Senin, 02 Mei 2016

SI KIKIR VS DERMAWAN

ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Abi Hurairah RA, Rasul SAW Bersabda :
السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنْ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنْ الْجَنَّةِ قَرِيبٌ مِنْ النَّاسِ بَعِيدٌ مِنْ النَّارِ وَالْبَخِيلُ بَعِيدٌ مِنْ اللَّهِ بَعِيدٌ مِنْ الْجَنَّةِ بَعِيدٌ مِنْ النَّاسِ قَرِيبٌ مِنْ النَّارِ وَلَجَاهِلٌ سَخِيٌّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ عَالِمٍ بَخِيلٍ
Seorang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan surga dan pula dekat dengan manusia serta jauh dari neraka. Adapun orang yang kikir, ia jauh dari Allah, jauh dari surga dan jauh pula dari manusia serta dekat dengan neraka. Seorang yang bodoh tapi dermawan lebih disukai Allah daripada seorang alim tapi kikir. [HR Turmudzi]

Catatan Alvers

Hadits di atas ditemukan juga dalam Kitab Syu’abul Iman dengan berbeda redaksi pada bagian akhirnya, yaitu :
وَلَجَاهِلٌ سَخِيٌّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ من عابد بخيل
Seorang yang bodoh tapi dermawan lebih disukai Allah daripada seorang tekun beribadah tapi kikir. [HR Baihaqi]
Di dalam kitab Tahdzibul Atsar, hadits tersebut terdapat tambahan lagi pada akhirnya yaitu :
وأكبر الداء البخل
Dan penyakit terbesar adalah kikir [HR Thabari]


Kebanyakan manusia cenderung bersifat kikir, ingin memiliki banyak dan lebih banyak lagi harta sehingga ia tidak sudi memberikan sedikitpun hartanya kepada orang lain yang membutuhkan karena hal itu dianggap akan mengurangi hartanya. Mereka itulah orang yang hanya hidup bersandarkan kepada akal pikiran serta hawa nafsu. Adapun orang yang beriman dan bersandar kepada dogma maka mereka yakin bahwa apa yang diberikannya pada hakikatnya adalah untuk kepentingan diri mereka sendiri baik di dunia maupun di akhiratnya.

Diriwayatkan Anas RA bahwasannya suatu hari datanglah Seseorang miskin melaporkan masalahnya kepada Rasul saw. Ia meminta sebatang pelepah korma kepada tetangganya untuk menegakkan gubuknya yang sudah reot namun ditolaknya. Setelah mendengar laporan itu, Rasulullah langsung menemui si pemilik kurma yang kikir itu. Rasul saw bersabda kepadanya :
أَعْطِهَا إِيَّاهُ بِنَخْلَةٍ فِي الْجَنَّةِ فَأَبَى
"Berikanlah satu buah pelepah kurma kepadanya (orang miskin tadi) niscaya aku akan ganti dengan satu pohon kurma di surga”

Namun Pemilik kurma yang kikir itu tetap tidak memberikannya. Melihat hal ini, Abu D-dahdah langsung bertekad untuk membeli pohon kurma itu bagaimanapun caranya. Akhirnya, Ia berhasil membeli satu batang pohon kurma tersebut dengan cara barter dengan satu kebun miliknya. Iapun mendatangi kebunnya dan menyuruh istrinya yang sedang berada di dalamnya untuk keluar dari kebun karena kebun tersebut sudah menjadi milik orang lain. Setelah dikabari perihal barter satu batang pohon kurma surga tadi, sang istri berkata “Sungguh jual beli yang sangat menguntungkan”.
Setelah kejadian itu Rasul bersabda beluang kali :
كَمْ مِنْ عَذْقٍ رَاحَ لِأَبِي الدَّحْدَاحِ فِي الْجَنَّةِ
“Betapa indahnya pohon kurma yang diperuntukkan Abi d-dahdah di surga” [HR Ahmad]

Menurut Imam Al-Qurtubi, Karena kejadian ini Allah swt memuji Abu D-dahdah dan mengecam orang kaya yang kikir itu. Tentang Abu D-dahdah Allah berfirman:
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (7)
"Barang siapa yang memberi dan bertaqwa, dan percaya kepada berita gembira. Mama Kami akan memudahkan kepadanya jalan kemudahan" [QS Al-Lail : 5-7]
Tentang pemilik kurma yang kikir Allah swt berfirman:
وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى (8) وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى (9) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى (10) وَمَا يُغْنِي عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّى (11)
"Adapun orang yang kikir dan merasa serba ada. Dan mendustakan berita gembira, Kami akan memudahkan kepadanya jalan kesulitan. Kekayaan tiada berguna, ketika ia jatuh dalam bencana".[QS Al-Lail : 8-11]. [AL-Jami’ Li Ahkamil Qur’an]

Menyadari keberadaan manusia yang sebagian cenderung kikir namun juga ada sebagian yang dermawan serta kemampuan yang berbeda-beda maka sebenarnya di Dunia ini ada 4 tipe manusia, Pertama, Orang yang memiliki harta dan ilmu, ia beribadah dan bersedekah. Inilah tipe manusia yang paling utama. Kedua, orang yang berilmu tapi tidak berharta namun ia memiliki niat yang kukuh, ia berkata :
لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ
jika aku memiliki harta maka aku akan berbuat seperti si fulan yang dermawan itu, maka ia memiliki pahala yang sama dengan si dermawan tadi. Ketiga, Orang yang berharta namun tidak berilmu, maka ia menghabiskan hartanya untuk foya-foya. ini adalah tipe yang paling jelek. Keempat, Orang yang tidak memiliki harta juga tidak memiliki ilmu, ia berkata:
 لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ
seandainya aku memiliki harta seperti si fulan yang kaya itu (yang berfoya-foya) maka akau akan melakukan hal yang sama. Maka ia berdosa dengan dosa yang sama seperti si kaya yang berfoya-foya tadi. [Lihat HR Turmudzi]

Menjadi dermawan tidaklah harus menunggu kaya, namun apapun kondisi kita sekarang maka mulailah untuk berderma. Justru berderma di tengah keterbatasan adalah hal yang paling besar pahalanya. Seorang ulama sufi, Bisyr Al-Hafi mengatakan :
أشد الأعمال ثلاثة : الجود في القلة ، والورع في الخلوة ، وكلمة حق عند ما يخاف ويرجى
"Amal yang paling berat ada tiga: Dermawan ketika memiliki sedikit harta, Bersikap wira'i ketika sendirian, Dan mengatakan yang benar dihadapan orang ditakuti kemarahannya dan diharapkan kebaikannya."[Dalam Kitab Faidlul Qadir] Wallahu A’lam. Semoga Allah membukakan pintu hati kita sehingga menjadi mudah dan ringan untuk menyisihkan sebagian harta dan memberikannya kepada orang yang membutuhkannya.

2 komentar: