Minggu, 08 Mei 2016

PUASA QABLIYAH RAMADHAN

ONE DAY ONE HADITH

Aisyah RA berkata:
وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ
 “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW melakukan puasa satu bulan penuh kecuali puasa bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunah melebihi (puasa sunah) di bulan Sya’ban.” [HR Bukhari]

Catatan Alvers

Bulan Sya’ban telah datang, bulan di mana saat itu banyak manusia lalai dari beramal shalih, bulan di mana saat itu amal-amal dihaturkan kepada Allah tuhan  semesta alam. Kiranya alasan inilah Rasul memperbanyak berpuasa. Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid R.A, ia bertanya : “Wahai Rasulullah, kenapa aku tidak pernah melihat Anda berpuasa sunnah dalam satu bulan tertentu yang lebih banyak dari bulan Sya’ban?, Beliau SAW menjawab:
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفِلُ النَّاسُ عَنْهُ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَال إِلى رَبِّ العَالمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عملي وَأَنَا صَائِمٌ
“Ia adalah bulan di saat manusia banyak yang lalai (dari beramal shalih), antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan di saat amal-amal dibawa naik kepada Allah Rabb semesta alam, maka aku senang apabila amal-amalku diangkat kepada Allah saat aku mengerjakan puasa sunnah.” [HR. An-Nasai]

Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berpendapat : “Hadits di atas merupakan dalil keutamaan puasa sunnah di bulan Sya’ban.” [Fathul Bari] dan Imam Ash-Shan’ani berkata: Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mengistimewakan bulan Sya’ban dengan puasa sunnah lebih banyak dari bulan lainnya. [Subulus Salam] Sehingga para ulama menyimpulkan dari hadits di atas bahwa kedudukan puasa sunnah di bulan Sya’ban itu seperti kedudukan shalat sunah qabliyah bagi shalat wajib dan puasa syawwal seperti ba’diyahnya. Puasa sunnah di bulan Sya’ban akan menjadi persiapan dan pemanasan untuk puasa di bulan Ramadhan. Dengan istilah lain, Abu Bakr al-Warraq al-Balkhi menyebutkan bulan sya’ban adalah bulan mengairi, beliau berkata :
شهر رجب شهر للزرع و شعبان شهر السقي للزرع و رمضان شهر حصاد الزرع
“Rajab adalah bulan untuk menanam, Sya’ban adalah bulan untuk mengairi dan Ramadhan adalah bulan untuk memanen” [Lathaiful Ma’arif]

Ulama yang lain mengatakan bulan sya’ban adalah bulan tumbuhnya dahan :
السنة مثل الشجرة و شهر رجب أيام توريقها و شعبان أيام تفريعها و رمضان أيام قطفها و المؤمنون قطافها جدير بمن سود صحيفته بالذنوب أن يبيضها بالتوبة في هذا الشهر و بمن ضيع عمره في البطالة أن يغتنم فيه ما بقي من العمر
“Waktu setahun itu laksana sebuah pohon. Bulan Rajab adalah waktu tumbuhnya dedaunan, Syaban adalah waktu tumbuhnya dahan, dan Ramadhan adalah bulan memanen, pemanennya adalah kaum mukminin. (Oleh karena itu), mereka yang “menghitamkan” catatan amal mereka hendaklah bergegas “memutihkannya” dengan taubat di bulan ini, dan mereka yang telah menyia-nyiakan umurnya dalam kelalaian, hendaklah memanfaatkan sisa umur sebaik-baiknya (dengan mengerjakan ketaatan) di bulan tersebut. [Lathaiful Ma’arif]

Maka dari itu marilah kita perbanyak melakukan puasa dan amal shaleh di bulan ini sebagai persiapan menyambut datangnya bulan suci ramadhan. Kesunnahan puasa ini terus berlaku sampai pertengahan bulan sya’ban. Jika sudah lewat pertengahan maka berlaku hadits berikut :
إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُومُوا
“Jika tersisa separuh bulan Sya’ban, maka janganlah berpuasa.” [HR. Tirmidzi]

Berdasar hadits tersebut yang dinilai shahih oleh ibnu hibban, sayyed bakri berpendapat bahwa haram hukumnya berpuasa pada tanggal 16 Sya’ban dst. Namun keharaman ini berlaku bila puasa tersebut tidak disambungkan dengan puasa pada hari sebelumnya (15 Sya’ban). Jadi, jika disambungkan dengan puasa pada tanggal 15 dan disambung dengan puasa hari setelahnya hingga tanggal 30 Sya’ban maka tidak lagi dihukumi haram. Boleh juga berpuasa tanggal 16 Sya’ban dst juga bagi orang yang terbiasa puasa senin-kamis, puasa daud atau puasa qadha’ (baik qadha’ dari puasa wajib maupun qadha’ dari puasa sunnah), nadzar atau kifarat. Pengecualian Inilah yang kiranya merupakan istinbath hukum dari hadits yang diriwaytakan dari Abu Hurairah RA, yaitu :
لاَ يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدٌ الشَّهْرَ بِيَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ أَحَدٌ كَانَ يَصُومُ صِيَامًا قَبْلَهُ فَلْيَصُمْهُ
Janganlah seseorang mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi seseorang yang terbiasa mengerjakan puasa sebelumnya maka hendaklah ia (terus) berpuasa. [HR. Abu Daud] Wallahu A’lam. Semoga kita diberikan kekuatan oleh Allah untuk meneladani ibadah yang dicontohkan oleh baginda Nabi SAW.

0 komentar:

Posting Komentar