Kamis, 25 Januari 2018

FIKIH GERHANA


*ONE DAY ONE HADITH*

Diriwayatkan dari Mughirah bin Syu’bah RA, Rasul bersabda,
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ  فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِىَ
Matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Kedua gerhana tersebut tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat keduanya, berdo’alah pada Allah, lalu shalatlah hingga gerhana tersebut hilang (berakhir)”. [HR Bukhari]

_Catatan Alvers_

Berdasarkan edaran dari Lajnah Falakiyah PWNU bahwa menurut perhitungan hisab akan terjadi Gerhana Matahari Parsial pada hari Ahad 21 Juni 2020, dan diperkirakan terjadi mulai pukul 15:15 - 15.34 WIB sehingga kita dianjurkan untuk melakukan shalat gerhana mahatari atau yang dikenal dengan shalat Kusufis Syamsi.


Menurut ilmu pengetahuan modern, gerhana matahari terjadi ketika posisi bulan terletak di antara bumi dan matahari sehingga terlihat menutup sebagian atau seluruh cahaya matahari di langit bumi. Berdasarkan cara tertutupnya matahari, terdapat empat jenis gerhana matahari: gerhana matahari total, gerhana matahari cincin, gerhana matahari sebagian, dan gerhana matahari hibrida/campuran. Walaupun bulan berukuran sekitar 400 kali lebih kecil daripada matahari, bulan terletak sekitar 400 kali lebih dekat ke bumi sehingga kedua benda langit ini tampak hampir sama besar di langit bumi. [wikipedia]

Tidak hanya terjadi pada masa kini, gerhana telah terjadi sejak dahulu kala namun respon manusia berbeda-beda sesuai dengan pengetahuannya saat itu. Ada yang meyakini bahwa saat gerhana terjadi, sang buto ijo memakan bulan atau matahari dan akan menyebarkan berbagai keburukan. Maka saat itu, tumbuh-tumbuhan dan tubuh kita harus 'dibangunkan' agar tidak dimakan buto ijo, karena dengan adanya suara kentongan atau pun lesung membuat buto ijo / batara kala membatalkan untuk niatnya memakan bulan. Ada juga mitos dewi ratih. Yang diyakini sebagai dewi kecantikan. Menurut mitologi pada saat gerhana, dewi Ratih yang berlari di kahyangan tertangkap oleh Kala Rau. Ia dikejar karena dialah yang memberi tahu dewa Wisnu bahwa Kala Rau hendak minum dari Tirta Amertha (Air kehidupan abadi) dan ada juga mitos-mitos yang lainnya.

Islam datang meluruskan pemahaman terhadap fenomena gerhana. Pada masa Rasulullah pernah terjadi gerhana matahari pada hari kematian putera beliau, Ibrahim. Lalu Rasulullah meluruskan pemahaman bahwa Sesungguhnya matahari dan bulan tidak gerhana disebabkan kematian atau kelahiran seseorang akan tetapi itu adalah tanda kebesaran Allah. Rasulpun menganjurkan untuk berdoa kepada Allah dan menunaikan salat gerhana hingga matahari nampak kembali.

Menurut keterangan kitab Fathul Muin dan I’anatut Thalibin, Shalat gerhana bisa dilakukan dengan tiga cara : (1). Cara Mininalis (Aqall) : Dilakukan sebanyak dua rekaat seperti Shalat sunnah. (2). Cara Sempurna (Adnal Kamal) : Dilakukan dengan menambah berdiri, bacaan fatihah (dan setelah fatihah boleh membaca surat pendek atau tidak membacanya) dan ruku’ dalam setiap rekaatnya. (3). Cara Paling Sempurna (Akmal) : seperti cara kedua, namun ditambah hal-hal berikut : Saat berdiri ke-1 setelah fatihah membaca QS Al-baqarah atau semisalnya , saat ruku’ membaca tasbih sekira 100 ayat al-Baqarah. Saat berdiri ke-2 setelah fatihah membaca QS Al-baqarah (280 Ayat) atau semisalnya, saat ruku’ membaca tasbih sekira 80 ayat al-Baqarah, saat sujud ke 1 membaca tasbih sekira 100 ayat al-Baqarah, saat sujud ke 2 membaca tasbih sekira 80 ayat al-Baqarah. Saat berdiri ke-3 setelah fatihah membaca sekira 200 Ayat, saat ruku’ membaca tasbih sekira 70 ayat al-Baqarah, saat berdiri ke-4 setelah fatihah membaca sekira 150 Ayat, saat ruku’ membaca tasbih sekira 50 ayat al-Baqarah, saat sujud ke 3 membaca tasbih sekira 70 ayat al-Baqarah, saat sujud ke 4 membaca tasbih sekira 50 ayat al-Baqarah.

