Rabu, 13 April 2016

STOP! PERDEBATAN...

ONE DAY ONE HADITH

Dririwayatkan dari Abi Umamah RA, Rasulullah SAW bersabda :
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ
Aku menjamin sebuah villa yang berada di pinggiran surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar, juga sebuah istana di kawasan metropolitan surga bagi siapa  saja yang meninggalkan berbohong walaupun ia sedang bercanda, serta sebuah istana di puncak surga bagi siapa  saja yang berakhlak mulia.[HR Abu Dawud]

Catatan Alvers

Hadits di atas memotivasi kita agar menjauhi perdebatan karena perdebatan dapat menimbulkan permusuhan . Pesan bang haji : “Stop perdebatan, stop pertengkaran, Stop permusuhan, stop pertikaian. Mari kita saling asih Mari kita saling asuh. Hargai pendapat orang bila terdapat beda pandangan Sejauh tidak ada yang dirugikan”. Stop perdebatan karena orang yang berdebat akan disibukkan dengan perdebatannya hingga ia tidak memiliki waktu untuk mengamalkan ilmu yang bermanfaat. Maka dari itulah Imam Malik bin Anas ketika ditanya mengenai seseorang yang alim akan hadits bolehkah ia berdebat? Maka beliau menjawab: tidak, cukuplah ia memberitahukan hadits kemudian jika diterima maka itulah yang diharapkan namun jika keterangan tersebut tidak diterima maka hendaklah ia diam. Beliau memberikan nasehatnya :
المراء والجدال في العلم يذهب بنور العلم ... المراء في العلم يُقسي القلب ويورث الضعن
“pertengkaran dan perdebatan dalam masalah ilmu akan menghapuskan cahaya ilmu  (dari hati seseorang)” ...”Perdebatan dalam ilmu akan mengeraskan hati dan menyebabkan kedengkian” [Kitab Fadlu Ilmis salaf]

Orang yang suka berdebat, ia akan bersungguh-sungguh dalam menelaah buku dan mendalami ilmu namun semua itu akan sia-sia belaka di akhirat karena Rasul sAW bersabda :
لاَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ وَلاَ لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ وَلاَ تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ
Janganlah kalian mencari ilmu untuk menandingi para ulama atau untuk mendebat orang-orang bodoh atau agar bisa menguasai pertemuan dan majlis-majlis.  Barangsiapa yang berbuat seperti itu, maka neraka baginya, neraka baginya.[HR  Ibnu Hibban]

Sebagian Ulama mengatakan :
إذا أراد الله بعبد شراً أغلق عنه باب العمل وفتح له باب الجدل.
Jika Allah menghendaki kejelekan kepada seorang hamba maka Allah akan menutup pintu amal darinya dan membuka untuknya pintu perdebatan. [Kitab Fadlu Ilmis salaf]

Orang yang hidup dalam perdebatan akan merasakan panas berkepanjangan dalam hatinya, ia tidak menemukan ketenangan bahkan ia tidak dapat merasakan hakikat iman. Umar Bin Khattab RA berkata :
لا يجد عبد حقيقة الإيمان حتى يدع المراء وهو محق ويدع الكذب في المزاح وهو يرى أنه لو شاء لغلب
Seseorang tidak akan merasakan hakikat iman sampai ia mampu meninggalkan perdebatan yang berkepanjangan meskipun ia di pihak yang benar, dan meninggalkan berbohong meskipun hanya bercanda padahal ia tahu seandainya ia mau ia pasti menang dalam perdebatan itu” [Kanzul Ummal]

Terdapat sebuah kisah menarik dari Tiongkok mengenai perdebatan murid yang bodoh dan murid yang pintar. Keduanya menghadap guru yang bijak, mereka bertengkar sehabis berdebat tentang hitungan 3x7. Si pandai mengatakan 21, Si bodoh bersikukuh mengatakan 27. Si bodoh menantang si pandai untuk meminta guru sebagai jurinya untuk mengetahui siapa yang benar diantara mereka , sambil si bodoh mengatakan : "Jika aku yang benar (3 x 7 = 27) maka engkau harus mau di cambuk 10 X oleh guru, tapi jika kamu yang benar (3x7=21) maka aku akan memenggal kepalaku sendiri ha ha ha " demikian si bodoh menantang dengan sangat yakin. Ternyata diluar dugaan si pintar, guru memvonis cambuk 10 X baginya. Guru menjelaskan : "Hukuman ini bukan untuk hasil hitunganmu yang benar,tapi untuk ketidak-arifanmu yang telah berdebat dengan orang bodoh yang tidak tau kalo 3 X 7 adalah 21". Guru melanjutkan : "Lebih baik aku melihatmu dicambuk dan kau menjadi arif daripada guru harus melihat satu nyawa terbuang sia-sia!"

Berdebat tidak selamanya tercela, perdebatan itu bisa jadi terpuji jika bertujuan untuk menampakkan kebenaran dan menjelaskannya, disertai niat yang baik dan konsisten dengan adab-adabnya sebagaimana hal ini dilakukan oleh Nabi Nuh AS kepada kaumnya [Lihat QS. Hud : 32]. Dalam ayat yang lain, Allah SWT berfirman :
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. [QS. An-Nahl : 125] Wallahu A’lam. Semoga kita semakin tawadlu dengan ilmu yang kita miliki dan semoga Allah menjadikan ilmu kita sebagai pengantar untuk meraih Ridlo dan surga-Nya.

0 komentar:

Posting Komentar