada dirinya sendiri untuk mengulanginya meski sampai 500 kali. Ia terus berusaha, berusaha, dan berusaha, menepati janjinya, hingga ibunya merasa lelah mendengar ulangannya dan iba melihat keadaannya. Dengan berjalannya waktu, ia akhirnya mampu menghafal Al-Qur’an, dan menjadi mufti (ulama pemberi fatwa). Ia juga menulis banyak karya dan kitab yang dipelajari hingga kini.

 

Versi lain menyebutkan ia melihat air yang menetes di batu terus menerus hingga air yang lembut itu bisa melubangi batu yang keras. Lalu Ia mengambil pelajaran darinya sehingga ia meningkatkan belajarnya sehingga ia di kemudian hari menjadi cerdas dan ulama besar. Hal ini sebagaimana pepatah populer yang dinisbatkan sebagai perkataan Abu Hazm Al-Andalusi, yaitu : “Air dapat melubangi batu bukan karena kerasnya air, tetapi karena air itu jatuh terus menerus”.

 

Kisah tersebut dengan berbagai versinya sering dinisbatkan kepada ulama yang benama Ibnu Hajar (Anaknya batu) baik Ibnu Hajar Al-Haitamy, sang ahli fikih atau Ibnu Hajar Al-Asqalany, sang ahli hadits. Nisbat tersebut tidaklah benar, karena keduanya memiliki kecerdasan sejak kecil. Dan maaf saya pribadi belum menemukan referensi kitab dari kisah di atas. Kisah tersebut sering kita dengar sebagai motivasi dan acapkali ditemukan dalam tulisan-tulisan tanpa menyertakan sumbernya.

 

Boleh jadi kisah tersebut dihubung-hubungkan karena adanya relevansi antara kisah batu dan arti dari nama dari ibnu hajar sendiri yaitu anaknya batu. Menurut Imam Nawawi, Ibnu Hajar mendapatkan panggilan demikian karena :

إِنَّ أَحَدَ أَجْدَادِهِ كَانَ مُلَازِمًا لِلصَّمْتِ، لَا يَتَكَلَّمُ إِلَّا عِندَ ضَرُورَةٍ أَوْ حَاجَةٍ، فَشَبَّهُوهُ بِحَجَرٍ مُلْقًى لَا يَنْطِقُ.

“Sesungguhnya salah seorang dari kakeknya senantiasa diam, tidak berbicara kecuali terpaksa atau ada kebutuhan. Maka orang-orang saat itu menyerupakannya dengan batu yang tergeletak, yang tidak berbicara.” [Al-Idlah Fi manasikil Hajj]

 

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalany dikebumikan di di Kairo, Mesir, tepatnya di kawasan Al-Muqattam pada tahun 852 H dan Alhamdulillah penulis telah berziarah ke makam beliau bersama keluarga besar. Adapun Imam Ibnu Hajar Al-Haytami dikebumikan di pekuburan Ma’la, Mekkah pada tahun 974 H. Pekuburan Ma’la berada di dekat masjidil haram sehingga sering dikunjungi oleh para jamaah haji dan umrah dan di sana pula dikebumikan ulama besar Indonesia seperti Syeikh Nawawi Al-Bantani, Mbah Kyai Maimun Zubeir.

 

Ahmad bin Aly yang dikenal dengan julukan Ibnu Hajar Al-Asqalany tumbuh sebagai anak yatim. Ayahnya meninggal ketika ia berusia empat tahun, sedangkan ibunya sebelum itu. Ia diasuh oleh al-Khurubi, seorang saudagar besar, yang sangat memperhatikannya. Ia memasukkannya ke sekolah (maktab) setelah usianya genap lima tahun. Ia menyelesaikan hafalan Al-Qur’an pada usia sembilan tahun. Ketika berusia sebelas tahun, ia menunaikan ibadah haji. Dua tahun kemudian, ia kembali ke Mesir dengan menghafal kitab ‘Umdat al-Ahkām, Mukhtaṣar Ibn al-Ḥājib, Alfiyyah al-‘Irāqī, Alfiyyah Ibn Mālik, dan kitab at-Tanbīh. [Tahdzibut Tahdzib]

