Saturday, June 18, 2016

PUASA DAN SABAR



ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :
لِكُلِّ شَيْءٍ زَكَاةٌ وَزَكَاةُ الْجَسَدِ الصَّوْمُ زَادَ مُحْرِزٌ فِي حَدِيثِهِ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصِّيَامُ نِصْفُ الصَّبْرِ
Segala sesuatu memiliki Zakat, adapun zakatnya badan adalah puasa. Perawi Muhriz menambahkan hadits, Rasul SAW bersabda : Puasa itu separoh Kesabaran{HR Ibnu Majah]

Catatan Alvers

Berdasarkan hadits ini, Imam Ghazali mengatakan bahwa posisi ibadah puasa adalah seperempat bagian dari iman. Sehingga barang siapa yang tidak puasa maka imannya kurang seperempat. Bagaimana bisa demikian? Lihatlah sabda Nabi di atas yang berbunyi “ الصوم نصف الصبر” puasa merupakan setengah dari kesabaran. Dan hadits berikut “ الصبر نصف الإيمان ” sabar adalah setengah dari iman. Dari sini menjadi jelas secara matematis, puasa adalah seperempat bagian dari iman. [Ihya Ulumiddin]

Puasa identik dengan kesabaran, bahkan semua jenis kesabaran terdapat dalam ibadah puasa. Bukankah sabar ada tiga macam yaitu sabar dalam menjalani ketaatan, sabar dalam menjauhi larangan dan sabar dalam menghadapi taqdir Allah yang terasa menyakitkan. Dan sekarang lihatlah kesabaran yang dijalani orang yang berpuasa. (1) orang yang berpuasa menahan sabar dalam melakukan ketaatan, (2) ia-pun sabar dalam menjauhi larangan Allah seperti menjauhi berbagai macam syahwat dan nafsu. (3) ia juga sabar terhadap rasa sakit yang harus dilalui saat menjalani puasa seperti rasa lapar, dahaga, dan badan yang terasa lesu dan lemas. [Latha’if Al-Ma’arif]


Sungguh besar pahala yang didapat oleh orang yang bersabar. Ia akan mendapat balasan sebagaimana difirmankan oleh Allah swt :
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dibalas dengan pahala tanpa batas.” (QS Az-Zumar [39]: 10)
Seperti itu pulalah yang didapat oleh orang yang berpuasa, maka itulah rahasia mengapa Allah berfirman dalam hadits qudsy :
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى
 “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”.[HR Bukhari]
Lebih jelas lagi, dalam riwayat lain disebutkan :
وَالصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ
“Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan  puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya” [HR Ahmad]

Puasa dan sabar tidaklah bisa dipisahkan meskipun hakikat keduanya berbeda sebab kalau puasa itu untuk Allah (As-Shaumu Li) maka sabar sebenarnya untuk manusia. Betapa tidak manfaat sabar akan kembali kepada diri sendiri. Sabar dapat menjadikan hidup ini penuh kesejukan, kedamaian, dan mendorong tercapainya cita-cita, menumbuhkan semangat hidup dan tidak mudah putus asa, mendapatkan kebahagiaaan, dan terhindar dari hal-hal yang buruk dan jauh dari masalah bahkan konflik.

Di satu pagi, seorang guru bijak berjalan melintasi sebuah desa. Tiba-tiba, langkahnya dihentikan oleh seorang pemuda yang bertubuh besar, beraut wajah marah dan tampak tidak senang."Hei," katanya kasar. "Anda itu tidak berhak mengajari orang lain!" Tak berhenti di situ, pemuda ini terus berteriak menantang dan menghina guru bijak ini. "Tahu tidak? Anda ini sama saja bodohnya dengan orang lain. Punya kepandaian sedikit saja, sudah sok tahu! Badan begitu kecil nyalimu cukup besar ya. Ayoo... kalau berani kita berkelahi!" Mendapat "serangan" dari orang yang tak dikenalnya, sang guru muda justru tersenyum dan berkata, "Teman, Bolehkah aku bertanya keapdamu? Jika kamu memberi hadiah untuk seseorang, tapi seseorang itu tidak mengambilnya, siapakah pemilik hadiah itu?" Si pemuda terkejut, karena tiba-tiba diberi pertanyaan yang aneh. Spontan, ia menjawab lantang, "Pertanyaan bodoh! Tentu saja hadiah itu tetap menjadi milikku karena akulah yang memberikan hadiah itu." Guru bijak ini tersenyum, lalu berkata, "Kamu benar sekali. Kamu baru saja memberikan “hadiah” marah dan hinaan kepadaku dan aku tidak mengambilnya, apalagi merasa terhina. Maka kemarahan dan hinaan itu pun kembali kepadamu. Dan kamu menjadi satu-satunya orang yang tidak bahagia. Bukan saya, karena sesungguhnya, melampiaskan emosi kemarahan adalah sebuah proses menyakiti diri sendiri. Membangkitkan sel-sel negatif di dalam diri" Pemuda itu terdiam, mencoba mencerna kata demi kata sang guru. Perlahan tapi pasti, kepala dan hatinya seperti tersiram air dingin, ketika mendapat sebuah kesadaran baru. Sebelum meninggalkan sang pemuda ini, sang guru bijakpun menyampaikan sebuah “Closing Remarks” untuknya, "Jika kamu ingin berhenti menyakiti diri sendiri singkirkan kemarahan dan ubahlah menjadi cinta kasih. Ketika kamu membenci orang lain, dirimu sendiri tidak bahagia bahkan tersakiti secara alami. tetapi ketika kamu mencintai orang lain, semua orang menjadi bahagia."  Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita agar senantiasa bersabar dalam segala hal sehingga kita mendapatkan balasan tak terhingga yang dijanjikan-Nya.

0 komentar:

Post a Comment