Senin, 12 September 2016

SABAR DALAM BERKORBAN




ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Shuhaib bin Sinan RA, Rasul Saw bersabda :
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya adalah yang terbaik (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah yang terbaik baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu yang terbaik baginya”[HR Muslim]

Catatan Alvers

Kisah pengurbanan identik dengan kesabaran. Kesabaran menjalani perintah yang tercermin dari perilaku Nabi Ibrahim AS dan kesabaran menerima ketetapan Allah SWT  yang tercermin dari perilaku Nabi Ismail AS. Allah SWT mengabadikan kisah tersebut dalam Al-Quran, Allah berfirman :
 وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ
Kami abadikan (kisah baik) Ibrahim di kalangan ummat yang datang kemudian [QS Ash-Shaffat : 108]


Secara ringkas, Allah SWT mengisahkan pengurbanan ini dalam firmanNya:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." [QS Ash-Shaffat : 102]

Saat itu Nabi Ismail berusia baligh (kurang lebih 12 tahun) menurut ibnu Abbas) [Tafsir Qurtubi] dan mimpi seorang Nabi adalah wahyu, Sahabat Ibnu ‘Abbas RA berkata :
رُؤْيَا الأَنْبِيَاءِ فِي المنَامِ وَحْيٌ
“Penglihatan para nabi dalam mimpi itu wahyu.” [HR Al-Hakim]
Selanjutnya pada tanggal 10 Dzulhijjah keduanya melaksanakan wahyu tersebut. Allah SWT berfirman :
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ.
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).
 [QS Ash-Shaffat : 103]

Kejadian itu terjadi di atas batu besar di Tanah Mina. Nabi Ibrahim pun meletakkan pisau besarnya di leher putra beliau. Kemudian beliau menyembelih leher putra beliau dengan kuat, akan tetapi atas kehendak Allah pisau tersebut tak mampu memotong leher Nabi Ismail bahkan menggoresnya pun tidak. Malaikat Jibril yang datang, takjub melihat apa yang dilakukan Nabi Ibrahim. Malaikat Jibril sambil membawa seekor domba yang besar yang dulunya adalah domba qurban Habil, putra Nabi Adam yang masih hidup dalam surga. Kemudian domba tersebut dijadikan ganti dari Nabi Ismail. Malaikat jibril bertakbir :
الله أكبر الله اكبر الله اكبر
Kemudian Nabi Ibrahim AS menjawab :
لا إله إلا الله والله اكبر
Nabi Ismail pun mengikuti :
الله اكبر ولله الحمد
Kisah asal usul takbir hari taya ini diceritakan oleh Syekh Ustman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakiri Al-Khoubawi [Dzurratun Nasihin]

lalu Allah SWT berfirman :
وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَاإِبْرَاهِيمُ. قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Kami tebus (ganti) anak itu dengan seekor sembelihan yang besar [QS Ash-Shaffat : 104-107]

“InsyaAllah minas Shabirin”, itulah kata kunci dari semua problematika yang identik dengan kehidupan dunia yang merupakan tempat ujian dan penderitaan “Liyabluwakum ayyukum ahsanu amala [QS Al-Mulk : 2]