 

Pasca wafatnya al-Khurubi tahun 787 H, Ibnu hajar berdagang untuk beberapa saat. Dan tahun 793 H ia fokus kepada ilmu hadits. Ia berguru kepada Syeikh Zainuddin Al-Iraqy selama sepuluh tahun. [Tahdzibut Tahdzib] dan akhirnya ia berhasil menulis karya monumentalnya yaitu Fathul Bari, Syarah shahih Bukhari selama seperempat abad. Imam as-Suyuti berkata:

لَمْ يُصَنِّفْ أَحَدٌ مِنَ الأَوَّلِينَ وَلَا مِنَ الآخِرِينَ مِثْلَهُ

‘Tidak ada seorang pun dari ulama terdahulu maupun kemudian yang menyusun karya semisalnya.’

Dan ketika Imam asy-Syaukani ditanya: ‘Apakah engkau tidak akan menulis syarah atas al-Jami‘ aSh-Shahih karya al-Bukhari?’ Beliau menjawab :

لَا هِجْرَةَ بَعْدَ الفَتْحِ

‘Tidak ada hijrah (berpindah) setelah adanya kitab Fathul Bari. [Majallatu Jami’ah Ummul Qura]

 

Ada kisah menarik mengenai al-Hafizh Ibnu Hajar. Al-Muanwi berkata : Ketika menjadi Qadlil Qudhat (hakim agung di Mesir), ia melewati pasar dengan iring-iringan besar dan penampilan yang indah. Tiba-tiba seorang Yahudi penjual minyak dengan pakaian gembel menghadangnya. Ia memegang tali kekang bighalnya dan berkata : ‘Wahai Syaikhal Islam, engkau mengklaim bahwa Nabi kalian bersabda: “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (sebagaimana hadits utama di atas). Lantas penjara apa yang engkau alami sekarang (karena engkau kaya), dan surga apa yang aku rasakan (karena aku miskin)?’ Ibnu Hajar menjawab :

أَنَا بِالنِّسْبَةِ لِمَا أَعَدَّ اللهُ لِي فِي الْآخِرَةِ مِنَ النَّعِيْمِ كَأَنِّي الْآنَ فِي السِّجْنِ

“Aku, dibandingkan dengan kenikmatan yang Allah siapkan untukku di akhirat, seakan-akan sekarang berada di dalam penjara”.

Sedangkan engkau, dibandingkan dengan adzab pedih yang Allah siapkan untukmu di akhirat, seakan-akan sekarang berada di dalam surga. Maka Yahudi itu pun masuk Islam.” [Faidlul Qadir]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk menjadikan kisah para ulama sebagai motivasi dalam hidup ini sehingga tidak mudah berputus asa menghadapi kerasnya hidup ini.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]




Thursday, December 4, 2025

ORANG BIJAK

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari An-Nu’man Bin Basyir RA, Rasul SAW bersabda :

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati.” [HR Bukhari]

 

Catatan Alvers

 

Ada manusia biasa namun ia dikisahkan di dalam firman Allah bahkan namanya dijadikan nama surat dalam Al-Qur’an. Ya, dia adalah Luqman yang bergelar “Al-Hakim” (orang yang bijak). Sa‘id bin al-Musayyib berkata : Allah memberinya hikmah tetapi tidak memberinya kenabian. Menurut mayoritas ahli tafsir, ia adalah seorang wali dan bukan nabi. Luqman adalah seorang lelaki berkulit hitam dengan bibir tebal dari Mesir. [Tafsir Al-Qurtubi] Dengan ini, ada benarnya klaim bahwa makam Luqman Al-Hakim berada di Mesir, tepatnya di kota Alexandria, yaitu berada di sebuah ruangan di bawah tanah di dalam kompleks Masjid Nabi Daniel. Dan Alhamdulillah, penulis pernah berziarah ke makamnya.

