Sabtu, 16 April 2016

SOSOK AYAH IDEAL

ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, ia berkata
قَبَّلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ وَعِنْدَهُ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ جَالِسًا فَقَالَ الْأَقْرَعُ إِنَّ لِي عَشَرَةً مِنْ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ
Rasulullah SAW mencium Hasan putra Ali di mana saat itu ada Aqra’ bin Habis At- Tamimi sedang duduk di samping beliau. Dia lalu berkata : “Saya punya sepuluh orang anak dan tidak pernah satupun dari mereka yang saya cium.”. Maka Rasul SAW memandangnya dan berkata : ’Siapa yang tidak memiliki sifat kasih sayang, niscaya tidak tidak akan memperoleh kasih sayang dari Allah.” [HR Bukhari]

Catatan Alvers

Terdapat suatu kisah, Seorang anak berusia 8 tahun yang duduk di kelas 2 SD bertanya kepada Ayahnya yang mana ayahnya ini adalah seorang pekerja keras pergi pagi pulang larut malam, Pergi ketika sang anak belum bangun dan datang ketika anak sduah terlelap tidur. Sang anak bertanya :  “Aku sengaja tidak tidur untuk menunggu Papa pulang, karena aku mau tanya berapa sih gaji Papa?”. Sang ayah keheranan namun akhirnya ia menjawab : “Oke, kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp.400.000”. Si anak kemudian berlari mengambil kertas dari meja belajar sementara Ayahnya melepas sepatu dan mengambil minuman. Anak berkata: “Jadi kalau satu hari Papa dibayar Rp 400.000 utuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp 40.000 dong!”.  “Papa, aku boleh pinjam uang Rp 10.000 nggak?” Ayahnya bertanya keheranan: Buat apa? , Sang Anak menjawab:  Aku ada uang hanya Rp 30.000.- “Aku minta waktu papa Satu jam saja, aku mohon. Mama sering bilang, kalau waktu Papa itu sangat berharga. Jadi aku mau beli waktu Papa. Aku buka tabunganku, tapi cuma ada uang Rp 30.000.- jadi aku mau pinjam Rp 10.000 dari Papa”. Sang Papa tertegun, ia terdiam. Ia pun memeluk erat anak kecil itu sambil menangis. Sang ayah berkata : “Maafkan Papa sayang”.

Kisah ini bisa saja terjadi pada anak kita meski mereka memilih diam, tidak mengekspresikan keinginannya seperti anak di atas karena sebenarnya sosok seorang ayah sangat dibutuhkan anak, bukan hanya figur seorang ayah yang “bisu”. Seorang psikolog klinis Fiona Starr dari Middlesex University, mengatakan bahwa hubungan yang baik antara ayah dan anak akan menghasilkan generasi ayah-ayah masa depan yang memiliki kecerdasan emosional, bijaksana dan komunikatif. Untuk itulah Rasul SAW dalam hadits di atas menegur orang yang tidak pernah mencium anak-anaknya, tidak memiliki kasih sayang terhadap mereka. Dalam hadits lain disebutkan :
إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ
“Sesungguhnya sikap lemah lembut tidak akan berada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya (dengan kebaikan). Sebaliknya, jika lemah lembut itu dicabut dari sesuatu, melainkan ia akan membuatnya menjadi buruk.” [HR Muslim]

Dalam suatu seminar disebutkan bahwa kehilangan figur seorang ayah menjadi salah satu penyebab anomali perilaku bahkan paling umum menyebabkan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender). Seorang anak akan kehilangan figur dari seorang ayah jika Ayahnya pemarah, Ayah “bisu“ tak pernah menyapa, Ayah menyakiti ibu, Ayah otoriter, Ayah berlaku kasar. Maka idealnya, seorang ayah itu lebih komunikatif  dan penuh kasih sayang.

Ada sebuah penelitian menarik yang dilakukan oleh Sarah binti Khalil bin Dakhilallah al-Muthiri, Mahasiswi Fakultas Pendidikan, Konsentrasi Pendidikan Islam dan Perbandingan dari Universitas Umm al-Qura, Mekah.  Ia menulis tesis yang  berjudul  “Dialog orangtua dengan anak dalam al-Qur’an al-Karim dan aplikasi pendidikannya” Menurutnya, terdapat 17 dialog (berdasarkan tema) antara orangtua dengan anak dalam al-Qur’an yang tersebar dalam 9 Surat. Ke-17 dialog tersebut dengan rincian sebagai berikut:
• Dialog antara ayah dengan anaknya (14 kali)
• Dialog antara ibu dan anaknya (2 kali)
• Dialog antara kedua orangtua tanpa nama dengan anaknya (1 kali)
Dengan temuan ini disimpulkan bahwa untuk melahirkan generasi istimewa seperti yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya, harus dengan komposisi seperti di atas. Ayah lebih dominan dalam komunikasi dengan perbandingan14 banding 2!. Kalau hari ini banyak masalah dalam pendidikan anak boleh jadi itu dikarenakan ayah ‘bisu’ dalam rumah, jarang bahkan tidak berkomunikasi dengan anak. Dialog lengkap, utuh dan panjang lebar di dalam al-Qur’an, hanya ditemukan apda dialog ayah kepada anaknya. Bukan dialog ibu dengan anaknya. Yaitu dialog Luqman dengan anaknya. Sebuah tegur sapa dan nasehat dari ayahnya itu lebih berharga bagi seorang anak dari semua fasilitas dan tabungan yang diberikan kepadanya. Wallahu A’lam. Semoga kita bisa menjadi orangtua layaknya Luqmanul hakim yang selalu berkomunikasi dengan puteranya dan banyak menuntunnya ke arah jalan kebenaran sehingga anak-anak kita menjadi generasi gemilang pejuang islam yang birrul walidain

0 komentar:

Posting Komentar