Terdapat kisah tentang kesabaran yang sangat menarik untuk disimak. Abul Hasan as-Sarraj bercerita : Aku berhaji ke baitullah dan ketika sedang tahwaf aku melihat seorang wanita yang wajahnya terlihat berseri-seri sekali, tidak nampak rasa sedih di wajahnya. Aku berkata : “Demi Allah, hingga hari ini Aku belum pernah melihat seseorang dengan wajah yang berseri-seri dan memancarkan aura kebahagiaan seperti yang dimiliki oleh wanita itu. Aku yakin hal itu dikarenakan ia tidak pernah sedikitpun susah atau sedih”. Tanpa diduga, wanita itu mendengar perkataanku dan iapun berkata :”Apapun yang kau katakan wahai lelaki, Ketahuilah demi Allah aku tertimpa kesedihan dan kesusahan yang tidak pernah menimpa seorangpun”. Di hari raya idul Adha, suamiku menyembelih seekor kambing dan 2 anak kecilku bermain  dan aku menggendong bayi untuk menetekinya sambil memasak. Anak yang besar dari kedua anakku yang bermain tadi berkata kepada adiknya: “maukah aku tunjukkan kepadamu bagaimana ayah menyembelih kambing tadi?” Sang adik mengiyakan. Sang kakak lalu mengikat kaki dan tangan sang adik seperti yang dilakukan sang ayah kepada kambingnya. Mulailah sang kakak memegang pisau yang perlahan ia tempelkan ke leher adiknya lalu iapun melakukan apa yang sebelumnya disaksikannya. Tatkala adiknya meringis kesakitan dan darah berkucuran maka sang kakak panik lalu kabur melarikan diri ke arah gunung yang tidak jauh dari rumah. Sang Ayah mencarinya ke arah gunung namun tak kunjung menemukannya, hingga sang ayah kehausan dan meninggal di sana. Sang kakak tidak juga diketemukan karena ternyata ia telah dimangsa serigala. Aku taruh bayiku, dan aku bergegas keluar rumah untuk menunggu suamiku. Tak terduga, bayiku merangkak menuju tungku yang di atasnya terdapat bejana (panci) dengan air mendidih di dalamnya. Sang bayi meraih panci dan air mendidihpun tumpah ke tubuhnya hingga bayiku meninggal dunia. Putri pertamaku yang sudah berumah tangga mendengar musibah ini, lalu iapun pingsan seketika jatuh ke tanah dan iapun menemui ajalnya. Maka tinggallah aku seorang diri.

Abul Hasan as-Sarraj lalu bertanya : Bagaimana kau bisa bersabar atas kejadian berat yang menimpamu ini?. Wanita itu menjawab:
مَا مِنْ أَحَدٍ مَيَّزَ الصَّبْرَ وَالْجَزَعَ إِلَّا وَجَدَ بَيْنَهُمَا مِنْهَاجًا مُتَفَاوِتًا فَأَمَّا الصَّبْرُ بِحُسْنِ الْعَلاَنِيَّةِ فَمَحْمُوْدُ الْعَاقِبَةِ وَأَمَّا الْجَزَعُ فَصَاحِبُهُ غَيْرُ مُعَوَّضٍ
Tiada seorangpun yang membedakan antara sabar dan kesedihan (tidak sabar) melainkan ia akan menemukan perbedaan (hasil) di antara keduanya. Bersabar memperbaiki kondisi lahiriyah akan mendatangkan happy ending (akhir yang baik), sedangkan kesedihan (tidak sabar) tidak akan menggantikan apapun yang telah hilang dari pemiliknya. [Kitab: Irsyadul Ibad ila Sabilir rasyad]

Dalam versi lain yang mirip, saya temukan dalam karya Ibnul Jauzi yang bersumber dari Sa’id Abu Utsman. Pada ending kisah, Lelaki bertanya : Lantas bagaimana kau bisa sabar menghadapi semua musibah ini? Apakah resepnya hingga kau sabar dan tabah bahkan tidak terlihat kesusahan dari wajahmu? Wanita itu berkata :
لَوْ رَأَيْتُ فِي الْجَزَع ِمَدْرَكاً مَا اِخْتَرْتُ عَلَيْهِ.
“Seandainya aku mengetahui bahwa di dalam suatu kesedihan terdapat solusi niscaya aku akan memilihn untuk bersedih”. [Kitab : Shifatus Shafwah] Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk selalu bersabar dan bersyukur sehingga kita senantiasa berada dalam top condition.

Salam Satu Hadith,
DR.H.Fathul Bari, Malang, Ind

ONE DAY ONE HADITH (ODOH)
Sistem SPA (Singkat, Padat, Akurat)
Pesan Online Buku ODOH
Hub. Muadz HP. 08121674-2626

0 komentar:

Posting Komentar