Sabtu, 23 April 2016

PREDIKAT DAYYUTS

ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA, Rasulullah SAW bersabda :
ثَلَاثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالدَّيُّوثُ الَّذِي يُقِرُّ فِي أَهْلِهِ الْخَبَثَ
Ada tiga golongan manusia yang Allah haramkan masuk surga: Yaitu orang yang meminum kharm terus menerus, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, dan dayyuts yaitu seseorang yang membiarkan kejelekan terjadi pada keluarganya [HR Ahmad]

Catatan Alvers

Penelitian yang dilakukan oleh Australian National University dan Universitas Indonesia (UI) menemukan fakta bahwa sebanyak 20,9 persen pelajar hamil di luar nikah. Terlepas dari akurasi dan validitas penelitian yang dilakukan empat tahun silam, maka fakta ini sungguh memprihatinkan. Kalau memang demikian, lalu bagaimakah kondisi pelajar sekarang?

Di kab. Malang sendiri, Data dari Pengadilan Agama (PA) tahun 2012, ada 284 pelajar yang meminta dispensasi nikah. Pada tahun 2013 naik menjadi 367 pelajar. Dan tahun 2014 hingga bulan September, tercatat sudah ada 376 pelajar. Dengan demikian setiap tahunnya dampak pergaulan bebas semakin meningkat.

Pergaulan bebas (Baca: Zina) di atas terjadi pada remaja kita karena kita sebagai orang tua tidak menjauhkan mereka dari perbuatan “mendekati zina”. Inilah sebenarnya yang harus kita tekankan, bukankah Allah swt berfirman :
وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً
Janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk [QS Al-Isra`:32]
Selanjutnya penyair berkebangsaan mesir menjelaskan step by step terjadinya pergaulan bebas :
نظرة فابتسامة فسلام :: فكلام فموعد فلقاء
Pandangan lalu senyuman kemudian salam lalu berbicara kemudian janjian dan dilanjut dengan pertemuan. [Tafsir Al-Manar]
Bukankah dalam hadits disebutkan bahwa saat pertemuan terjadi antara lelaki dan perempuan maka yang ketiganya setan maka saat itulah rentan terjadi zina.

Inilah yang diabaikan oleh banyak orang tua, mereka memberi kebebasan pada anaknya untuk bergaul dengan lawan jenisnya bahkan menyediakan fasilitasnya seperti Hanphone, sepeda motor, uang saku dll yang dapat mempermudah anak “mendekati zina” tanpa disertai pengawasan yang ketat. Disadari atau tidak, kesempatan seperti inilah yang menjerumuskan seorang anak ke dalam pergaulan bebas. Bang Napi mengingatkan: “Kejahatan terjadi bukan saja karena ada niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah! Waspadalah! Waspadalah!

Marilah kita awasi putra putri kita, jauhkan mereka dari “mendekati zina” sebisa mungkin supaya kita tidak tergolong dayyuts seperti dalam hadits di atas. Apakah dayyuts itu?
ومن لا يغار على أهله ومحارمه يسمّى ديّوثاً
Orang yang tidak memiliki rasa cemburu atas istri atau mahramnya disebut dengan dayyuts. [al-Mawsu’ah al-Fiqhiyyah]

Sebagai orang tua kita berkewajiban nasehati mereka supaya tidak terjerumus dalam pergaulan bebas dan kedua, kita mereduksi kesempatan terjadinya pergaulan bebas. Kedua tugas ini bisa di handle oleh pendidikan dibawah naungan pondok pesantren yang umumnya menyelenggarakan pendidikannya secara terpisah antara putra dan putri. Sebagaimana di pesantren An-nur 2 al-Murtadlo tidak hanya pendidikan diniyah tapi juga pendidikan formal umum antara putra dan putri diselenggaran secara terpisah. Sistem ini tidak hanya berlaku sekarang dimana kelas 1 SLTP nya berjumlah seribu lebih santri-siswa/i namun sistem ini telah diterapkan semenjak berdirinya madrasah pertama kali di lingkungan pondok kami yang kala itu jumlah muridnya tidak sampai sepuluh orang dalam satu kelas. Meskipun resiko biaya yang lebih besar namun ini telah menjadi prinsip pondok pesantren.

Pemisahan kelas semacam ini merupakan tuntunan agama yang ditradisikan oleh pesantren yang ternyata mendatangkan manfaat besar dalam pendidikan. Penelitian menunjukan bahwa tingkat kemajuan yang didapat lebih tinggi sekolah khusus dibandingkan dengan sekolah yang dicampur. Para guru juga menyatakan bahwa para siswa di sekolah itu lebih fokus terhadap pelajaran daripada sekolah yang dicampur. Para siswa sendiri lebih memilih sekolah yang dicampur daripada sekolah yang khusus. Anda tentu tahu mengapa begitu? Para pelajar yang besar di sekolah yang dicampur lebih banyak menghabiskan energi mereka untuk menjadi populer dan menarik lawan jenis, juga menghabiskan banyak waktu untuk berkencan dari pada untuk belajar. Berdasarkan penelitian itu, pemerintah Inggris berencana untuk lebih banyak mendirikan sekolah khusus yaitu sekolah khusus untuk wanita atau sekolah khusus laki-laki di dalam negaranya. Sementara di Amerika, gadis-gadis menghabiskan lebih banyak waktu untuk memikat lawan jenisnya daripada menerima pelajaran dari gurunya. Di India pun tidak jauh berbeda dari kedua negara itu. Hal seperti ini jika dibiarkan akan menurunkan tingkat pendidikan di sekolah. Bahkan beberapa tahun lalu ada berita yang cukup menggemparkan, yaitu saat seorang pelajar diperkosa di siang bolong oleh beberapa teman sekolahnya di sekolah mereka sendiri. Semua itu akibat bercampurnya laki-laki dan wanita. Berdasarkan laporan New York Times yang dikutip oleh harian India yang menyatakan bahwa seperempat atau 25% dari pelajar perempuan diperkosa. Wallahu A’lam. Semoga kita terhindar dari predikat dayyuts yang membiarkan kejelekan terjadi kepada keluarganya. Semoga putra putri kita dilindungi Allah dan dijauhkan dari pergaulan bebas.

0 komentar:

Posting Komentar