Senin, 04 April 2016

SENI MENASIHATI


ONE DAY ONE HADITH

Dari Abu Ruqayyah Tamiim bin Aus Ad Daari RA, “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda :

الدين النصيحة قلنا لمن ؟ قال : لله ولرسوله وللأئمة المسلمين و عامتهم
Agama itu Nasehat ,
Kami bertanya : kepada Siapa ?, Beliau bersabda : (Nasehat supaya mentaati) Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan nasehat bagi seluruh kaum muslim” [HR Muslim]

Catatan Alvers

Dalam Fathul Bari disebutkan bahwa kata nasihat merupakan sebuah kata singkat yang penuh dengan segala hal yang baik. Kalimat, “Agama itu Nasihat” maksudnya bagian terbesar (penting) dalam agama itu berisi nasehat, sebagaimana memahami sabda Rasulullah, “Haji itu arafah”, maksudnya bagian terbesar (penting) dalam amalan haji adalah wukuf di arafah.


Dalam versi lain, nasehat berarti murni atau ikhlas. Seperti kata taubatan nashuha yang berarti taubat yang ikhlas atau sebenar-benarnya. Nasehat juga berarti menjahit dengan minshahah (jarum) maka dari itu seseorang yang menasehati seakan-akan ia menjahit agama saudaranya yang robek dengan jarum berupa nasehat. Karena laksana jarum, maka nasehat terkadang terkesan menyakiti namun pada hakikatnya ia bisa menambal baju yang sobek.

Suapaya sebuah nasehat itu efektif maka haruslah memenuhi etikanya diantaranya adalah ikhlas, tidak memaksa dan memilih waktu yang tepat. Ibnu Mas’ud RA berkata: “Hati itu memiliki rasa suka dan keterbukaan. Hati juga memiliki kemalasan dan penolakan. Maka raihlah ketika ia suka dan menerima. Dan tinggalkanlah ia ketika ia malas dan menolak.” [Al –Adab Asy-Syar’iyyah]. Selanjutnya adalah menasehati secara rahasia. Imam Syafii berkata :
 من وعظ أخاه سراً فقد نصحه وزانه ، ومن وعظه علانية فقد فضحه وشانه
Barang siapa menasehati seseorang secara rahasia maka ia betul-betul telah menasehatinya serta memperbaiki perilakunya dan barang siapa yang menasehati seseorang di muka umum maka sebenarnya ia telah menjelek-jelekkannya dan membuka aibnya.[Aunul Ma'bud]

Hal yang tidak kalah pentingnya adalah metode dalam memberi nasehat. Terdapat sebuah kisah menarik dalam kitab Hamisy Faidhul Qadir berkenaan dengan metode dalam memberi nasehat. Suatu ketika Sayyidina Hasan dan Husein, melihat seorang kakek yang sedang berwudhu dengan cara yang salah. Salah seorang berkata: mari kita nasehati kakek itu. Keduanya berkata : wahai kakek, kami akan berwudlu di depanmu dan nilailah siapa yang baik cara berwudlu'nya dan siapa yang tidak! Setelah keduanya selesai memperagakan wudlu' mereka maka sang kakek berkata :
 ﺃﻧﺎ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺬﻱ ﻻ ﺃﺣﺴﻦ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﻭﺃﻣﺎ ﺃﻧﺘﻤﺎ ﻓﻜﻞ ﻭﺍﺣﺪ ﻣﻨﻜﻤﺎ ﻳﺤﺴﻦ ﻭﺿﻮﺀﻩ
Demi Allah, Akulah yang tidak baik cara berwudlu'nya, adapun kalian berdua maka telah berwudlu dengan baik.
Ini adalah metode menasehati yang karena keindahannya maka saya istilahkan sebagai seni menasehati. Inilah yang dicontohkan cucu Rasulullah saw yang penuh dengan kemuliaan akhlak dan tatakrama dalam mengingatkan orang lain khususnya yang lebih tua. Wallahu A'lam.Semoga kita dikaruniai Allah swt berupa seni menasehati tersebut sehingga peluang keberhasilan dalam setiap nasehat yang kita sampaikan akan lebih besar

0 komentar:

Posting Komentar