Jumat, 01 Mei 2020

DOA MUSTAJABAH PUASA


ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :
ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
Ada tiga golongan yang doanya tidak ditolak,  orang yang berpuasa sampai berbuka, pemimpin yang adil dan orang yang didzalimi.” [HR Tirmidzi]

Catatan Alvers

Bulan Ramadhan adalah bulan dimana doa-doa dikabulkan sehingga kita dianjurkan untuk memperbanyak berdoa. Syeikh Muhammad As-Safarini berkata : Sebaiknya seseorang mencari waktu-waktu mustajabah untuk berdoa seperti malam laylatul qadar, hari arafah, bulan ramadhan dst. [Ghidaul Albab]

Imam Nawawi berkata :
يُسْتَحَبُّ لِلصَّائِمِ أَنْ يَدْعُوَ فِي حَالِ صَوْمِهِ بِمُهِمَّاتِ الْآخِرَةِ وَالدُّنْيَا لَهُ وَلِمَنْ يُحِبُّ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ
Dianjurkan bagi orang yang berpuasa untuk berdoa dalam kondisi berpuasa dengan memohon perkara-perkara penting dari urusan akhirat dan dunia untuk dirinya dan orang-orang yang dicintainya serta untuk kaum muslimin. [Al-Majmu’]
Hal ini dikarenakan terdapat dalam hadits utama di atas. As-sindi berkata : Hadits ini menunjukkan bahwa doa orang yang berpuasa sepanjang siangnya adalah mustjabah.  [Hasyiyah As-Sindi]


Dalam Al-Quran yang menerangkan masalah puasa yaitu dalam QS Al-Baqarah ayat 183-187 kalau kita perhatikan tidak semua ayat tersebut membicarakan tentang puasa. Ayat 183 menyatakan kewajiban berpuasa sebagaimana puasa ummat terdahulu. Kemudian Ayat 184 menyatakan keringanan meninggalkan puasa. Ayat 185 menyatakan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an dan kewajiban berpuasa bagi orang yang melihat hilal ramadhan. Dan ayat selanjutnya adalah :
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. [QS Al-Baqarah: 186]

Perhatikanlah, ayat ini tidaklah membicarakan puasa melainkan membicarakan tentang status Allah yang dekat dengan hamba-hamba-Nya dan mengabulkan doa. Lalu dilanjutkan dengan Ayat 187 yang membicarakan tentang kebolehan bergaul suami istri dan makan minum pada malam hari ramadhan hingga waktu fajar tiba.

Keberadaan ayat doa dimana Allah mengijabahi permohonan orang yang berdoa  di tengah-tengah ayat yang menerangkan puasa ramadhan seakan-akan menjadi isyarat bahwa doa di tengah bulan ramadhan itu mustajabah, dikabulkan Allah SWT sehingga bulan ramadhan dinobatkan sebagai bulan doa,waktu yang paling agung untuk berdoa dan paling besar segala doa untuk dikabulkan di dalamnya.

Menguatkan keberadaan doa mustajabah di bulan ramadhan, At-Tirmidzi berkata : Ayat “Ud’uni Astajib lakum” (berdoalah kepadaku niscaya aku kabulkan untuk kalian) [QS Ghafir : 60] pada awalnya ayat ini diperuntukkan untuk para nabi namun kemudian diberikan kepada Ummat ini sebagai keistimewaan Ummat Nabi Muhammad SAW. Namun tatkala urusan mereka tercampur baur dengan syahwat yang menguasai hati mereka, maka hal ini menyebabkan mereka terhalang. Puasa menjadikan seseorang terbebas dari syahwatnya dan jika seseorang hatinya bersih dari syahwat maka hatinya akan bening sehingga ia dapat berdoa dengan hati yang bersih dari kegelapan syahwat serta dipenuhi dengan cahaya maka saat itulah doanya mustajabah. [Hasyiyah As-Sindi]

Dalam hadits yang lain, Rasul SAW bersabda :
إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ
Sesungguhnya orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak pada saat berbuka. [HR Ibnu Majah]

Hadits ini menegaskan bahwa waktu berbuka merupakan waktu yang mustajabah. Hal ini dikuatkan oleh hadits di atas dalam versi yang lain. Maksudnya hadits riwayat Tirmidzi di atas dengan nomor 3255 memakai kalimat “hatta Yufthir” yang artinya “sehingga”, itu artinya mengisyaratkan orang yang sedang berpuasa sampai ia berbuka. Namun dalam riwayat Tirmidzi yang lain dengan nomor 2499 ditulis “Hina Yufthir” yang artinya “ketika berbuka”. Yaitu :
ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
Ada tiga golongan yang doanya tidak ditolak,  orang yang berpuasa ketika berbuka, pemimpin yang adil dan orang yang didzalimi.” [HR Tirmidzi]

Al-Mubarakfuri berkata :
وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ لِأَنَّهُ بَعْدَ عِبَادَةٍ حَالَ تَضَرُّعٍ وَمَسْكَنَةٍ
orang yang berpuasa ketika berbuka (doanya mustajabah) dikarenakan saat itu adalah saat rampungnya ibadah dalam kondisi merendahkan hati dan penuh kelemahan. [Tuhfatul Ahwadzi]

Kalimat “Inda” dan “Hina” keduanya bermakna ketika, yang menjadi pertanyaan kapankah kita membaca doanya? Apakah sebelum makan, ketika makan atau setelah makan buka puasa? Menjelaskan hal tersebut, Sayyed Bakri berkata :
وَيُسَنُّ أَنْ يَقُوْلَ أي الْمُفْطِرُ عَقِبَ الْفِطْرِ أي عَقِبَ مَا يَحْصُلُ بِهِ الْفِطْرُ لَا قَبْلَهُ وَلَا عِنْدَهُ
Disunnahkan bagi orang yang berbuka untuk membaca doa setelah berbuka maksudnya setelah membatalkan puasa (dengan meminum seteguk air atau sesuap nasi), bukan sebelum makan atau ketika makan. [I’anatut Thalibin]
Redaksi tersebut memakai kata “Aqiba al-Fithr”, begitu pula yang digunakan dalam kitab As-Sirajul Wahhaj, Mughnil Muhtaj. Diksi Kata “Aqiba” (setelah) itu lebih tepat digunakan dari pada kata “Inda” (ketika) karena kata “inda” juga bisa diartikan “sebelum”. [Hasyiyah Al-Jamal] dan kitab Al-Minhajul Qawim memilih kata “Ba’da al-Ifthar” (setelah berbuka). Alasan lain adalah dikarenakan doa buka puasa berbunyi “wa Ala Rizqika Afthartu” (dan hanya dengan rizkimu, Aku telah berbuka) [Fathul Wahhab] yang artinya doa itu dibaca setelah ifthar.

Lantas doa apa yang dibaca ketika Ifthar? Banyak Doa yang dibaca Rasul saat ifthar, diantara adalah doa yang familier kita kenal adalah :
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
Ya Allah, Hanya karena-Mu aku berpuasa dan hanya dengan rizki-Mu aku berbuka puasa [HR Abu Dawud]

Di era medsos ini, marak share meme berbunyi “Doa ini salah! doa tersebut bersumber dari hadits dla’if alias lemah sehingga tidak boleh dipergunakan”. Dan dalam satu situs internet dikatakan : “Doa Berbuka yang Tidak Benar. Terdapat satu doa berbuka yang tersebar di masyarakat, namun doa bersumber dari hadis yang lemah (Yaitu Allahumma Laka Shumtu). Sebagai muslim yang baik, selayaknya kita cukupkan doa setelah berbuka dengan doa yang shahih ini (yakni Dzahabad Dzama’u yang dinilai hasan oleh albani), dan tidak memberi tambahan dengan redaksi yang lain”. 

Hal ini tidaklah benar. Pembuatnya lupa atau tidak mengerti perbedaan antara hadits dla’if (lemah) dan hadits Mawdlu’ (palsu). Hadits tersebut memang lemah sedangkan hadits lemah masih bisa dipergunakan untuk urusan keutamaaan amalan seperti doa. Jadi hadits tersebut lemah bukan palsu, bahkan dalam footnoote kitab Al-Adzkar yang ditulis oleh Syeikh Abdul Qadir Al-arnauth, Syeikh rujukan salafi Pengganti Nashiruddin Albani sekeluarnya dari suriah [wiki], disebutkan :
وَلَكِنْ لَهُ شَوَاهِدُ قَوِيَ بِهَا
Akan tetapi hadits tersebut memiliki beberapa “syahid” (hadits dari riwayat lain) yang menguatkannya. [Al-Adzkar Versi Maktabah Syamilah]

Dalam riwayat lain terdapat lanjutan do’a :
فَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Maka terimalah (ibadah puasa) dariku, sungguh Engkau maha mendengar dan mengetahui [HR Daruqutni]

Ada baiknya juga ditambahi, doa berikut :
ذَهَبَ الظَّمَـأُ وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ
Telah hilang dahaga dan urat-urat telah basah serta telah diraih pahala, insya Allah. [HR Abu Daud]

Dan doa lainnya diriwayatkan dari Abdullah bin Abi Mulaikah, bahwasannya ketika berbuka puasa Abdullah bin Amr bin Ash RA membaca doa :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي
Ya Allah, Aku memohon rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu agar Engkau mengampuni aku. [HR Ibnu Majah]
Wallahu A'lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati kita untuk terus beribadah dalam ramadhan dan menggunakan sebagai kesepatan emas untuk berdoa dengan keyakinan bahwa doa-doa kita pastilah suatu saat akan dikabulkan sesuai janji-Nya.

Salam Satu Hadits,
Dr. H. Fathul Bari, S.S.,M.Ag

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Serasa Wisata Setiap Hari
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren Lho!

NB.
Hak cipta berupa karya ilmiyah ini dilindungi oleh Allah SWT. Dilarang mengubahnya tanpa izin tertulis. Silahkan Share tanpa mengedit artikel ini. Sesungguhnya orang yang copas perkataan orang  lain tanpa menisbatkan kepadanya maka ia adalah seorang pencuri atau peng-ghosob dan keduanya adalah tercela [Imam Alhaddad]

0 komentar:

Posting Komentar