 

Allah SWT berfirman :

وَلَقَدْ آتَيْنا لُقْمانَ الْحِكْمَةَ

Sungguh kami telah memberikan “hikmah” kepada Luqman. [QS Luqman : 12]

Apa itu hikmah?. “Hikmah” berasal dari kata “Hakama” yang bermakna mencegah, mengekang. Pengait besi yang terdapat pada mulut kuda dalam bahasa arab disebut dengan “Hakamah”, dinamakan demikian karena ia dapat mencegahnya dari lari kencang maka kata-kata hikmah disebut demikian karena perkataan hikmah itu bisa mengekang orangnya dari akhlak yang tercela. [Lisanul Arab] dan Muqatil berkata : kata “hikmah” di dalam al-Quran tidak lepas dari empat makna: (1) nasehat- nasehat al-Quran sebagaimana dalam QS Al-Baqarah : 231, (2) pemahaman dan ilmu sebagaimana dalam QS Luqman: 12, (3) kenabian sebagaimana dalam QS Shad:20. (4) al-Quran sebagaimana dalam QS An-Nahl : 125. [Tafsir Ar-Razi]

 

Syeikh As-Syarbini Al-Khathib berkata : “Hikmah adalah ilmu yang disertai dengan amal, atau amal yang diperkuat dengan ilmu”. Ibnu Qutaybah berkata: “Tidaklah seseorang disebut sebagai orang bijak (ḥakīm) hingga terkumpul padanya hikmah dalam ucapan dan perbuatan.” Ia berkata :

وَلَا يُسَمَّى الْمُتَكَلِّمُ بِالْحِكْمَةِ حَكِيمًا حَتَّى يَكُونَ عَامِلًا بِهَا

“Tidaklah orang yang berbicara dengan hikmah disebut sebagai hakiim (orang bijak) sehingga ia mengamalkannya.” [Tafsir As-Sirajul Munir]

 

Al-Qurtubi berkata : Luqman itu hidup seribu tahun dan sempat bertemu dengan Nabi Dawud, lalu mengambil ilmu darinya. Sebelum Nabi Dawud menjadi Nabi, ia memberi fatwa. Namun ia berhenti memberi fatwa setelah Nabi Dawud menjadi Nabi. Ketika ditanya, ia menjawab: “Mengapa aku tidak berhenti (dari berfatwa), Jika sudah ada yang mencukupi?” [Tafsir Al-Qurtubi]

 

Pada suatu hari, ia mengumpulkan kayu bakar untuk tuannya lalu ada orang yang memandanginya (dengan heran karena ia berkulit hitam namun perkataannya banyak didengarkan orang). Luqman berkata :

إِنْ كُنْتَ تَرَانِي غَلِيظَ الشَّفَتَيْنِ فَإِنَّهُ يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِهِمَا كَلَامٌ رَقِيقٌ، وَإِنْ كُنْتَ تَرَانِي أَسْوَدَ فَقَلْبِي أَبْيَضُ.

“Jika engkau melihatku dengan bibir tebal, maka sesungguhnya darinya keluar perkataan yang lembut. Dan jika engkau melihatku hitam, maka hatiku putih.” [Tafsir Al-Qurtubi]

 

Khalid al-Rab‘iy berkata: Luqman adalah seorang tukang kayu. Suatu hari tuannya berkata kepadanya: “Sembelihlah seekor kambing dan bawakan kepadaku dua bagian yang paling baik.” Maka Luqman membawa lidah dan hati. Tuannya berkata: “Tidak ada bagian yang lebih baik dari keduanya?” Ia diam. Lalu tuannya memerintahkannya menyembelih kambing lain dan berkata: “Buanglah dua bagian yang paling buruk.” Maka ia pun membuang lidah dan hati. Tuannya berkata: “Aku memerintahkanmu membawa dua bagian terbaik, engkau membawa lidah dan hati. Aku memerintahkanmu membuang dua bagian terburuk, engkau juga membuang lidah dan hati?” Luqman menjawab :

إِنَّهُ لَيْسَ شَيْءٌ أَطْيَبَ مِنْهُمَا إِذَا طَابَا وَلَا أَخْبَثَ مِنْهُمَا إِذَا خَبُثَا.

“Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang lebih baik dari keduanya (lidah dan hati) jika keduanya baik, dan tidak ada yang lebih buruk dari keduanya jika keduanya buruk.” [Tafsir Al-Qurtubi]

 

“Hati menjadi penentu baik buruknya seseorang” itu sejalan dengan sabda Nabi pada hadits utama : “Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati.” [HR Bukhari]

 

Mulut juga demikian bahkan ia akan berpengaruh di akhirat. Nabi SAW bersabda : “Sungguh seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang diridhai Allah, suatu kalimat yang dia tidak mempedulikannya, namun dengannya Allah mengangkatnya beberapa derajat”.

وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Dan sungguh, seorang hamba akan mengucapkan sebuah kalimat yang dimurkai oleh Allah, suatu kalimat yang dia tidak memperdulikannya (tidak memikirkan akibatnya), namun dengannya Allah melemparkannya ke dalam neraka.” [HR Bukhari]

 

Diriwayatkan bahwa seorang lelaki berdiri di majelisnya dan berkata: “Bukankah engkau adalah orang yang dahulu menggembala bersamaku di tempat itu?” Ia menjawab: “Benar.” Lelaki itu bertanya: “Apa yang membuatmu sampai pada kedudukan yang kulihat sekarang?” Ia menjawab:

صِدْقُ الْحَدِيثِ وَالصَّمْتُ عَمَّا لَا يَعْنِينِي

“Kejujuran dalam berbicara dan diam dari hal yang tidak penting bagiku.” [Tafsir Al-Kassyaf]

 

Pernah satu ketika ia menemui Nabi Dawud AS yang sedang membuat baju besi, dan Allah telah melunakkan besi baginya seperti tanah liat. Luqman ingin bertanya, tetapi hikmah menahannya sehingga ia diam. Setelah Nabi Dawud menyelesaikan baju besi itu, beliau mengenakannya dan berkata: “Alangkah baiknya pakaian perang ini.” Maka Luqman berkata:

الصَّمْتُ حِكْمَةٌ وَقَلِيلٌ فَاعِلُهُ

“Diam itu adalah hikmah, namun sedikit orang yang melakukannya.”

Nabi Dawud pun berkata kepadanya: “Benarlah, engkau memang pantas disebut orang bijak (hakiim).” [Tafsir Al-Kassyaf]

 

Berikut beberapa kata hikmah dari Luqman. Ada orang bertanya : “Siapakah manusia yang paling buruk?” Luqman menjawab :

الَّذِي لَا يُبَالِي أَنْ رَآهُ النَّاسُ مُسِيئًا

“Orang yang tidak peduli dilihat manusia ketika ia berbuat buruk.” [Tafsir Al-Qurthubi]

 

Luqman juga berkata :

ضَرْبُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ كَالسِّمَادِ لِلزَّرْعِ

“Pukulan seorang ayah kepada anaknya itu seperti pupuk bagi tanaman.”

“Janganlah engkau menjadi terlalu manis hingga ditelan, dan jangan pula terlalu pahit hingga dibuang.” Jika engkau ingin berteman, maka ujilah trelebih dahulu dengan membuatnya marah. Jika ia berlaku adil kepadamu saat marah, maka bersahabatlah dengannya. Jika tidak, maka berhati-hatilah darinya.” “Tidak ada kekayaan yang menyamai kesehatan, dan tidak ada kenikmatan yang menyamai kelapangan jiwa.” [At-Tahrir Wat Tanwir]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk senantiasa menjaga hati dan lisan serta menjauhi perkara yang sia-sia. Juga kita tidak membeda-bedakan orang berdasarkan warna kulitnya karena orang berkulit hitampun seperti luqman bisa menjadi mulia karena hikmahnya.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada supaya sabda Nabi SAW menghiasi dunia maya dan menjadi amal jariyah kita semua.




Wednesday, December 3, 2025

KEUTAMAAN MENTRAKTIR TEMAN

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal RA, Rasul SAW bersabda :

مَنْ أَطْعَمَ مُؤْمِنًا حَتَّى يُشْبِعَهُ مِنْ سَغَبٍ أَدْخَلَهُ اللَّهُ بَابًا مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ، لا يُدْخِلُهُ إِلا مَنْ كَانَ مِثْلَهُ"

“Barangsiapa memberi makanan seorang mukmin hingga ia kenyang dari kelaparan, maka Allah akan memasukkannya melalui sebuah pintu (khusus) dari pintu-pintu surga, yang tidak dimasuki kecuali oleh orang yang seperti dirinya.” [HR al-Hakim]

 

Catatan Alvers

 

Dalam dunia pertemanan, mabar atau makan bareng adalah hal yang biasa namun istimewanya ada saja teman yang selalu tampil di depan ketika waktunya membayar makanan telah tiba. Hal ini terkadang mendatangkan pertanyaan, kenapa ia rajin bayarin makanan teman? Kenapa ia lebih mudah mendapatkan rizki khususnya secara finansial, tapi sebaliknya teman yang inginnya dibayarin terus dan menginginkan traktiran itu kebanyakan malah kesulitan secara finansial?.

 

Mereka yang sukanya mentraktir teman itu bukan sok kaya, atau ingin kelihatan lebih dari teman yang lain, bukan demikian. Tapi mereka adalah orang yang menghargai setiap pertemuan dan pertemanan. Mereka ingin pertemanan itu semakin erat karena dengan memberi hadiah berupa traktiran maka akan semakin solid pertemanannya. Rasul SAW bersabda:

تَهَادوْا تَحَابُّوا

“Hendaklah kalian saling memberi hadiah, karena hal itu akan membuat kalian saling mencintai.” [HR Al Baihaqi]

 

Dalam hadits lain, Rasul SAW bersabda:

السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنْ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنْ الْجَنَّةِ قَرِيبٌ مِنْ النَّاسِ

orang yang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan surga dan pula dekat dengan manusia... [HR Turmudzi]

 

Kedua, teman yang suka mentraktir itu tidak selamanya berkelimpahan harta. Boleh jadi dengan apa yang ia lakukan ia mengaharapkan kebajikan yang sempurna. Allah SWT berfirman:

لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. [QS Āli ‘Imrān : 92].

 

Keempat, boleh jadi ia sedang berjuang melawan ancaman setan. Allah SWT berfirman:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ

Setan menjanjikan kamu dengan kemiskinan. [QS al-Baqarah : 268].

 

Dan sebaliknya ia ingin meraih doa malaikat, yaitu :

اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا

Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak. [HR Bukhari]

 

Kelima, ia yang suka mentraktir ingin melakukan amalan yang paling dicintai oleh Allah SWT. Bukankah Rasul SAW bersabda :

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ ... أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا

“Perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberi kegembiraan kepada seorang mukmin... atau menghilangkan rasa laparnya”. [HR Thabrani]

 

 Keenam. Ia ingin menjadi mukmin yang sempurna karena Rasul SAW bersabda:

الْمُؤْمِنُ غِرٌّ كَرِيمٌ وَالْفَاجِرُ خِبٌّ لَئِيمٌ

“Seorang mukmin itu senantiasa berlapang dada dan dermawan, sedangkan seorang fajir itu bakhil dan berakhlak buruk.“ [HR Tirmidzi]

 

Ketujuh, ia bahagia di akhirat kelak karena Nabi SAW bersabda dalam hadits utama : “Barangsiapa memberi makanan seorang mukmin hingga ia kenyang dari kelaparan, maka Allah akan memasukkannya melalui sebuah pintu (khusus) dari pintu-pintu surga, yang tidak dimasuki kecuali oleh orang yang seperti dirinya.” [HR al-Hakim]

 

Jika Anda adalah tim yang suka mentraktir maka yakinlah dengan movasi diatas dan janganlah mengungkit-ngungkit traktiran dan menuntut teman untuk membalasnya. Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” [QS Al-Baqarah : 264]

 

Namun jika Anda adalah tim yang lebih suka ditraktir maka sesekali harus mentraktir, jangan terus-terusan ingin ditraktir sebab dalam hadits di atas Rasul SAW memerintahkan kita untuk “saling memberi hadiah”. Jika belum punya rizki untuk membalas traktiran maka minimal ada niatan untuk itu. Rasul SAW menceritakan orang yang punya ilmu tapi tidak memiliki uang namun ia memiliki niat yang kuat (untuk berbuat kebaikan semisal mentraktir) sehingga ia berkata :

لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ

“Seandainya aku memiliki uang maka aku akan melakukan perbuatan si fulan (yang suka mentraktir itu)”,

maka orang tersebut akan mendapatkan pahala yang sama dengan si dermawan (teman yang mentraktir) tadi. [HR Turmudzi]

 

Dan selama kita menerima traktiran dan belum bisa mentraktir maka jangan lupa untuk selalu membalas kebaikannya minimal dengan mendoakannya. Rasul SAW bersabda : “Siapa saja yang berbuat baik kepada kalian, maka balaslah kebaikannya. Jika engkau tidak mampu membalasnya maka :

فَادعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوا أَنَّكُم قَد كَافَأتُمُوهُ

“doakanlah dia sampai-sampai kalian yakin telah benar-benar mengimbangi kebaikan nya.” [HR Abu Daud]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk suka mentraktir daripada ditraktir dan meyakini bahwa mentraktir itu tidak merugikan namun sebaliknya ia akan menguntungkan di dunia maupun di akhirat

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada supaya sabda Nabi SAW menghiasi dunia maya dan menjadi amal jariyah kita semua.

Tuesday, December 2, 2025

NIL, SUNGAI DARI SURGA

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :

سَيْحَانُ وَجَيْحَانُ وَالْفُرَاتُ وَالنِّيلُ كُلٌّ مِنْ أَنْهَارِ الْجَنَّةِ

Sayhan, Jayhan, Furat, Nil itu semua berasal dari sungai-sungai surga. [HR Muslim]

 

Catatan Alvers

 

Hadits tersebut adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Imam bukhari juga meriwayatkan hadits yang senada, yaitu ketika Rasul SAW mi’raj hingga sampai ke langit dunia setelah langit yang ke tujuh, beliau menemukan dua sungai yang mengalir. Lalu beliau bertanya: ‘Wahai Jibril, Apakah dua sungai ini?’ Jibril menjawab:

هَذَا النِّيلُ وَالْفُرَاتُ عُنْصُرُهُمَا

‘Ini adalah asal dari Sungai Nil dan Sungai Efrat.’ [HR Bukhari]

 

Dan dalam hadits lain ketika Nabi sampai ke sidratul muntaha, beliau menemukan di dasarnya terdapat empat sungai, dua sungai bathin dan dua sungai dhahir. Beliaupun bertanya lalu Jibril berkata :

 

أَمَّا الْبَاطِنَانِ فَفِي الْجَنَّةِ وَأَمَّا الظَّاهِرَانِ النِّيلُ وَالْفُرَاتُ

Adapun dua sungai yang bathin berada di surga, sedangkan dua sungai yang dhahir adalah Sungai Nil dan Sungai Efrat.” [HR Bukhari]

 

Sungai nil berasal dari air surga? Apa maksudnya? al-Qadli Iyadl menyebutkan dua penafsiran (takwil) dari hadits tersebut yaitu : Pertama, (ditafsiri secara majazi) bahwa iman telah meliputi negeri di mana sungai itu berada, atau jasad-jasad yang mendapatkan asupan dari airnya akan kembali menuju surga. Kedua, (penfsiran secara hakiki) dan ini yang lebih kuat, bahwa hal itu sesuai dengan makna lahiriah, yakni sungai-sungai tersebut memiliki materi (maaddah) dari surga. Surga itu sendiri adalah makhluk yang telah diciptakan dan ada saat ini menurut keyakinan Ahl al-Sunnah. Imam Muslim telah menyebutkan dalam Kitab al-Iman pada hadits Isra’ bahwa Sungai Efrat dan Nil keluar dari surga. Sedangkan dalam riwayat al-Bukhari disebutkan dari dasar Sidratul Muntaha.” [Syarah Muslim]

 

Ibnu Hajar al-Asqalani berkata : “Kesimpulannya, asal sungai-sungai itu berada di surga. Keduanya (Nil dan Efrat) awal mulanya keluar dari asalnya, kemudian mengalir hingga menetap di bumi lalu memancar (menjadi mata air). Dari hal ini diambil dalil tentang keutamaan air Sungai Nil dan Efrat karena sumbernya dari surga... Ada juga yang mengatakan bahwa penyebutan sungai-sungai ini berasal dari surga hanyalah sebagai perumpamaan dengan sungai-sungai surga,

لِمَا فِيهَا مِنْ شِدَّة الْعُذُوبَةِ وَالْحُسْنِ وَالْبَرَكَةِ

“karena di dalamnya terdapat rasa yang sangat segar, keindahan, dan keberkahan”.

