Jumat, 08 Mei 2020

KEMULIAAN MEMBACA AL-QURAN



ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr RA, Rasul SAW bersabda :
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ
Puasa dan Al Qur’an akan memberi syafaat bagi hamba pada hari kiamat. Puasa berkata: “Wahai tuhanku, Aku telah mencegahnya dari makan dan syahwatnya pada siang hari maka izinkan aku memberi syafaat kepadanya”. Al-Qur’an berkata: “ Aku telah mencegahnya dari tiudur pada malam hari maka izinkan aku memberi syafaat kepadanya, maka Nabi SAW bersabda : maka keduanya diizinkan memberikan syafaat. [HR Ahmad]

Catatan Alvers

Al-Qur’an adalah kalam yang mulia dari Allah yang maha mulia dan segala sesuatu akan menjadi mulia karena mendapat bagian dari kemuliannya. Syeikh Ahmad Isa Al-Mu'ashrawi Nge-tweet:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْقُرْآنِ نَزَلَ جِبْرِيْلُ بِهِ فَأَصْبَحَ أَفْضَلَ الْمَلَائِكَةِ نَزَلَ عَلىَ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم فَأَصْبَحَ سَيِّدَ الْخَلْقِ نَزَلَ عَلىَ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ فَأَصْبَحَتْ خَيْرَ أُمَّةٍ نَزَلَ فىِ رَمَضَانَ فَأَصْبَحَ خَيْرَ الشُّهُوْرِ نَزَلَ فىِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ فَأَصْبَحَتْ بِأَلْفِ شَهْرٍ فَمَاذَا لَوْ نَزَلَ فِي قُلُوبِنَا
Betapa Mulianya Al-Qur’an. Al-Qur’an dibawa turun oleh Malaikat Jibril maka ia menjadi Malaikat yang paling mulia, Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW maka beliau menjadi Makhluk paling mulia, Al-Qur’an diturunkan kepada Ummat Nabi Muhammad SAW maka mereka menjadi ummat yang paling mulia, Al-Qur’an diturunkan di bulan ramadhan maka ia menjadi bulan yang paling mulia, Al-Qur’an diturunkan pada malam lailatul qadar maka ia menjadi lebih mulia dari 1000 bulan, Trus bagaimana jika Al-Qur’an turun ke hati kita? [@elmasrw]


Subhanallah, betapa mulianya al-Qur’an itu sehingga dalam hadits dinyatakan :
أَفْضَلُ عِبَادَةِ أُمَّتِي قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ
Ibadah yang paling utama dari ummatku adalah membaca Al-Qur’an [HR Baihaqi]

Namun demikian masih saja banyak yang berat untuk membaca al-Qur’an. Tanya kenapa? Sayyidina Utsman RA berkata :
لَوْ طَهُرَتِ الْقُلُوْبُ لَمْ تَشْبَعْ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ
Jika hati itu suci maka ia tak akan pernah merasa kenyang dari membaca Al-Quran. [Ihya’ Ulumuddin]
Dan Abul Jawza’ (pembesar Ulama bashrah) berkata :
نَقْلُ الْحِجَارَةِ أَهْوَنُ عَلَى الْمُنَافِقِ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ
Mengangkut bebatuan lebih enteng bagi orang munafiq dari pada membaca al-Qur’an. [Hilyatul Awliya’]

Astaghfirullah, perbanyaklah membaca istighfar hingga Allah menjadikan hati bersih dan akhirnya semangat untuk membaca al-Qur’an, terlebih di bulan ramadhan ini karena bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Bulan dimana kita sangat dianjurkan untuk memperbanyak membacanya. Jika di bulan ini kita tidak semangat untuk membacanya maka di bulan mana lagi kita akan lebih semangat untuk membacanya?.  Jika ramadhan tiba, Imam Az-Zuhri (pembesar tabi’in) berkata :
فَإِنَّمَا هُوَ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ
Bulan ini hanyalah untuk membaca al-Qur’an dan Memberikan makanan [Lathaiful Ma’arif]

