Minggu, 17 April 2016

UJIAN KEIKHLASAN

ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Abi Hurairah RA bahwa Rasulullah saw bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ
Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk tubuh dan model penampilan kalian, tetapi Allah melihat (keikhlasan) hati kalian." [HR Muslim].

Catatan Alvers

Allah SWT menciptakan kita untuk beribadah kepada-Nya. Allah tidak menilai Ibadah dari kwantitasnya tapi dari kwalitasnya. Firman Allah swt. “(Dialah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang “Ahsanu Amala” yang lebih baik amalnya.” [QS Al-Mulk: 2]. Fudhail bin Iyadh menafsirkan kata “Ahsanu Amala” dengan Akhlashahu Wa Ashwabah (Yang paling ikhlas dan paling benar) [Tafsir Al-Baghawi] Jadi kwalitas itu berkaitan dengan keikhlasan. Maka dari itu sungguh sia-sia jika ibadah dilakukan dengan tidak ikhlas.


Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya manusia paling pertama yang akan dihisab urusannya pada hari kiamat adalah Seorang lelaki yang mati syahid, lalu dia didatangkan lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmatNya (yang telah diberikan kepadanya) maka diapun mengakuinya. Allah berfirman, "Lalu apa yang kamu perbuat dengan nikmat-nikmat tersebut?" dia menjawab, "aku berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid."  Allah berfirman,
كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ
"Kamu bohong, akan tetapi sebenarnya kamu berperang agar kamu dikatakan pemberani, dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia)." Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka.

Dan (orang kedua adalah) seseorang yang mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan dia membaca (menghafal) Al-Qur'an. Maka dia didatangkan lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmatNya (yang telah diberikan kepadanya) maka diapun mengakuinya. Allah berfirman, "Lalu apa yang kamu perbuat padanya?" dia menjawab, "aku mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur`an karena-Mu."  Allah berfirman,
كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ
" Kamu bohong, akan tetapi sebenarnya kamu menuntut ilmu agar kamu dikatakan seorang alim dan kamu membaca Al-Qur`an agar dikatakan, "ia adalah qari' (ahli membaca AlQuran)," dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia)." Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka.

Dan (yang ketiga adalah) seseorang yang diberikan keluasan (harta) oleh Allah dan Dia memberikan kepadanya semua jenis harta. Maka dia didatangkan lalu Allah mengingatkan nikmat-nikmatNya (yang telah diberikan kepadanya) maka diapun mengakuinya. Allah berfirman, "Lalu apa yang kamu perbuat padanya?" dia menjawab, "Aku tidak menyisakan satu jalanpun yang Engkau senang kalau seseorang berinfak di situ kecuali aku berinfak di situ untuk-Mu." Allah berfirman,
كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ
" Kamu bohong, akan tetapi sebenarnya kamu melakukan itu agar dikatakan, "dia adalah orang dermawan," dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia)." Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka." [HR. Muslim]

Senada dengan hadits di atas terdapat kisah seorang alim dan bijaksana yang hendak menguji keikhlasan orang-orang yang ingin membangun sebuah masjid. Ia bertanya : " jika niatmu telah benar, aku ingin tanya, bagaimana jika setelah masjid selesai dibangun masyarakat menganggap orang lain yang telah membangunnya ? mereka sama sekali tidak menyebut namamu?. "

Jika ia ikhlas maka ia tidak akan mempermasalahkannya. Sebab ikhlas itu seperti gula pasir yang memberi rasa manis pada kopi, tapi orang menyebutnya kopi manis, bukan kopi gula namun gula pasir tidak mempermasalahkannya. Gula pasir juga memberi rasa manis pada teh, tapi orang menyebutnya teh manis, bukan teh gula. Namun lagi-lagi gula pasir tidak mempermasalahkannya dan gula tetap ikhlas larut dalam memberi rasa manis. Sebaliknya jika setelah banyak minum teh dan kopi yang manis tadi seseorang menderita penyakit maka barulah orang-orang menyebutnya penyakit gula. Begitulah hidup itu alvers, kadang kebaikan yang kita tanam tak pernah disebut orang, tetapi kesalahan kita yang disebut-sebut bahkan dibesar-besarkan. Maka tetaplah semangat untuk memberi kebaikan karena kebaikan tidak untuk disebut-sebut, bukankah orang yang ikhlas itu seperti surat Al-Ikhlas yang tidak ada kata "Ikhlas" di dalamnya. Maka cukuplah Allah swt yang menjadi saksi kebaikan kita. Wallahu A’lam. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang ikhlas dalam setiap amal perbuatan kita

0 komentar:

Posting Komentar