Namun pendapat pertama lebih utama.” [Fathul Bari]

 

Ulama kontemporer rupanya lebih condong kepada penafsiran terakhir ini. Syekh Ali Jum’ah diantaranya, yang merupakan mantan mufti agung Mesir dan anggota Majelis Ulama Mesir berkata : “Nil dan Efrat yang ada di surga bukanlah Nil dan Efrat yang ada di bumi, tetapi keduanya mirip dalam bentuk. Maksudnya adalah kita dapat melihat gambaran surga dalam kehidupan dunia dengan melihat Nil dan Efrat... Sebagai contoh, jika engkau ingin melihat seseorang dari penghuni surga, maka lihatlah kepada ibu seorang syahid ... Maka mungkin saja kita melihat penghuni surga di dunia. Itulah makna sabda Nabi SAW : ‘Surga berada di bawah telapak kaki ibu’. Dengan berbakti kepada ibu, engkau dapat melihat surga... Sebagaimana kita akan menemukan air, buah-buahan, dan lainnya, sebagaimana firman Allah Ta‘ala dalam Surat al-Baqarah ayat 25 : Wa utu bihi Mustasyabiha (Dan mereka diberi rezeki di dalamnya buah-buahan yang serupa). Di surga terdapat sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia.” [vetogate com]

 

Terlepas dari perbedaan penafsiran di atas maka hadits shahih diatas menunjukkan akan keutamaan air Sungai Nil dari sungai-sungai lainnya. Dan alhamdulillah penulis sendiri telah mengunjungi sungai nil. Sungai Nil memiliki panjang lebih dari 6.500 km. Melewati 11 negara. Sungai Nil adalah sungai terpanjang di dunia (polemik). [Detik com]. Sungai ini juga berkontribusi besar bagi kehidupan warga negara Mesir (yang merupakan negara tandus).

 

Dahulu, sungai Nil setiap tahunnya mengalami surut dan untuk membuatnya mengalir kembali maka orang mesir saat itu menjadikan seorang gadis sebagai tumbalnya. Dan ketika Amr bin ash menguasai mesir maka ia melarang hal itu. Ketika surut melanda sungan Nil hingga tiga bulan dan orang-orang mesir hampir-hampir meninggalkan negeri itu karena kekeringan maka ‘Amr menulis surat kepada ‘Umar bin al-Khaṭṭāb. Dan ‘Umar mengirimkan surat untuk dilemparkan ke dalam sungai nil. Surat itu berbunyi : “Dari hamba Allah, ‘Umar Amirul Mukminin, kepada Nil penduduk Mesir. Amma ba‘d:

فَإِنْ كُنْتَ تَجْرِي مِنْ قِبَلِكَ فَلَا تَجْرِ، وَإِنْ كَانَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ يُجْرِيكَ فَنَسْأَلُ اللَّهَ الْوَاحِدَ الْقَهَّارَ أَنْ يُجْرِيَكَ.

Jika engkau mengalir dari dirimu sendiri, maka janganlah engkau mengalir. Tetapi jika Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa yang menjadikanmu mengalir, maka kami memohon kepada Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa agar menjadikanmu mengalir.” [Kanzul Ummal]

 

‘Amr pun melemparkan kartu itu ke dalam sungai Nil dan Keesokan harinya, Allah menjadikan Nil mengalir setinggi enam belas hasta. Maka tahun buruk itu pun terputus dari penduduk Mesir. Kisah ini juga terdapat dalam Tafsir Ibni Katsir.

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk memahami apa yang kita temui melalui hadits sesuai dengan penafsiran para Ulama.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada supaya sabda Nabi SAW menghiasi dunia maya dan menjadi amal jariyah kita semua.