Kamis, 28 April 2016

ATSARIS SUJUD

ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Rasul SAW bersabda: 
 أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
Keadaan paling dekat seorang hamba dari (rahmat)rabbnya adalah ketika dia dalam keadaan sujud, maka perbanyak doa (di dalamnya). [HR. Muslim].

Catatan Alvers

Sujud secara bahasa berarti tunduk dan merendah. Pada saat sujud, wajah - yang merupakan bagian tubuh yang paling tinggi dan paling terhormat - diletakkan di bawah sehingga sederajat dengan telapak kaki untuk tunduk dihadapan Allah SWT. Sujud adalah sarana yang Allah buat agar manusia melepaskan kesombongan dan keangkuhan dari dirinya, dengan menyadari bahwa asal manusia diciptakan dari tanah dan ia tidak bisa keluar dari asalnya. Tanah adalah lambang kehinaan dan kerendahan diri manusia dihadapan Allah, sehingga sujud akan menjadikan manusia seakan-akan kembali pada asalnya. Demi menghinakan diri dihadapan Allah yang maha mulia, dikisahkan bahwa Umar bin Abdul Aziz sujud di atas tanah tanpa alas. Oleh karena itu sujud menjadi ruang meditasi yang paling intim antara makhluk yang hina dina dan khalik yang maha mulia.


Sujud selain mempunyai manfaat secara psikologis, ternyata bermanfaat pula secara medis. Pose sujud yang menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi pada lantai dimana posisi jantung di atas otak menyebabkan darah kaya oksigen bisa mengalir maksimal ke otak sehingga berpengaruh pada daya pikir seseorang. Sujud yang dilakukan dengan tenang (tuma'ninah) menyebabkan aliran darah ke otak menjadi optimal dan mencukupi kapasitasnya. Dr Fidelma O'Leary, PhD. Seorang Neuroscience dari St Edward's University, menjadi mu'allaf karena mendapati fakta dalam kajiannya bahwa ada beberapa urat syaraf di dalam otak manusia yang tidak dimasuki darah dan urat ini baru bisa dimasuki darah ketika manusia bersujud.
Itulah manfaat sujud yang diistilahkan oleh al-Quran dengan “atsaris sujud”. Diriwayatkan dari Manshur, ia bertanya kepada Mujahid tentang maksud dari firman Allah, ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka karena ATSARIS SUJUUD (bekas sujud)’ apakah yang dimaksudkan adalah bekas di wajah? Jawaban beliau,
 لاَ إِنَّ أَحَدَهُمْ يَكُونُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مِثْلُ رُكْبَةِ الْعَنْزِ وَهُوَ كَمَا شَاءَ اللَّهُ يَعْنِى مِنَ الشَّرِّ وَلَكِنَّهُ الْخُشُوعُ.
 “Bukan, sesungguhnya ada salah seorang dari mereka yang ‘kapalen’ di antara kedua matanya itu mirip kapalen pada lutut onta namun dia adalah orang bejat. Maksud dari “Atsaris sujud” itu adalah khusyu’ [HR Baihaqi]
Bahkan as-Shawi mengatakan :
 وليس المراد به ما بصنعه بعض الجهلة المرائين من العلامة في الجبهة فانه من فعل الخوارج وفي الحديث اني لابغض الرجل واكرهه اذا رايت بين عينيه اثر السجود
“Atsaris Sujud yang dimaksudkan oleh ayat bukanlah tanda hitam yang ada di dahi yang dilakukan oleh orang-orang bodoh yang suka pamer (riya’) karena hal itu adalah ciri khas khawarij” dalam sebuah hadits disebutkan sungguh saya benci seseorang yang saya lihat diantara kedua matanya terdapat bekas sujud [Hasyiah ash-Shawi]

Maka dari itu perbanyaklah sujud dengan memperbanyak sholat layaknya Sayyidina Ali Zainal Abidin Ibn Husein Ibn Ali bin Abi Thalib RA, yang bergelar Assajjad karena ia sujud setiap malamnya sebanyak 1000X sujud (sholat 500 rakaat). Ya, perbanyaklah sujud namun jagalah wajahmu supaya tetap tampak tampan, jauhi kapalan pada dahi yang menjelekkan wajah. Dari Humaid bin Abdirrahman, aku berada di dekat as Saib bin Yazid ketika seorang yang bernama az Zubair bin Suhail bin Abdirrahman bin Auf datang. Melihat kedatangannya, as Saib berkata:
قَدْ أَفْسَدَ وَجْهَهُ ، وَاللَّهِ مَا هِىَ سِيمَاءُ ، وَاللَّهِ لَقَدْ صَلَّيْتُ عَلَى وَجْهِى مُذْ كَذَا وَكَذَا ، مَا أَثَّرَ السُّجُودُ فِى وَجْهِى شَيْئًا.
 “Sungguh dia telah merusak wajahnya. Demi Allah bekas di dahi itu bukanlah bekas sujud. Demi Allah aku telah shalat dengan menggunakan wajahku ini selama sekian waktu lamanya namun sujud tidaklah memberi bekas sedikitpun pada wajahku” [HR Baihaqi]

Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang yang datang menemui Ibnu Umar. Setelah orang tersebut mengucapkan salam, Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Siapakah anda?”. “Aku adalah anak asuhmu”, jawab orang tersebut. Ibnu Umar melihat ada bekas sujud yang berwarna hitam di antara kedua matanya. Beliau berkata kepadanya :
مَا هَذَا الأَثَرُ بَيْنَ عَيْنَيْكَ؟ فَقَدْ صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَهَلْ تَرَى هَا هُنَا مِنْ شَىْءٍ؟
“Bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bersahabat dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?” [HR Baihaqi]

Dari Ibnu Umar, beliau melihat ada seorang yang pada dahinya terdapat bekas sujud. Ibnu Umar berkata :
يَا عَبْدَ اللَّهِ إِنَّ صُورَةَ الرَّجُلِ وَجْهُهُ ، فَلاَ تَشِنْ صُورَتَكَ.
 “Wahai hamba Allah, sesungguhnya penampilan seseorang itu terletak pada wajahnya. Janganlah kau jelekkan penampilanmu!” [HR Baihaqi] Wallahu A’lam. Semoga Allah menjadikan kita ahli sujud kepada-Nya dan mendapati doa mustajabah dalam sujud-sujud kita.

0 komentar:

Posting Komentar