Sunday, January 18, 2026

MELIHAT LAUT

 

ONE DAY ONE HADITH

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :

هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

”Laut itu suci airnya dan halal bangkainya." [HR Tirmidzi]

 

Catatan Alvers

 

Seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka asal Prancis. Bernama Mr. Jacques Yves Costeau. Yang dikenal dengan acara TV ‘Discovery Chanel’ menghabiskan hidupnya dengan menyelam ke berbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton oleh seluruh dunia.

 

Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemukan beberapa kumpulan mata air tawar segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur dengan air laut yang asin di sekelilingnya. Seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya. Ia berpikir, jangan-jangan itu hanya halusinasi saja.  Jawaban tak kunjung ia dapatkan sehingga ia bertemu dengan seorang profesor muslim yang mengatakan fenomena tersebut telah disinggung dalam Quran yaitu :

وَهُوَ ٱلَّذِى مَرَجَ ٱلْبَحْرَيْنِ هَٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَٰذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَّحْجُورًا

Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi. [QS Al-Furqan : 53]

 

Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Alquran itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Ia pun berpikir, Alquran ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Dengan seketika dia pun memeluk Islam. [baitulmaqdis com] Namun dikabarkan ia masuk Islam secara diam-diam, sehingga ketika ia meninggal pada tahun 1997, banyak orang terdekatnya yang tidak tahu. Dan Iapun dikabarkan dimakamkan di Katedral Notre Dame di Paris. [Republika]

 

Dahulu para mufassir menafsirkan dengan sederhana. Ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya itu diartikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air asin dari laut. Hal ini sebagaimana Al-Baidlawi (W. 1319 M) berkata : “Dan dikatakan bahwa yang dimaksud dengan laut tawar adalah sungai besar seperti Sungai Nil, sedangkan laut asin adalah laut besar. Adapun barzakh ialah daratan yang memisahkan keduanya.” [Tafsir Anwarut Tanzil] Namun Mufasir terlihat rancu ketika menafsirkan ayat berikutnya :

يَخْرُجُ مِنْهُمَا ٱللُّؤْلُؤُ وَٱلْمَرْجَانُ

Dari keduanya keluar mutiara dan marjan. [QS Ar-Rahman : 22]

 

Kata “Minhuma” pada ayat ini menegaskan bahwa kedua-duanya (Laut dan sungai) mengeluarkan mutiara dan marjan namun kenyataannya air sungai tidak mengeluarkan mutiara dan marjan, hanya laut saja mengeluarkannya. Al-Baidlawi berkata : Ketika keduanya (air laut dan sungai) bertemu maka keduanya menjadi satu sehingga sekan-akan mutiara yang dikeluarkan dari salah satunya itu dianggap seperti keluar dari keduanya. [Tafsir Anwarut Tanzil] Adapun pada penemuan Costeau tadi yang menyatakan bahwa di bawah laut ada beberapa kumpulan mata air tawar segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur dengan air laut yang asin di sekelilingnya seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

 

Dengan demikian sekali lagi dapat dinyatakan bahwa Al-quran itu mustahil disusun oleh Nabi Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, dimana saat itu belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai kedalaman samudera. Dan beliaupun bukan seorang Ahli kelautan bahkan tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau pergi ke laut atau naik perahu. Meskipun ada hadits (dla’if) yang sering kita dengar yaitu :

عَلِّمُوا أَبْنَاءَكُمُ السِّبَاحَةَ

Ajarilah anak kalian berenang. [HR Baihaqi]

 

Seandainya nabi pernah ke lautpun maka itu tidaklah cukup untuk memaparakan deskripsi tentang fenomena laut seperti itu padahal Quran juga membicarakan keadaan laut ketika ombak mengepung kapal, serta keadaan dasar laut yang berupa kegelapan bertingkat-tingkat.

 

Adapun pada hadits utama di atas, Rasul SAW konteksnya menjawab pertanyaan. Abu Hurairah RA mendengar ada seorang lelaki bertanya : Wahai Rasulullah, Kami naik perahu di atas laut sedangkan kami membawa sedikit air tawar. Jika kami gunakan berwudlu maka kami akan kehausan (karena kehabisan air tawar). Lalu apakah boleh berwudlu dengan air laut?. Menjawab pertanyaan tersebut maka Rasul Saw bersabda : “Laut itu suci airnya dan halal bangkainya." [HR Tirmidzi]

 

Maha benar Allah SWT yang berfirman : Allahlah yang telah menundukkan laut untukmu agar kapal-kapal dapat berlayar di atasnya dengan perintah-Nya, agar kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur. [12] Dia telah menundukkan (pula) untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya.

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. [QS Al-Jatsiyah : 13]

 

Dan memang ada hadits yang menyatakan memandang laut itu adalah ibadah, namun haditsnya dla’if (lemah) bahkan dalam situs dorar dinyatakan sebagai Fake hadith (Hadits maudlu’, palsu). Yaitu :

النَّظَرُ فِي ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ عِبَادَةٌ: النَّظَرُ فِي وَجْهِ الْأَبَوَيْنِ، وَفِي الْمُصْحَفِ، وَفِي الْبَحْرِ

Melihat kepada tiga hal adalah ibadah : Melihat wajah kedua orang tua, melihat mushaf (Al-Qur’an) dan melihat laut. [HR Ad-Daylami]

 

Al-Hakim (At-Tirmidzi) berkata : Telah datang dalam sebuah riwayat bahwa melihat laut adalah ibadah ... Hal ini dikarenakan dengan pandangan tersebut seseorang beribadah kepada Allah: ia melihat laut dengan pandangan kekuasaan Allah, melihat keluasan, lebar, dan ombaknya lalu mengambil pelajaran. [Faidlul Qadir]

 

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk semakin meyakini kebenaran Al-Qur’an dengan tersingkapnya satu persatu fenomena alam yang merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

 

Salam Satu Hadits

Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

 

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2 Malang Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

 

NB.

Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

0 komentar:

Post a Comment