Jumat, 19 Januari 2018

LEVEL IKHLAS




ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Abu Umamah Al-Bahili RA, Ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW lalu ia bertanya: Apa pendapatmu jika seorang laki-laki berperang mencari pahala dan ingin disebut namanya, Apa yang dia akan dapatkan? Maka Rasul SAW bersabda : Dia tidak dapat apa-apa. Dia mengulang pertanyaan itu sampai tiga kali, Rasulullah saw tetap menjawabnya: Dia tidak dapat apa-apa. Kemudian beliau bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ
Sesungguhnya Allah tidak menerima dari amal kecuali dia ikhlas dan hanya mengharap ridla Allah. [HR An-Nasa’i]

Catatan Alvers

Kata Ikhlas berasal dari kata “Khalusha” yang berarti bersih, hilang capurannya, Selamat [Al-Mu’jam Al-Wasith]  Secara bahasa, ikhlas berarti meninggalkan riya’ (pamer) dalam suatu ketaatan. [At-Ta’rifat] Secara istilah, Fudhail bin Iyadh mendefinisakn ikhlas dengan perkataannya :
ترك العمل لأجل الناس رياء، والعمل لأجلهم شرك، والإخلاص الخلاص من هذين؛ وألا تطلب لعملك شاهداً غير الله
"Meninggalkan amal karena (motivasi) manusia itu riya’, dan melakukan amal karena (motivasi) manusia itu syirik. Ikhlas adalah keadaan dimana engkau terlepas dari keduanya dan engkau tidak mencari saksi atas amalmu kepada selain Allah". [At-Ta’rifat]

As-Susy berkata :
الإخلاص فقد رؤية الإخلاص، فإن من شاهد في إخلاصه الإخلاص فقد احتاج إخلاصه إلى إخلاص
Ikhlas itu tidak merasa ikhlas. Orang yang menetapkan keikhlasan dalam amal perbuatannya maka keihklasannya tersebut masih butuh keikhlasan (karena kurang ikhlas). [Ihya’ Ulumuddin]


Orang bijak berkata : Ikhlas itu seperti surat Al-Ikhlas, tiada kata ikhlas di dalamnya. Maka jika seseorang berkata aku melakukannya dengan ikhlas maka sebenarnya ia belum ikhlas. Ibnul Qayyim berkata :
الاخلاص هو ما لا يعلمه ملك فيكتبه ولا عدو فيفسده ولا يعجب به صاحبه فيبطله.
Ikhlas itu sesuatu yang (samar) tak diketahui oleh malaikat sehingga ia (dapat) mencatatnya, tak bisa diketahui musuh sehingga ia bisa merusaknya dan tidak menjadikan diri sendiri takjub akan amalnya sehingga hal itu membatalkan (pahala)nya [Al-Fawaid]

Masalah ikhlas adalah masalah yang sangat penting. Para ulama ketika menyusun kitab hadits maka mereka menaruh masalah ikhlas dalam bagian permulaan yaitu bab niat. As-Syaibani berkata : Ikhlas lebih penting (didahulukan) dari pada risalah dan kenabian, coba lihat firman Allah SWT :

وَاذكُر فيِ الكِتَابِ مُوسَى إِنَّهُ كَانَ مُخلَصاً وَكَانَ رَسُولاً نَبِيَّا
Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Musa di dalam Al-Kitab (Al-Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang “Mukhlas“ (yang dipilih) dan seorang rasul dan nabi. [QS Maryam : 51]

Hal ini menunjukkan betapa mulianya keikhlasan dan bahwa keikhlasan itu lebih dahulu ada sebelum kerasulan dan kenabian. Bahkan keikhlasan itu merupakan sebab terpilihnya seseorang menjadi Nabi atau Rasul. [Mukaffiratudz Dzunub]

Ibnu ajibah Dalam Syarah Al-Hikam berkata :
الإخلاص على ثلاث درجات: إخلاص العوام والخواص وخواص الخواص.
Ikhlas terdiri atas tiga level : Yaitu Ikhlasul Awam, Ikhlasul Khawwash dan Ikhlashu Khawwashil Khawwash.