Rabi’ bin sulaiman berkata : Imam Syafi’i menghatamkan al-Qur’an sebanyak 30 kali setiap bulannya namun pada bulan ramadhan beliau mengkhatamkan 60 kali, selain al-Qur’an yang beliau baca ketika shalat. [Ma’rifatus Sunan Wal atsar lil Bayhaqi] begitu pula imam Ahmad bin Hanbal [Lathaiful Ma’arif]

Jika tidak bisa membaca al-Qur’an sebanyak itu maka hendaknya tidak kurang dari batas minimalnya. Abul Laits berkata : “Seyogyanya seseorang itu mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak dua kali selama setahun jika tidak bisa lebih”. Dan Abu hanifah berkata :
مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي كُلِّ سَنَةٍ مَرَّتَيْنِ فَقَدْ أَدَّى حَقَّهُ
“Barang siapa membaca al-Qur’an dengan khatam dua kali setahun maka ia telah menunaikan haknya al-Qur’an”.
Dan Imam Ahmad berkata : “Makruh hukumnya mengkhatamkan al-Qur’an lebih dari 40 hari tanpa adanya udzur”. [Fathul Muin]

Di bulan ini, sangat dianjurkan pula “mudarasah” atau dalam tradisi jawa dikenal dengan “darusan”.  Yaitu :
بِأَنْ يَقْرَأَ عَلَى غَيْرِهِ وَيَقْرَأَ عَلَيْهِ غَيْرُهُ
Seseorang membaca al-Qur’an di hadapan orang lain, dan orang lain membaca al-Qur’an di hadapannya. (secara bergantian). [I’anatut Thalibin]

Hal ini sebagaimana dilakukan oleh Baginda Nabi SAW dan malaikat Jibril AS. Ibnu Abbas RA berkata:
وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ
dan Malaikat Jibril menemui beliau di setiap malam bulan Ramadhan untuk mudarasah Al-Qur’an. [HR Bukhari]

Adapun mengenai waktunya, Imam Nawawi berkata : Waktu yang paling mulia untuk membaca Al-Qur’an pada selain saat shalat adalah malam hari, separoh malam yang kedua lebih utama dari separoh malam yang pertama, Membaca Al-Qur’an antara maghrib dan isya adalah mahbubah (disenangi), Adapun di siang hari maka yang paling utama adalah setelah shalat subuh, diantara hari yang terpilih yaitu hari jumat, senin, kamis, hari arafah, dari 10 hari adalah 10 hari pertama dzul hijjah dan 10 hari terakhir bulan ramadhan dan bulan yang terpilih adalah bulan ramadhan. [Al-Adzkar]

Betapapun seorang mukmin itu baik namun jika tidak gemar membaca al-Qur’an maka ia akan memiliki kekurangan. Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari, Rasul SAW bersabda :
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الْأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ
Perumpamaan orang mukmin yang suka membaca al-Quran ialah seperti buah jeruk utrujjah, baunya enak dan rasanya pun enak dan perumpamaan orang mukmin yang tidak suka membaca al-Quran ialah seperti buah kurma, tidak ada baunya, tetapi rasanya manis. Adapun perumpamaan orang munafik yang suka membaca al-Quran ialah seperti dedaunan rayhanah, baunya enak sedang rasanya pahit dan perumpamaan orang munafik yang tidak suka membaca al-Quran ialah seperti buah hanzhalah, tidak ada baunya dan rasanyapun pahit. [HR Muslim]

Wallahu A'lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati kita untuk terus gemar membaca al-Quran terutama di bulan ramadhan ini sehingga keduanya memberikan kepada kita syafaat di hari kiamat nanti.

Salam Satu Hadits,
Dr. H. Fathul Bari, S.S.,M.Ag

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa Wisata
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren Lho!

NB.
Hak cipta berupa karya ilmiyah ini dilindungi oleh Allah SWT. Dilarang mengubahnya tanpa izin tertulis. Silahkan Share tanpa mengedit artikel ini. Sesungguhnya orang yang copas perkataan orang  lain tanpa menisbatkan kepadanya maka ia adalah seorang pencuri atau peng-ghosob dan keduanya adalah tercela [Imam Al-haddad]

0 komentar:

Posting Komentar