Minggu, 22 Mei 2016

KENIKMATAN MENGKAJI HADITS



ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit RA, Rasul SAW bersabda :
نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ
Mudah-mudahan Allah menjadikan orang yang mendengarkan hadits dariku berseri-seri wajahnya (baik akhlaknya) lalu menjaganya untuk disampaikan, berapa banyak orang menyampaikan ilmu kepada orang yang lebih berilmu, dan berapa banyak pembawa ilmu yang tidak berilmu."  [HR Abu Dawud]

Catatan Alvers

Membaca ilmu pengetahuan menjadi jendela dunia dan membaca ajaran agama adalah cahaya dalam kegelapan, teman dalam kesendirian dan pembantu dalam setiap kejadian sekaligus menjadi sarana paling penting dalam menuntut ilmu dan meraihnya. Para Salaf, menjadikan buku-buku sebagai taman dan kebun. Mereka selalu membacanya, berpindah dari satu taman ke taman yang lain, dari satu kebun ke kebun yang lain. Mereka merasakan nikmatnya membaca dan belajar melebihi semua kenikmatan dari dunia yang fana ini. Ibnul Jauzi berkata, "Jalan mencari kesempurnaan belajar ilmu adalah membaca buku-buku yang telah ditulis. Perbanyaklah membacanya. Karena anda akan melihat ilmu seseorang dan semangatnya yang tinggi. Apa yang tidak terlintas di benak, dan akan menggerakkan keinginan untuk belajar. Tidak ada kitab yang tidak memiliki manfaat." Ibnul Jauzi sendiri dam Shaidul Khathir disebutkan merasakan manisnya menuntut ilmu.


Diceritakan dari al-Jahid bahwa tatkala dia mengantuk, maka dia akan menghilangkan rasa kantuknya dengan membaca kitab. Diceritakan dari Ibnu Katsir dalam kisah Hasan bin Abi Hasan. Saat dia dijebloskan ke dalam sarang singa. Singanya tidak mau makan dia, akhirnya diapun dibebaskan. Dan orang-orangpun bertanya: “Bagaimana perasaanmu tatkala menemui singa-singa itu?” Tapi apa jawaban dia?? Dia menjawab: saya tidak takut apa-apa, karena saat itu saya sedang sibuk memikirkan perselisihan ulama tentang najis tidaknya air liur binatang buas”. Lain halnya dengan Imam Ahmad, ketika beliau dijebloskan ke dalam penjara. Dia bertemu dengan seorang ulama. Diapun bertanya tentang suatu hadits yang berkenaan dengan mengusap sepatu. Dan Orang-orang di sekitar beliau heran.kenapa Imam Ahmad tidak memikir bagaimana kehidupannya di dalam penjara. Ibnul-Khan menceritakan bahwa Imam Az-Zuhri jika masuk ke dalam rumahnya dia akan membaca tumpukan kitab sampai dia lupa akan istrinya. Sampai-sampai istrinya berkata: “sungguh kitab-kitab tersebut lebih berat bagiku dari pada madu tiga”

Subhanallah, begitu nikmatnya ilmu itu. Lantas bagaimana dengan hadits; ilmu yang besumber dari Rasul SAW. Wajarlah Nabi SAW mendoakan bagi pelajar hadits agar wajahnya berseri-seri. Karenanya, Sufyan bin Uyaiyah berkata :
ما من أحد يطلب حديثا إلا وفي وجهه نضرة
Tidak seorang pun yang mempelajari hadits kecuali wajahnya berseri-seri [Kitab Aunul Ma’bud]

Mempelajari hadits akan menjadikan kita serasa hidup di zaman Rasul SAW dan ikut larut dalam indahnya hidup di kurun terbaik. Hal inilah yang dirasakan oleh Abdullah ibn al-Mubarak. Ia dinilai memiliki suatu kebiasaan yang agak aneh menurut teman-temannya, di mana ia lebih menyukai duduk sendirian di rumahnya dari pada ngobrol bersama teman-temannya, sehingga mereka bertanya:
أَلاَ تَسْتَوحِشُ؟ فَقَالَ: كَيْفَ أَسْتَوحِشُ وَأَنَا مَعَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَأَصْحَابِهِ؟
“Apakah kamu tidak merasa galau?”. Maka ia menjawab, “Bagaimana Aku akan galau sedangkan aku bersama Rasulullah SAW dan para sahabatnya RA“, yakni mengkaji sunah Nabi SAW dan atsar para sahabat. [HR Al-Baihaqi dalam Syuabul Iman]

Keindahan hidup inilah yang sangat dirindukan para sahabat pasca ditinggal oleh Rasul saw. Mereka membisu, mulutpun kelu diam seribu bahasa bukan karena enggan bercerita namun karena kerinduan akan indahnya hidup bersama Rasul SAW yang membuat mata meneteskan air mata dan mulutpun terkunci karena hati melayang terbayang sosok pribadi indah nan sempurna. Diriwayatkan oleh Imam Fakhruddin Al-Razi, terdapat seorang fasih dari kalangan yahudi pada masa kekhalifahan Umar RA mendatanginya karena ingin mengetahui bagaimanakah akhlak Nabi Muhammad SAW. Yahudi bertanya : Ceritakanlah kepadaku akhlak Rasul kalian. Umar RA menjawab: Carilah tau dari Bilal karena ia lebih mengetahui dari pada aku. Iapun lalu mendatangi Bilal dan menanyakan hal yang sama dan bilalpun merujuk yahudi tadi agar mendatangi Fatimah RA. Sayyidah Fatimah RA juga tidak memberikan jawaban dan merujuknya kepada sayyidina Ali KW. Setelah ia mendatangi dan menanyakan hal tersebut kepada Ali maka Ali KW berkata :
صف لي متاع الدنيا حتى أصف لك أخلاقه
Coba kau ceritakan kepadaku perihal harta dunia maka baru akan kuceritakan nanti bagaimana akhlak Nabi SAW.
Yahudi menjawab : Tidaklah mudah bagiku untuk menceritakannya.
Ali KW lalu menjawab : Jika kau tidak bisa menceritakan perihal dunia padahal ia adalah kecil nilainya di sisi Allah, sebagaimana firmanNya:
قل متاع الدنيا قليل
Katakanlah : Harta dunia itu sedikit [QS An-Nisa : 77]
Sementara, Akhlak Nabi sangatlah Agung di sisi Allah sebagai mana firmanNya:
وإنك لعلى خلق عظيم
Sesungguhnya engkau berada di atas pekerti yang agung [QS Al-Qalam : 4]
Maka bagaimana aku bisa menceritakan akhlak Nabi yang begitu agung di sisi Allah swt.? [Tafsir Ar-Razi] Wallahu A’lam. Semoga kajian kita One Day One Hadith ini menjadi pelipur lara hati yang gundah gulana merindukan kehadiran sosok mulia, Rasul SAW. Semoga Allah Al-Bari membukakan pintu hati kita sehingga kita semakin cinta dan akhirnya dikumpulkan bersama beliau SAW.


0 komentar:

Posting Komentar