Selasa, 05 Mei 2020

TEMAN YANG BAIK



ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda :
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ
“Seseorang itu (biasanya) mengikuti agama teman dekatnya, maka hendaklah setiap orang melihat siapa yang ia jadikan teman” [HR Ahmad]

Catatan Alvers

Salah satu meme viral tentang hakikat teman berbunyi "Teman itu adalah 1000 orang yang datang saat kamu senang, sementara pacar adalah satu orang yang membuat kamu lupa 1000 orang. Sementara sahabat adalah satu orang yang selalu ada di saat 1001 orang melupakan anda" . [Meme Gus Miftah] Sahabat atau teman yang baik bahkan terkadang diistilahkan sebagai saudara, ia akan tetap dekat denganmu meskipun di saat banyak teman lain menjauh di saat kau jatuh. M Khalaf At-Taymi berkata :
وَلَيْسَ أَخِي مَنْ وَدَّنِي بِلِسَانِهِ ::  وَلَكِنْ أَخِي مَنْ وَدَّنِي فِي النَّوَائِبِ
Bukanlah saudaraku, orang yang mengasihi hanya dengan lisannya akan tetapi saudaraku adalah orang yang mengasihiku ketika musibah melanda. [Al-Uzlah lil Khatthabi]


Keliru jika engkau menyangka bahwa sahabat atau teman sejati itu adalah orang yang senantiasa cocok dengan pendapatmu dan terus memujimu, ketahuilah teman sejati adalah orang yang jujur padamu, jika kamu benar ia akan mendukungmu namun jika kamu salah maka ia akan menyalahkanmu, menegurmu dan meluruskanmu. Sebagaimana dikatakan :
صَدِيْقُكَ مَنْ صَدَقَكَ لَا مَنْ صَدَّقَكَ
Temanmu adalah orang yang meluruskanmu, bukan orang yang selalu membenarkanmu.

Teman dalam bahasa arab disebut dengan “shadiq” yang berasal dari kata “shidq” yang berarti jujur, bisa dipercaya, baik dan sungguh-sungguh. Kiranya demikianlah adanya, bukankah pertemanan itu akan langgeng bila sang “shadiq” (teman) itu berlaku “shidq” yaitu jujur, bisa dipercaya, baik dan sungguh-sungguh.

Jadi janganlah keliru, jika salah seorang dari temanmu menergurmu itu bukan berarti ia membencimu, justru sebaliknya kau harus berterima kasih kepadanya karena sesungguhnya dialah teman sejatimu yang sedang menunaikan tugasnya. Amirul Mukminin, Umar bin Khattab RA berkata :
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ فِيْكُمْ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ مَنِ الَّذِي إِذَا رَأَى مِنِّي أَمْرًا يُنْكِرُهُ قَوَّمَنِي
Segala puji bagi Allah yang menjadikan di antara kalian khususnya para sahabat Nabi; orang yang tatkala melihat perkara yang diingkarinya dariku maka ia meluruskanku (menegurku). [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah]

Bukanlah teman yang baik, mereka yang tidak mau menegur kita secara pribadi malahan membicarakan kesalahan kita di hadapan orang lain. Penyair berkata :
لَيْسَ الْكَرِيْمُ الَّذِي إِنْ زَلَّ صَاحِبُهُ :: أَفْشَى وَقَالَ عَلَيْهِ كُلَّ مَا كَتَمَا
Bukanlah orang yang mulia, orang yang tatkala temannya berbuat salah maka ia menyebarkan kesalahnnya dan membuka aib yang disimpannya. [Kasyful Khafa’]

Maka dalam perihal “shidq” yaitu jujur, bisa dipercaya, baik dan sungguh-sungguh haruslah sama-sama ada di antara seseorang dan temannya. Jadi kitapun harus berprilaku baik seperti dia, jangan hanya menuntut kebaikan dari teman kita. Dalam hadits lain disebutkan :
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، وَلَا خَيْرَ فِي صُحْبَةِ مَنْ لَا يَرَى لَكَ مِنَ الْحَقِّ مِثْلَ الَّذِي تَرَى لَهُ
Seseorang itu (biasanya) mengikuti agama teman dekatnya, Tidak ada kebaikan dalam berteman dengan seseorang yang tidak melihat (adanya) kebenaran pada dirimu sebagaimana engkau melihat  (adanya) kebenaran pada dirinya. [Musnad As-Syihab Al-Qadla’i]

Maka tidak dipungkiri betapa teman itu akan mempengaruhi hidup kita bahkan agama kita sehingga kita harus berhati-hati dalam memilih teman.  Abdullah Ibnu Mas’ud berkata :
وَلَا عَلَيْكَ أَنْ لَا تَصْحَبَ أَحَدًا إِلَّا مَنْ أَعَانَكَ عَلَى ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
Janganlah berteman kecuali orang yang dapat membantumu untuk mengingat Allah Azza Wa Jalla [Syuabul Iman]

Dan Seorang penyair, ‘Ady bin Zaid berkata :
عَنِ الْمَرْءِ لاَ تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِيْنِهِ :: فَكُلُّ قَرِيْنٍ بِالْمُقَارِنِ يَقتَدِيْ
إذَا كُنْت فِي قَوْمٍ فَصَاحِبْ خِيَارَهُمْ :: وَلاَ تَصْحَبْ اْلأَرْدَى فَتَرْدَى مَعَ الرَّدِي
Jangan tanyakan identitas kepada orangnya, akan tetapi tanyakanlah siapa teman karibnya; sebab seseorang itu akan mengikuti (perilaku) temannya.
Jika engkau berada di tengah-tengah suatu kaum, maka bertemanlah dengan orang-orang terbaik di antara mereka; dan janganlah berteman dengan yang paling buruk, sehingga engkau akan jatuh bersama mereka [Adabud Dunya wad Din]

Jika engkau sudah punya teman yang baik maka jagalah pertemanan tersebut. Sayyidina Umar RA berkata :
مَا أُعْطِيَ عَبْدٌ بَعْدَ الْإِسْلَامِ خَيْراً مِنْ أَخٍ صَالِحٍ إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ وُدّاً مِنْ أَخِيْهِ فَلْيَتَمَسَّكْ بِهِ، فَقَلَّمَا تُصِيْبُ ذَلِكَ
“Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (teman) yang shalih (baik). Apabila engkau mendapati pertemanan sejati dari sahabatnya maka pegang lah erat-erat karena karena itu sedikit sekali ditemukan.” [Qutul Qulub]

Ternyata teman yang baik itu tidak hanya dapat memberikan pertolongan di dunia, bahkan ia akan memberikan pertolongan di akhirat kelak. Sayyidina Ali KW berkata :
عَلَيْكُمْ بِالْإِخْوَانِ فَإِنَّهُمْ عُدَّةُ الدُّنْيَا وَعُدَّةُ الْآخِرَةِ؛ أَلَا تَسْمَعُ إِلَى قَوْلِ أَهْلِ النَّارِ :  فَمَا لَنَا مِنْ شَافِعِينَ وَلاَ صَدِيقٍ حَمِيمٍ
Peganglah erat-erat teman-teman kalian sebab mereka itu menjadil “bekal” baik di dunia maupun di akhirat. Tidakkah engkau mendengar ucapan ahli neraka “Maka kami tidak mempunyai pemberi syafaat seorang pun, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab (yang dapat memberi pertolongan). [QS As-Syu’ara : 100-101] [Tafsir Qurthubi]

Dalam hadits yang panjang, Rasul SAW bersabda : “...tidaklah salah seorang dari kalian lebih gigih memohon kepada Allah di dalam menuntut hak pada hari kiamat melebihi orang-orang mukmin yang memintakan pertolongan untuk teman-temannya yang berada di dalam neraka, mereka berseru ;
رَبَّنَا كَانُوا يَصُومُونَ مَعَنَا وَيُصَلُّونَ وَيَحُجُّونَ
wahai rabb kami, mereka selalu berpuasa bersama kami, salat bersama kami, dan berhaji bersama kami.”

Maka dikatakan kepada mereka;
أَخْرِجُوا مَنْ عَرَفْتُمْ
“keluarkanlah (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.”

Maka ahli neraka itu sulit dikenali karena lama terpanggang di neraka, kemudian mereka mengeluarkan begitu banyak orang yang telah di bakar neraka sampai pada pertengahan betisnya dan sampai kedua lututnya. Kemudian mereka berkata;
رَبَّنَا مَا بَقِيَ فِيهَا أَحَدٌ مِمَّنْ أَمَرْتَنَا بِهِ
“wahai rabb kami tidak tersisa lagi seseorang pun yang telah engkau perintahkan kepada kami.” [HR Muslim]

Wallahu A'lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati kita untuk terus menjaga hubungan dengan teman-teman yang baik yang bisa memberi pertolongan dunia dan akhirat.

Salam Satu Hadits,
Dr. H. Fathul Bari, S.S.,M.Ag

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Serasa Wisata Setiap Hari
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren Lho!

NB.
Hak cipta berupa karya ilmiyah ini dilindungi oleh Allah SWT. Dilarang mengubahnya tanpa izin tertulis. Silahkan Share tanpa mengedit artikel ini. Sesungguhnya orang yang copas perkataan orang  lain tanpa menisbatkan kepadanya maka ia adalah seorang pencuri atau peng-ghosob dan keduanya adalah tercela [Imam Alhaddad]

0 komentar:

Posting Komentar