Shalat gerhana ini dilakukan tanpa adzan dan iqamah sebelumnya . Sebagaimana Rasul sebelum memulai Shalat gerhana beliau menyuruh seseorang untuk mengumandangkan “As-Shalatu Jami’ah” lalu Rasu memulai Shalat. [Lihat HR Bukhari] dan shalat gerhana matahari dilakukan dengan bacaan Fatihah secara pelan (sirri) berbeda dengan gerhana bulan. Qadhi Abu Syuja berkata :
وَيُسِرُّ بِالْقِرَاءَةِ فِي كُسُوْفِ الشَّمْسِ وَيَجْهَرُ بِالْقِرَاءَةِ فِي خُسُوْفِ الْقَمَرِ
Pembacaan Fatihah pada shalat gerhana matahari dilakukan secara pelan dan pada shalat gerhana bulan dilakukan secara keras. [Fathul Qarib]

Setelah selesai shalat barulah dilaksanakan dua khutbah sebagaimana keterangan kitab Fathul Mu’in. Dijelaskan dalam kitab I’anah [I/501] bahwa khutbah ini sama persis rukunnya seperti khutbah jumat namun yang membedakan dalam khutbah gerhana tidak disyaratkan khotib harus berdiri, duduk diantara 2 khutbah dan menutup aurat. Adapaun materi yang sunnah untuk disampaikan adalah taubat dan motivasi melakukan kebaikan seperti sedekah dll.

Dalam khutbah gerhana, Rasul berkhutbah dengan memuji dan menyanjung Allah swt, lalu beliau bersabda:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” [HR. Bukhari]

Beliau melanjutkan khutbahnya :
يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللهِ مَا مِنْ أحَدٍ أَغْيَرَ مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللهِ لَوْ تَعْلمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيْراً
Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah karena ada seorang hamba sahayanya baik laki-laki maupun perempuan berzina. Wahai Umat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” [HR Bukhari]

Dalam kitab Fathul Bari disebutkan beberapa catatan dari hadits tersebut: a. Selesainya fenomena gerhana yang ditandai dengan kembalinya bentuk matahari/bulan yang sempurna tidak menggugurkan kesunnahan melaksanakan khutbah. Hal ini berbeda dengan pelaksanaan Shalatnya,  selesainya gerhana menggugurkan kesunnahan melaksanakan Shalat gerhana. b. Relevansi. Tatkala beliau menyeru kaum muslimin untuk menolak bala’ dengan dzikir, doa, Shalat dan sedekah maka selanjutnya beliau menyeru umatnya untuk menjauhi maksiat yang mana maksiat itu adalah penyebab datangnya bala’. c. Masalah zina disebutkan secara khusus dalam khutbah beliau karena zina termasuk bagian maksiat terbesar. d.  Sabda “Wahai Ummat Muhammad” adalah bentuk kasih sayang beliau dalam menasehati ummatnya layaknya seorang bapak yang penuh kasih sayang menasehati anaknya dengan berkata “wahai anakku” kendati disini Rasul tidak mengatakan “wahai ummatku”. Hal ini dikarenakan perkataan “wahai ummatku” mengandung unsur memuliakan sedangkan khutbah yang beliau sampaikan adalah peringatan untuk menjauhi maksiat dan Rasul tidak akan memuliakan seseorangpun dalam urusan maksiat. Sebut contoh sabda beliau “Wahai Fatimah putri Muhammad, mintalah kepadaku harta yang engkau inginkan namun aku tidak mampu menolongmu sedikitpun dari (murka) Allah (jika kau bermaksiat kepadaNya). ” beliau saat itu tidak mengatakan “ wahai fatimah putriku” dikarenakan saat itu beliau memberikan peringatan (indzar) kepada keluarga .

Sebagai catatan tambahan, dalam Kitab I’anatu Thalibin, Al-Jamal, Nihayatul Muhtaj dll. disebutkan : Sudah dimaklumi bahwa khutbah tersebut ini dilakukan tanpa membaca takbir seperti Shalat ‘idayn namun dihukumi baik (hasan) jika diganti dengan bacaan istighfar karena memiliki korelasi yang kuat dengan tema utama khutbah yang akan disampaikan. Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati kita untuk mengetahui kebesaran-Nya lewat fenomena Gerhana ini dan semoga kita semua bertambah iman dan taqwa kepada Allah SWT.Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

NB.
Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada supaya sabda Nabi menghiasi dunia maya dan semoga menjadi amal jariyah kita semua.

0 komentar:

Posting Komentar