Selasa, 28 Juni 2016

HIU KEHIDUPAN



ONE DAY ONE HADITH

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah RA, ia berkata : tiga hari sebelum meninggalnya Rasulullah SAW, aku mendengar beliau bersabda :
لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ
Janganlah seorang diantara kalian meninggal kecuali dia telah berbaik sangka kepada Allah “ (H.R. Muslim)

Catatan Alvers

Suka dan duka silih berganti dalam kehidupan ini. Kewajiban kita adalah tetap husnudzan kepada Allah meski kondisi yang ada tidak sesuai harapan bahkan terbalik 180 derajat. Husnudzan adalah berpikiran positif, berpandangan mulia terhadap sesuatu yang terjadi di hadapannya karena keyakinan kepada sang pencipta bahwa ia adalah maha pengasih dan penyayang. Orang yang berhusnudzan akan selalu berperasangka baik dan selalu berpikiran positif terhadap sesuatu yang menimpa dirinya, meskipun sesuatu itu sangat membebaninya.


Orang yang memiliki sikap perilaku husnudzan tidak akan mudah mengkambing-hitamkan orang lain dengan tujuan menutupi kelemahan dan kekurangan dirinya sendiri. Sebaliknya, jika ada sesuatu menimpa dirinya, ia segera melakukan koreksi terhadap dirinya sendiri, dan selanjutnya Ia akan “legawa” dengan apa yang menimpanya bahkan hebatnya ia meyakini bahwa dibalik hal tersebut mesti ada hikmah yang luar biasa yang diberikan Allah swt. Ia berpedoman kepada firman Allah :
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” [QS Al-Baqarah: 216]

Orang yang berhusnudzan akan selalau berpikiran positif bahwa apapun kejadian berat atau musibah yang menimpanya adalah kebaikan dari Allah untuknya. Ia beranggapan bahwa Allah mengirimkan masalah-masalah dalam hidupnya justru untuk memberinya maslahat. Ada sebuah analogi menarik tentang hal ini. Orang-orang jepang dikenal sebagai penggila makan ikan. Kebutuhan konsumsi ikan sangatlah besar setiap harinya, sehingga jumlah ikan diperairan jepang berkurang drastis. Akibatnya nelayan jepang harus menempuh perjalanan selama 1 minggu bolak-balik untuk menangkap ikan. Minggu pertama para nelayan membawa ikan yang sudah mati dan diberikan es sebagai pengawet, akan tetapi ikan tangkapan mereka tidak laku. karena orang jepang tidak suka makan ikan beku. Minggu kedua para nelayan, berinisiatif membuat kolam besar di tengah kapal, ikan yang ditangkap dimasukkan ke kolam dan pada saat dijual di daratan, ikan tangkapan mereka dibeli dengan harga murah karena ikannya sudah banyak yang lemes dan mati. Minggu berikutnya sang nelayan berpikir keras untuk menemukan bagaimana caranya supaya ikan tetap hidup dan segar sampai di daratan. Akhirnya para nelayan menemukan ide yaitu ketika beberapa hari dalam perjalanan ke daratan saat ikan-ikan yang di kolam sudah mulai lemas dan malas bergerak, para nelayan segera melepas seekor ikan hiu kecil yang langsung mengejar ikan-ikan di kolam, merasa nyawanya terancam sang ikan terus bergerak kesana kemari di dalam kolam hingga sampai di daratan. dan ketika dijual, ikan hasil tangkapan nelayan dibeli dengan harga mahal karena kondisinya masih hidup dan segar.

Orang yang berhusnudzan akan menganggap bahwa semua masalah yang mengejarnya bahkan yang menimpanya itu tak ubahnya seperti hiu-hiu kecil yang dilepas sang nelayan yang memaksanya untuk bergerak, berpikir kreatif sehingga ia bisa survive dalam kehidupannya. Maka jadikanlah “masalah” seperti adanya orang-orang yang membenci, sirik dan memusuhi anda bahkan tantangan dan rintangan sebagai hiu-hiu yang memacu anda tambah maju bukan malah menjadikan anda lemah dan mundur serta putus asa. So mulai sekarang katakan dalam diri anda tatkala ada masalah: "alhamdulillah ala kulli hal" Tetap smangat, pastilah Allah menghendaki kebaikan dari setiap masalah yang diberikan kepada kita.

Tidak hanya ketika hidup kita berhusnudzan kepada Allah bahkan ketika mau matipun kita harus tetap husnudzan kepada-Nya. Diriwayatkan dari Anas RA bahwa Rasul SAW menjenguk seorang pemuda yang sedang menghadapi kematiaanya. Rasul SAW bertanya kepadanya : Bagaimana perasaanmu (kepad Allah)?, Pemuda menjawab: Ya Rasul, Demi Allah Aku mengharap (rahmat) Allah dan aku takutkan (siksa Allah karena) dosa-dosaku. Maka Rasul bersabda :
لَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ
Tidaklah berkumpul kedua perkara tersebut dalam hati seseorang pada saat (menghadapi kematian seperti) ini kecuali Allah akan memberikan harapannya dan menjauhkan dari apa yang ditakutkannya [HR Turmudzi] Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk bisa berhusnudzan kepada Allah sehingga kita sukses dalam kehidupan bahkan kematian kita nantinya.

1 komentar: