Senin, 04 April 2016

“PENGALAMAN SOMBONG”

ONE DAY ONE HADITH

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud RA, Nabi SAW bersabda :
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi. Ada seseorang yang bertanya: Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?.  Beliau menjawab: Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. (HR. Muslim)

Catatan Alvers

Dari hadits ini bisa kita pahami bahwa kesombongan ada dua macam, Pertama Sombong terhadap al-haq dengan menolak dan berpaling darinya dan kedua sombong terhadap makhluk dengan meremehkan orang lain, memandang diri sendiri “lebih baik” dari orang lain. Maka kelebihan yang kita miliki sejatinya bak pisau bermata dua, dapat menjadi karunia yang berbuah pahala bahkan surga, atau bencana yang berujung dosa dan neraka.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, Qatadah menyatakan sombong adalah dosa yang pertama kali muncul pada makhluq yaitu Iblis yang merasa “lebih baik” dari Adam AS, simak firman Allah Ta’ala :
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لأَدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الكَافِرِينَ
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam,” maka mereka semua bersujud kecuali Iblis; ia enggan dan sombong dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir“ [QS. Al Baqarah : 34]


Pernahkah anda sombong? Setiap kita punya “pengalaman sombong” merasa lebih baik dari orang lain tak terkecuali ulama sekaliber Ibnu Malik (600 H-672 H), Pakar gramatika Arab ternama dari Andalusia (Spanyol) yang terkenal dengan master piecenya Alfiyah Ibnu Malik yang mendapat pujian dari banyak cendekiawan, dan melahirkan berjilid-jilid kitab syarah dan karya hasyiyah (komentar) yang tak terhingga. Ceritanya bermula ketika ia menulis muqaddimah nadham Alfiyahnya sampai pada bait :
وَتَقْتَضِي رِضَاً بِغَيْرِ سُخْطِ :: فَـائِقَةً أَلْفِــــيَّةَ ابْنِ مُعْطِي
(Kitab ini menuntut kerelaan tanpa kemarahan, mengungguli kitab Alfiyah karya Ibnu Mu’thi)
Sampai di sini Ibnu Malik dihinggapi rasa sombong dengan menyatakan kitabnya “lebih baik” dari kitab karya ulama sebelumnya, yakni Ibnu Mu'thi (564 H – 628 H). Setelah itu beliau meneruskannya dengan bait :
فَائِقَةً لَهَا بِأَلْفِ بَيْتٍ ::  ................
(Mengungguli karya Ibnu Mu’thi dengan seribu bait,…....)
Namun sampai bait ini tiba-tiba saja Imam Ibnu Malik kehilangan Inspirasi. Ia tak mampu meneruskan separoh bait-pun dalam beberapa hari hingga kemudian ia bermimpi bertemu dengan seseorang yang berkata : “Aku mendengar kau sedang mengarang kitab Alfiyah tentang ilmu nahwu?”  “Apa yang membuatmu berhenti menuntaskan bait ini?” Ibnu malik menjawab: Ya benar, “Aku lesu tak berdaya selama beberapa hari”. Orang tadi berkata: “Apakah Kau ingin menuntaskannya?” “Ya.” Lalu orang tadi melantunkan separoh bait diatas dengan :
....... :: وَ اْلحَيُّ قَدْ يَغْلِبُ أَلْفَ مَيِّتٍ
(....... :: Orang hidup terkadang bisa menaklukkan seribu orang mati).
Merasa ada yang janggal maka Ibnu Malik bertanya, “Apakah kau Ibnu Mu’thi?”. Ia menjawab: “Iya, Benar.”
Ibnu Malik sangat malu mendapat teguran dari Ibnu mu’thi dan di pagi harinya ia langsung membuang potongan bait yang belum tuntas tadi dan menggantinya dengan dua bait muqaddimah yang lebih sempurna:
وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلاً :: مُسْـتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ الْجَمِيْلاَ
(Ibnu Mu’thi, beliau memperoleh keistimewaan karena lebih awal dalam menulis kitabnya dan  berhak mendapat pujian yang indah dariku)
وَاللَّهُ يَقْضِي بِهِبَـاتٍ وَافِرَهْ :: لِي وَلَهُ فِي دَرَجَاتِ الآخِرَهْ
(Semoga Allah melimpahkan karunianya yang luas untukku dan untuk beliau pada derajat-derajat tinggi akhirat)
Begitulah hingga ibnu malik berhasil merampungkan seribu baitnya dengan penuh ketawadhu’an. [Hasyiyah Ibnu Hamdun]

Sebagai penutup tulisan ringkas 1D1H ini, ada baiknya ketika kita dihinggapi perasaan bahwa ilmu pengetahuan kita lebih baik dari orang lain agar segera menyadari bahwa saat itu kita masih sampai pada level pertama dari ilmu.
إن العلم ثلاثة أشبار : من دخل في الشبر الأول، تكبر ومن دخل في الشبر الثانى، تواضع ومن دخل في الشبر الثالث، علم أنه ما يعلم.
Sesungguhnya ilmu itu terdiri dari tiga jengkal (level). Jika seseorang sampai di level pertama, maka dia menjadi takabbur. Kemudian, apabila dia telah sampai level kedua, maka dia pun menjadi tawadhu’. Dan jika dia sudah sampai level ketiga, barulah dia tahu bahwa ternyata dia tidak tahu apa-apa.” [Hilyah Thalibil ‘Ilmi Li Syaikh Bakr ibn ‘Abdillah]. Wallahu A’lam. Astagfirullah ampunilah kami Ya Allah yang seringkali merasa diri ini lebih baik, Jauhkan kami dari sifat sombong, Jadikan kami sebagai orang yang Tawadlu yang selalu mendapat hidayah dan Inayah-Mu.

0 komentar:

Posting Komentar