(1) Ikhlashul awam. yaitu, berbuat karena Allah semata, namun masih menginginkan bagian dunia dan akhirat, seperti kesehatan dan kekayaan –Rizki yang melimpah , juga kemegahan di surga serta bidadari;
(2) Ikhlashul Khawwash. yaitu, hanya menginginkan bagian akhirat tanpa memperdulikan bagiannya di dunia;
(3) Ikhlashu khawashil khawwash. yaitu, melepaskan seluruh keinginan atau bagian kesenangan serta balasan dunia dan akherat, persembahan mereka semata-mata hanya untuk merealisasikan ubudiyah sekaligus melaksanakan hak dan perintah Ke-Tuhanan (Rububiyah), karena cinta dan rindu untuk melihat Allah SWT. [Iyqadhul Himam]

Masalah ikhlas adalah faktor penentu apakah amalan kita diterima Allah swt atau malah ditolak-Nya sebagaimana hadits utama di atas. Lebih jelas lagi Rasul SAW mengisahkannya : “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya :
فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟
‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’
Ia menjawab : ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman :
كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ
‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’
Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.

Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.’ Allah berkata :
كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌٌ ، فَقَدْ قِيْلَ
‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’
Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.

Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman :
كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ
‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’” [HR Muslim]

Akhirnya, Ikhlas adalah satu kata yang mudah diucapkan namun sulit sekali melakukannya namun bukan berarti mustahil untuk dilakukan. Maka kewajiban kita adalah terus berusaha untuk ikhlas meskipun merasa diri belum ikhlas dan selayaknya demikian karena kalau kita merasa sudah ikhlas maka sebaliknya justru itu menandakan kita belum ikhlas.

Menurut Dzun Nun Al-Mishri, Ada tiga indikator ikhlas. Ia berkata:
ثلاث من علامات الإخلاص: استواء المدح والذم من العامّة، ونسيان رؤية الأعمال في الأعمال، ونسيان اقتضاء ثواب العمل في الآخرة.
Ada tiga indikator keikhlasan yaitu
(1)  Samanya pujian dan celaan dari orang umum
(2)  Melupakan melihat amal dalam suatu amalan
(3)  Melupakan balasan suatu amalan di akhirat. [Ar-Risalah Al-Qusyairiyah]

Orang yang mencapai derajat ikhlas akan menjadi orang yang bijaksana dalam setiap perkataannya. Makhul dalam berkata :
ما أخلص عبدٌ قط أربعين يوماً، إلا ظهرت ينابيع الحكمة من قلبه على لسانه.
"tidaklah seseorang dapat ikhlas selama 40 hari kecuali akan terpancar cahaya hikmah dari hati melalui lisannya " [Ar-Risalah al Qusyairiyah] Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari menjadikan kita sebagai orang yang ikhlas tanpa kita merasa ikhlas dan menjauhkan kita dari sifat riya’ tanpa menuduh orang lain berbuat riya’.

Salam Satu Hadits,
DR.H.Fathul Bari. SS., M.Ag
Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jawa Timur Indonesia

Artikel di atas bisa anda dapatkan versi bukunya dalam
BUKU ONE DAY ONE HADITH
ONE DAY#1 *INDAHNYA HIDUP BERSAMA RASUL SAW* ISBN : 9786027404434
ONE DAY#2 *MOTIVASI BAHAGIA DARI RASUL SAW* ISBN : 9786026037909
ONE DAY#3 *TAMAN INDAH MUSTHAFA SAW* ISBN : 9786026037923
(Pre Order) ONE DAY#4 *TAFAKKUR ZAMAN NOW*, ISBN: 978-602-60379-5-4
Bisa dapat harga promo dan kirim via tiki/JNE silahkan hub. Ust. Muadz 08121674-2626

0 komentar:

Posting Komentar