ONE DAY ONE HADITH
Diriwayatkan dari Abu
Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :
هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ
”Laut itu suci airnya dan halal
bangkainya." [HR Tirmidzi]
Catatan Alvers
Seorang ahli
oceanografer dan ahli selam terkemuka asal Prancis. Bernama Mr. Jacques Yves
Costeau. Yang dikenal dengan acara TV ‘Discovery Chanel’ menghabiskan hidupnya
dengan menyelam ke berbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film
dokumenter tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton oleh seluruh dunia.
Pada suatu hari
ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemukan
beberapa kumpulan mata air tawar segar yang sangat sedap rasanya karena tidak
bercampur dengan air laut yang asin di sekelilingnya. Seolah-olah ada dinding
atau membran yang membatasi keduanya. Ia berpikir, jangan-jangan itu hanya
halusinasi saja. Jawaban tak kunjung ia
dapatkan sehingga ia bertemu dengan seorang profesor muslim yang mengatakan
fenomena tersebut telah disinggung dalam Quran yaitu :
وَهُوَ ٱلَّذِى مَرَجَ ٱلْبَحْرَيْنِ هَٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَٰذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ
بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَّحْجُورًا
Dan Dialah yang
membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan
yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas
yang menghalangi. [QS Al-Furqan : 53]
Terpesonalah Mr.
Costeau mendengar ayat-ayat Alquran itu, melebihi kekagumannya melihat
keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Ia pun berpikir,
Alquran ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu
zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang
jauh terpencil di kedalaman samudera. Dengan seketika dia pun memeluk Islam. [baitulmaqdis
com] Namun dikabarkan ia masuk Islam secara
diam-diam, sehingga ketika ia meninggal pada tahun 1997, banyak orang
terdekatnya yang tidak tahu. Dan Iapun dikabarkan dimakamkan di Katedral Notre
Dame di Paris. [Republika]
Dahulu para
mufassir menafsirkan dengan sederhana. Ayat tentang bertemunya dua lautan tapi
tak bercampur airnya itu diartikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi
pertemuan antara air tawar dari sungai dan air asin dari laut. Hal ini
sebagaimana Al-Baidlawi (W. 1319 M) berkata : “Dan dikatakan bahwa yang
dimaksud dengan laut tawar adalah sungai besar seperti Sungai Nil, sedangkan laut
asin adalah laut besar. Adapun barzakh ialah daratan yang memisahkan keduanya.”
[Tafsir Anwarut Tanzil] Namun Mufasir terlihat rancu ketika menafsirkan ayat
berikutnya :
يَخْرُجُ مِنْهُمَا ٱللُّؤْلُؤُ وَٱلْمَرْجَانُ
Dari keduanya
keluar mutiara dan marjan. [QS Ar-Rahman : 22]
Kata “Minhuma” pada
ayat ini menegaskan bahwa kedua-duanya (Laut dan sungai) mengeluarkan mutiara
dan marjan namun kenyataannya air sungai tidak mengeluarkan mutiara dan marjan,
hanya laut saja mengeluarkannya. Al-Baidlawi berkata : Ketika keduanya (air
laut dan sungai) bertemu maka keduanya menjadi satu sehingga sekan-akan mutiara
yang dikeluarkan dari salah satunya itu dianggap seperti keluar dari keduanya. [Tafsir
Anwarut Tanzil] Adapun pada penemuan Costeau tadi yang menyatakan bahwa di
bawah laut ada beberapa kumpulan mata air tawar segar yang sangat sedap rasanya
karena tidak bercampur dengan air laut yang asin di sekelilingnya seolah-olah
ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.
Dengan demikian
sekali lagi dapat dinyatakan bahwa Al-quran itu mustahil disusun oleh Nabi Muhammad
yang hidup di abad ke tujuh, dimana saat itu belum ada peralatan selam yang
canggih untuk mencapai kedalaman samudera. Dan beliaupun bukan seorang Ahli
kelautan bahkan tidak ada
riwayat yang menyebutkan bahwa beliau pergi ke laut atau naik perahu. Meskipun
ada hadits (dla’if) yang sering kita dengar yaitu :
عَلِّمُوا أَبْنَاءَكُمُ
السِّبَاحَةَ
Ajarilah anak kalian berenang. [HR Baihaqi]
Seandainya nabi
pernah ke lautpun maka itu tidaklah cukup untuk memaparakan deskripsi tentang
fenomena laut seperti itu padahal
Quran juga membicarakan keadaan laut ketika ombak mengepung kapal, serta
keadaan dasar laut yang berupa kegelapan bertingkat-tingkat.
Adapun pada hadits
utama di atas, Rasul SAW konteksnya menjawab pertanyaan. Abu Hurairah RA
mendengar ada seorang lelaki bertanya : Wahai Rasulullah, Kami naik perahu di
atas laut sedangkan kami membawa sedikit air tawar. Jika kami gunakan berwudlu
maka kami akan kehausan (karena kehabisan air tawar). Lalu apakah boleh
berwudlu dengan air laut?. Menjawab pertanyaan tersebut maka Rasul Saw bersabda
: “Laut itu suci airnya dan halal bangkainya." [HR
Tirmidzi]
Maha benar Allah SWT
yang berfirman : Allahlah yang telah menundukkan laut untukmu agar kapal-kapal
dapat berlayar di atasnya dengan perintah-Nya, agar kamu dapat mencari sebagian
karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur. [12] Dia telah menundukkan (pula) untukmu
apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat)
dari-Nya.
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Sesungguhnya pada
yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum
yang berpikir. [QS Al-Jatsiyah : 13]
Dan memang ada
hadits yang menyatakan memandang laut itu adalah ibadah, namun haditsnya dla’if
(lemah) bahkan dalam situs dorar dinyatakan sebagai Fake hadith (Hadits maudlu’,
palsu). Yaitu :
النَّظَرُ
فِي ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ عِبَادَةٌ: النَّظَرُ فِي وَجْهِ الْأَبَوَيْنِ، وَفِي
الْمُصْحَفِ، وَفِي الْبَحْرِ
Melihat kepada tiga hal adalah ibadah : Melihat wajah
kedua orang tua, melihat mushaf
(Al-Qur’an) dan melihat laut. [HR Ad-Daylami]
Al-Hakim
(At-Tirmidzi) berkata :
Telah datang dalam sebuah riwayat bahwa melihat laut adalah ibadah
... Hal ini dikarenakan
dengan pandangan tersebut seseorang beribadah kepada Allah: ia melihat laut
dengan pandangan kekuasaan Allah, melihat keluasan, lebar, dan ombaknya lalu
mengambil pelajaran. [Faidlul
Qadir]
Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari
membuka hati dan pikiran kita untuk semakin meyakini kebenaran Al-Qur’an
dengan tersingkapnya satu persatu fenomena alam yang merupakan tanda-tanda
kebesaran Allah SWT.
Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag
Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!
NB.
Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan
Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu
dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya
hilang”. [Al-Majmu’]






0 komentar:
Post a Comment