Jumat, 16 September 2016

“SENTUHAN” BAROKAH




ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari ‘Abis bin Rabi’ah, ia berkata, “Aku pernah melihat ‘Umar bin Al-Khatthab RA mencium hajar Aswad. Lantas ‘Umar berkata,
إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُقَبِّلُكَ لَمْ أُقَبِّلْكَ
 “Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat RasulullahSAW, maka tentu aku tidak akan menciummu.” [HR Muslim]

Catatan Alvers

Berbeda cara pandang dan persepsi terhadapat suatu permasalahan dapat menyebabkan perbedaan dalam menilai sesuatu tersebut. Tidak jarang jika hal ini dibiarkan dan tidak segera diluruskan maka akan timbul kesalah-pahaman dan selanjutnya akan timbul paham yang salah.

Pada zaman jahiliyah yang kental dengan kultus benda pusaka yang mereka jadikan berhala maka mencium sebuah batu akan diartikan sebagai sebuah peng-kultusan kepada batu tersebut. Bahkan pasca masuk islam, dari kalangan mereka masih banyak yang rentan akan kesalah pahaman ini. Dari latar belakang inilah kita pahami mengapa Umar berkata demikian (pada hadits di atas) ketika ia mencium hajar aswad. At-Thabari berkata : ‘Umar saat itu melihat banyak kaum yang dulunya menyembah berhala sehingga umar khawatir orang-orang bodoh mengira bahwa mencium hajar asawad sama halnya mengagungkan batu sebagaimana yang dilakukan oleh orang arab pada masa jahiliyah. Umar ingin mengajari mereka bahwa mencium hajar aswad itu adalah meniru perbuatan Nabi SAW, dan bukan karena keistimewaan batu itu sendiri sebagaimana keyakinan orang-orang jahiliyah kepada batu berhala mereka. [Kitab : Tuhfatul Ahwadzi]


Di sinilah butuh kejelian membedakan keduanya, sama-sama mencium sebuah batu maka yang satu menjadi musyrik dan yang lain adalah orang islam. Orang musyrik mencium batu untuk menyembahnya sementara orang islam menciumnya karena ada ajaran dan tuntunannya, bahkan wujud kecintaan kepada Nabinya.
Inilah yang tidak dipahami oleh orang-orang di luar agama islam atau orang yang dangkal pengetahuannya akan agama islam. orang yang di luar islam ketika melihat kaum muslimin melakukan sholat dan bersujud ke arah ka’bah maka mereka buru-buru berkata “aneh, agama islam melarang orang lain bersujud kepada berhala sementara mereka sendiri bersujud kepada batu (ka’bah)”.

Sama halnya dengan orang yang dangkal pengetahuannya akan agama islam, tatkala mereka melihat santri berebut bekas minuman kyainya mereka buru-buru mengatakan syirik, ghuluw (berlebihan dalam agama) dan tuduhan- tuduhan lainnya. Mereka lupa atau memang “melupakanakan kejadian yang dialami sayyidina umar di atas. Boleh jadi mereka tidak tahu atau tidak “tahu menahu” akan apa yang diperbuat shahabat kepada Nabi-Nya.

Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idiy RA, ia berkata, Rasulullah SAW pernah disodori suatu minuman. Di sebelah kanan beliau ada seorang anak muda dan sebelah kiri beliau terdapat para sepuh. Nabi SAW mengatakan pada anak muda tersebut,
أَتَأْذَنُ لِى أَنْ أُعْطِىَ هَؤُلاَءِ
“Apakah engkau mengizinkanku memberikan minuman ini terlebih dahulu pada mereka yang lebih sepuh?
Pemuda itu menjawab,
لاَ ، وَاللَّهِ لاَ أُوثِرُ بِنَصِيبِى مِنْكَ أَحَدًا
“Tidak. Demi Allah aku tidak mau “jatah”ku dari (bekas minummu) lebih dahulu diserahkan pada orang lain.”
Lantas minuman tersebut diserahkan ke tangan pemuda tersebut.” [HR Bukhari –Muslim] dan pemuda tersebut Adalah Abdullah Ibnu Abbas yang digelari sebagai Turjuman Al-Qur’an (penafsir Al-Qur’an), Habrul Ummah (guru umat) karena keluasan ilmu yang dimilikinya, dan Ra’isul mufassirin (pemimpin para mufassir).

