Minggu, 29 Mei 2016

MANAJEMEN INFORMASI



ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, Bahwa Rasul SAW bersabda :

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا
Mudahkanlah dan jangan kamu persulit. Gembirakanlah dan jangan kamu membuat lari”. [HR. Bukhari]

Catatan Alvers

Kehidupan di dunia tidak terlepas dari baik dan buruk, suka dan duka. Setiap orang memiliki fitrah untuk senang kabar baik dan membenci kabar buruk. Maka suatu hal yang sangat berat jika kita terpaksa memberikan kabar buruk yang menimpa seseorang. Meskipun tidak akan merubah apa yang terjadi, penyampaian informasi akan berdampak pada penerimanya. Jika kita menyampaikannya dengan cara yang tepat maka si penerima info akan legawa dan menerima kabar tersebut dengan ikhlas. Namun sebaliknya, jika cara yang tidak tepat dalam menyampaikannya akan menambah beban berat si penerima informasi.

Dalam Hadits di atas, Rasul SAW bersabda : Gembirakanlah. Ini bukan berari kita tidak boleh menyampaikan berita buruk yang membuat orang lain susah akan tetapi hadits itu anjuran kepada kita supaya tetap meringankan orang lain betapapun ia sedang tertimpa musibah seperti dengan metode penyampaian yang baik. Maka menyampaikan berita buruk haruslah dengan cara yang terbaik.


Dalam hal ini, dalam Ilmu Balaghah terdapat sebuah teori yang disebut dengan “Ta’nis”. Definisinya adalah :
تقديم ما يؤنس المخاطب قبل اخباره بمكروه
Mendahulukan kabar yang dapat menentramkan hati mitra bicara sebelum memberikan kabar buruk kepadanya.
Seperti contoh ketika seseorang akan mengabarkan kematian maka ia meberikan pendahuluan yang menjadikannya bersabar dan menerima musibah dengan lapang dada. Ia berkata :
“Sesungguhnya Allah telah mentakdirkan segala yang hidup akan mati, dan Allah memberikan pahala yang besar bagi siapa saja yang bersabar atas musibah yang menimpanya. Ketahuilah bahwa anakmu telah meninggal dunia”.

Seperti itu pula yang dilakukan Ummu sulaim ketika mau mengabarkan kematian putera tercintanya kepada sang suami, Abu Thalhah. Ummu sulaim memberikan makan malam, dan mengajak suami untuk memenuhi hajatnya terhadapnya. Setelah itu ummu sulaim berkata :

أَبَا طَلْحَةَ أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ قَوْمًا أَعَارُوا عَارِيَتَهُمْ أَهْلَ بَيْتٍ فَطَلَبُوا عَارِيَتَهُمْ أَلَهُمْ أَنْ يَمْنَعُوهُمْ قَالَ لاَ. قَالَتْ فَاحْتَسِبِ ابْنَكَ.

“Wahai Abu Thalhah, Bagaimana pendapatmu jika ada suatu kaum meminjamkan sesuatu kepada salah satu keluarga, lalu mereka meminta pinjaman mereka lagi, bolehkah keluarga itu melarangnya?” Abu Tholhah menjawab, “Tidak boleh.” Ummu Sulaim, “Maka carilah pahala dari kematian puteramu.” [HR Muslim]

Pentingnya manajemen informasi juga tergambar pada kisah berikut. Suatu saat ada seorang raja yang bermimpi "aneh", di dalam mimpinya gigi sang raja rontok tak tersisa. Karena penasaran, sang raja memanggil dua penafsir mimpi yang paling terkenal di kerajaan tersebut untuk menafsirkan mimpinya. Setelah mendengar penjelasan mimpi sang raja, sang penafsir mimpi pertama berkata, "daulat Tuanku, berdasarkan mimpi tuanku Raja, sebentar lagi seluruh keluarga raja baik istri dan anak-anak tuanku akan meninggal mendahului Tuanku". Mendengar penjelasan sang penafsir pertama, raja kaget dan murka karena tidak senang mendengarnya, Lalu sang raja memerintahkan pengawal menjebloskannya ke dalam penjara. Kemudian dipanggillah penafsir yang kedua, setelah diceritakan mimpi sang raja, sang penafsir yang kedua sambil tersenyum berkata" sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat tuanku, karena tuanku raja akan panjang umur. Tuanku raja akan menikmati dan melihat kejayaan kerajaan kita dalam waktu lama bahkan lebih lama dari anak dan istri tuanku raja". Mendengar penjelasan itu sang raja merasa senang dan memerintahkan pengawalnya memberikan hadiah keping emas yang melimpah pada sang penafsir kedua.  Dari contoh kisah ini, benarlah perkataan dalam Mahfudzat:
الطريقة أهم من المادة
“Metode itu lebih penting daripada materinya.”

Mungkin metode inilah yang ditempuh kyai Kyai Wahab dengan mengizinkan kurban sapi untuk berdelapan orang. Kisahnya ada seorang warga desa berkeinginan untuk berkurban sapi. Namun persoalannya orang tersebut menginginkan agar kurban
tersebut dapat diniatkan untuk delapan orang, bukan tujuh. Ia berkata : “kita akan kurban satu sapi yang gemuk biar muat delapan orang, kan anak saya masih kecil-kecil. Soalnya kalau satu sapi dan satu kambing, nanti kalau di oro-oro mahsyar ketlingsut, susah nanti carinya. Kita ingin masuk surga bareng-bareng.” Sang Kiai, pertama mendengar ia tertegun namun setelah berpikir sejenak, kemudian ia menjawab, “Ya ngak apa-apa, bisa kok”. Tapi ia masih ragu, “Kata ustadz sebelah rumah saya gak boleh jika berdelapan.” Sang Kyai : Kalau disini boleh saja,
Namun begini, anakmu kan kecil, tidak bisa naik sapi. Jadi tambahilah kambing satu untuk tangganya. Kalau ngak kamu tambahi kambing satu, nggak bisa naik, nanti malah ditinggal sapi. Nggak masuk surga bersama-sama.” Bujukan sang Kiai tersebut masuk di logika warga kampung tersebut dan akhirnya iapun menyetujui perintah sang kyai. Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membukakan hati dan fikiran kita dan mengilhami kita seni dalam menyampaikan informasi apapun sehingga mudah diterima.


0 komentar:

Posting Komentar