Kisah lainnya sebagaimana dituturkan oleh Urwah As-Tsaqafi, salah seorang utusan Makkah yang melaporkan pada kaumnya: “Orang Islam itu luar biasa! Demi Allah aku pernah menjadi utusan menemui raja-raja. Aku pernah berkunjung pada kaisar Kisra (Raja Persia) dan Najasyi (Raja ethiopia).
والله إن رأيت ملكا قط يعظمه أصحابه ما يعظم أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم محمدا
Demi Allah belum pernah aku melihat seorang raja yang diagungkan oleh pengikutnya seperti sahabat-sahabat mengagungkan Muhammad SAW.
Demi Allah, jika ia berdahak (nukhamah), maka dahaknya selalu jatuh pada telapak tangan salah seorang di antara mereka. Mereka usapkan dahak itu kewajahnya dan kulitnya. Bila ia memerintah mereka berlomba melaksanakannya, bila ia hendak wudhu, mereka hampir berkelahi untuk memperebutkan (sisa) air wudhuNya.” [HR Bukhari]

Para santri yang berebut sisa minuman di atas sangat paham akan kisah-kisah sahabat seperti ini sehingga mereka termotivasi melakukannya mengingat para ulama adalah pewaris para Nabi bahkan ada “sesuatu” yang mereka harapkan dari hal tersebut. Kisah berikut barangkali bisa sedikit menjelaskannya.

Suatu saat, Abu Nashr Bisyr bin al-Harits al-Hafi (150-227 H) atau yang biasa dikenal dengan nama Syeikh Bisyr al-Hafiy seorang ulama yang terkenal dengan keshalihannya berjalan di dalam pasar dengan tawadlu`nya.  Ketika berjalan, beliau sempat mengusap sebuah semangka sambil terus berjalan. Melihat kejadian ini, orang-orang berlomba-lomba ingin membeli buah tersebut dengan harga yang mahal. Karena banyaknya orang yang menginginkan buah tersebut, akhirnya buah tadi dilelang.

Dalam lanjutan kisah ini, Syeikh Zamakhsyari menceritakan bahwa di Baghdad terdapat sepuluh pemuda yang berkumpul untuk melakukan dugem (duduk gembira). Salah seorang diantara mereka dikirim ke pasar untuk membeli makanan. Sekembalinya dari pasar ia membawa buah semangka yang di cium-ciuminya. Lantas ia berkata :
جئتكم بفائدة، وضع بشر الحافي يده على هذه البطيخة فاشتريتها بعشرين درهما تبركا بموضع يده
Aku membawa sesuatu yang bermanfaat untuk kalian. Aku membawa buah semangka dimana Syeikh Bisyr Al-Hafi telah mengusapnya, lalu aku membelinya dengan harga 20 dirham (Rp. 1.200.000,-) karena ingin mengambil barokah dengan bekas sentuhan tangan beliau.

Lalu teman-teman yang lain ikut menciumi buah semangka tadi dan mengusapkannya ke dahi mereka. Ada sebagian mereka bertanya :”apakah keistimewaan bisyr itu?”. Mereka menjawab: Taqwa kepada Allah dan amal shalih. Kemudian yang bertanya tadi berkata: “Saksikanlah, Sesungguhnya aku sekarang bertaubat kepada Allah dan akau akan ikut thariqatnya (Taqwa dan Amal Shalihnya) Bisyr”. Pemuda yang lainpun sepakat dengan pernyataan ini dan mereka semuanya bertaubat. [Kitab : Rabi’ul Abrar] Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk melihat segala sesuatu dengan objektif dan tidak mudah men-syirikkan orang lain.

Salam Satu Hadith,
DR.H.Fathul Bari, Malang, Ind

ONE DAY ONE HADITH
Kajian Hadits Sistem SPA (Singkat, Padat, Akurat)
READY STOCK BUKU ONE DAY#1
Distributor : 081216742626

0 komentar:

Posting Komentar